Beberapa hari belakangan, jagat maya diramaikan dengan viralnya percakapan video antara Sugi Nur dengan Refly Harun. Video tersebut sengaja disebar melalui akun Youtube Refly, pada Minggu (18/10/20). Dalam percakapannya, tak jarang Sugi melontarkan hinaan bahkan cacian kepada ulama dan kiai. Hal ini tentu tak pantas jika dilontarkan pada seorang yang berlabel ‘Gus’. Pasalnya, ujaran kebencian yang dilakukan Sugi bukan kali pertama, jika melihat setiap ceramah Sugi kerap kali isinya mengutip rujukan yang keliru atau dalil logis yang dipaksakan. Banyak orang kemudian bertanya, kenapa bisa tugas dakwah atau penceramah jatuh kepada sosok ustadz yang sama sekali tidak kapabel?
Sugi Nur bukan yang pertama, dan sepertinya bukan akan jadi yang terakhir, juga bukan yang paling berpengaruh sebab tak sedikit ustadz yang ‘mirip’ Sugi Nur, akan tetapi, viralnya para ustadz ini bagaimanapun membuat otokritik tentang nasib otoritas keagamaan yang kembali mengemuka dan mendesak untuk ditanyakan kembali. Proses menyampaikan pengetahuan keagamaan mulai berubah mengikuti ritme gerak zaman. Hal ini tentu berpengaruh pada pola ceramah para ustadz di media sosial yang sedang viral.
Sebenarnya, internet menjadi cara paling praktis dan banyak digandrungi masyarakat sebagai sarana mendapatkan informasi dan pengetahuan, tak terkecuali pengetahuan keagamaan. Apabila kita cermati dari berbagai fase dan metode ceramah, persoalan otoritas dan kredibilitas dalam penyampaian dakwah menjadi hal sangat penting. Pada masa penyampaian lisan dan tulisan misalnya, tidak semua orang bisa menyampaikan pengajaran apalagi fatwa keagamaan sembarangan. Kategori ulama dan mujtahid sangat ketat dilakukan sehingga tidak diragukan lagi kredibilitasnya dan validitas ilmu agama yang layak diikuti dan dipertanggungjawabkan.
Meminjam ungkapan dari Wilfred Smith dalam bukunya yang berjudul, The Meaning End of Religion (1962) yang menegaskan bahwa diberbagai tempat dan berbagai kesempatan isu yang paling menantang, dan paling penting bagi manusia abad ke-20 adalah bagaimana mengubah our nascent world society (masyarakat dunia yang baru saja tumbuh dan muncul) menjadi a world community (sebuah komunitas dunia) yang multi-religius sebab nantinya agama lah yang akan memecah belah manusia menjadi sekte-sekte dan kelompok yang berbeda-beda, bahkan saling bertentangan dan bersebrangan.
Pada saat yang sama juga, media sosial pun diriuhkan oleh kemunculan para tokoh agama baru. Mereka, meniti karir ketokohannya di media sosial dengan memproduksi konten-konten keagamaan yang ramah bagi warganet (netizen). Bermodal penampilan yang menarik, gaya komunikasi yang ciamik ditambah gimmick-gimmick yang disukai. Para tokoh agama karbitan ini pun tak sedikit yang mendapatkan banyak jamaah di media sosial, atau yang sering kita sebut sebagai ustadz viral.
Senada dengan ungkapan Smith, di era Post-truth kata Emha Ainun Najib (Cak Nun), pernah mengatakan “Iblis telah menjelma dalam rupa orang yang memegang al-Quran dan berbalut sorban”. Jadi dengan pemahaman yang masih relatif awam adalah suatu kewajiban untuk mengklarifikasi terlebih dahulu tentang apa yang sebenarnya terjadi, sebab ermodalkan sorban, jenggot, gamis putih, dan dalil yang tak sesuai dengan agama, serta tanpa ada sanad ulama yang diikuti. Ustadz karbitan ini viral dan digandrungi masyarakat.
Fenomena Ustadz digital menjadi tren hari ini, sebab semakin tingginya masyarakat belajar agama, maka dari itu semakin banyak juga ustadz viral di media sosial, bayangkan saja persoalan keagamaan bisa ditelusuri dengan kata kunci tematik tertentu melalui mesin pencari (search engine), semisal media sosial Instagram, Twitter, Youtube, google, dan lain sebagainya. Kemudahan dan praktis ini tentu menjadi alasan utama.
Masyarakat awam akan menjadi objek penggiringan opini yang kadang tidak diketahui sumber kebenarannya. Banyak sekali ditemukan ceramah ustadz secara online tanpa diketahui sanad keilmuannya. Kebanyakan dari mereka merupakan ustadz baru yang viral di media sosial. Ada semacam trend baru yang mulai bergeser dari ustadz konvensional yang terkenal menuju viral di media, semacam youtube.
Sebagaimana dikatakan oleh sosiolog Bryan S. Turner (2007), internet sebagai media baru mempunyai posisi sangat penting secara politis maupun sosiologis. Hal ini dikarenakan internet mempunyai efek yang tidak bisa diprediksi untuk merusak otoritas tradisional yang berbasis pengajaran lisan ataupun pendidikan berbasis teks di mana keduanya bersifat hierarkis, imitatif, dan berulang (repetitif).
Pelajaran agama Islam selama ini diajarkan secara tradisional di pondok pesantren, atau paling tidak di sekolah berbasis agama (madrasah) di bawah Kementerian Agama dan bergantung pada cara pengajaran tradisional melalui transmisi lisan ataupun menggunakan teks seperti kitab kuning. Ketika orang tidak lagi pergi ke pesantren ataupun madrasah untuk belajar agama dan beralih ke internet, maka keduanya kehilangan otoritasnya sebagai institusi resmi untuk belajar agama. Ini tentunya sesuai tesis Turner bahwa internet memiliki efek yang tak terkira untuk merusak otoritas agama.
Kemunculan ini membenarkan ungkapan Gary R. Bunt dalam bukunya, Islam in the Digital Age, yang menyebut bahwa akan terjadinya reduksi kebenaran agama (Islam). Hal ini terjadi lantaran para penceramah agama di media sosial kerap kali tidak memiliki latar belakang keilmuan Islam yang mumpuni. Mereka menjadi ustadz lebih karena branding viral dirinya, bukan karena kapasitas keilmuan yang dimilikinya.
Fenomena kemunculan ustadz di media sosial seperti Sugi Nur bukan hal baru, masih banyak ‘wajah-wajah ustadz seperti Sugi Nur’ yang tak jarang produksi pengetahuan Islam yang mereka sebarluaskan ke publik acapkali tidak sesuai dengan ajaran Islam sesungguhnya. Minimnya pengetahuan para ustadz tersebut di bidang agama membuat mereka ngawur dalam berpendapat dan berfatwa. Tidak jarang pula, mereka mengeluarkan statemen-statemen yang mengarah pada ujaran kebencian terhadap kelompok Non-Muslim bahkan sesama Muslim.
Hal ini tentu membuat kita berfikir, jangan sampai menjadikan media sosial sebagai rujukan utama, sebab dahaga spiritual yang muncul akibat mobilisasi yang cepat dan masif dapat terpenuhi hanya dengan satu “klik” saja sehingga menyebabkan kerawanan masyarakat, dan melahirkan sikap intoleran, bahkan mengganggu sendi-sendi beragama diakibatkan banyaknya pemikiran dari media sosial yang salah kaprah.
Dengan demikian, banyaknya ustadz dan konten keagamaan yang beraliran radikal dan ekstrem akan lebih mudah dikonsumsi masyarakat, tanpa berkonsultasi atau meminta pendapat dari otoritas atau sumber resmi agama terlebih dahulu. Hal ini tentu menjadi catatan adalah pintar dan bijaklah dalam mencari ustadz atau narasi keagamaan yang yang kredibel dan otoritatif, semisal NU dan Muhammadiyah. Oleh karena itu, untuk menjadi seorang ustadz tak boleh hanya sekadar viral, butuh yang namanyakapabelitas dan kredibilitas ilmu agama, karena sejatinya Nabi Muhammad tak pernah menyerukan untuk dakwah instan atau bahkan pamer kesalehan.