Seiring dengan perkembangan media sosial, kehausan atas informasi dan komunikasi merasuki manusia di era ini. Gejala ini telah menjadi wabah dimanapun. Munculnya fenomena yang dikenal dengan Fear of Missing Out (FOMO) atau ketakutan akan kehilangan atau ketinggalan informasi dan komunikasi menjadi gejala baru di kalangan masyarakat di Tanah Air. Perangkat telepon pintar atau smartphone mereka menemani saat bekerja, tidur, mandi, belajar, makan, hingga tidur lagi 24 jam non-stop.
Kondisi ini semakin marak seiring Facebook, Instagram, Twiter, Whatsap, Youtube, TikTok dan masih banyak lagi lainnya, berubah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Setiap hari, mulai bangun tidur sampai tidur lagi orang berbondong-bondong menyajikan dan berusaha menjadi yang pertama untuk update informasi tertentu.
Media sosial bukan lagi sebagai alat untuk sekedar bersosialisasi, menemukan informasi, dan hiburan, namun juga menjadikan penggunanya ketergantungan untuk terus mengakses apa saja tak peduli dimana tempat dan waktu. Ketergantungan ini membuat pengguna tidak bisa dipisahkan bahkan dijauhkan dari smartphone dan media sosialnya.
Media sosial dianggap oleh mereka sebagai satu-satunya cara untuk memenuhi kebutuhan. Seolah-olah manusia tidak bisa hidup tanpa bantuannya. Sehingga masyarakat mencari kepuasaan dalam teknologi dan menerima perintah dari teknologi. Keberadaannya dianggap sebagai kekuatan sosial yang dominan. Seperti halnya yang diungkapkan Neil Postman, bahwa teknologi mendorong budaya technopoly, yaitu suatu budaya dimana masyarakat di dalamnya mendewakan teknologi dan teknologi tersebut mengontrol semua aspek kehidupan.
Berdasarkan data riset dari We Are Social, tahun 2020 ini ada sebanyak 175,4 juta pengguna internet di Indonesia. Berdasarkan total populasi yang berjumlah 272, 1 juta jiwa , maka artinya sekitar 64 persen penduduk negeri ini telah merasakan akses dunia maya. Dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah tersebut mengalami kenaikkan sekitar 17 persen atau 25 juta pengguna. Dalam laporan itu pula dikatakan, saat ini pengguna ponsel masyarakat kita sebayak 338,2 juta. Menariknya, sekitar 160 juta termasuk katagori pengguna yang aktif di media sosial. Jumlah pengguna yang aktif di media sosial ini pun, menurut We Are Social mengalami peningkatan sebanyak 10 persen dibanding tahun 2019 lalu.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh pergeseran penggunaan internet melalui jaringan yang digunakan secara kolektif seperti warung internet (warnet) dan wifi berubah menjadi lebih personal seperti kartu paket data internet yang dijual bebas dikanter-konter. Maka tak heran jika warung-warung penjual kuota internet ini tak pernah sepi pengunjung, betapapun banyaknya, karena memang internet inilah yang digunakan sebagai pengantar untuk mengakses media sosial. Dengan mudahnya setiap pengguna membawa dunia maya mereka kemana pun mereka suka.
Ketika setiap kita mengalami kesulitan dalam hidupnya, maka untuk mengatasi hal tersebut penggunaan internet menjadi lebih penting dibandingkan apa yang dilakukan orang lain pada umumnya, karena aktivitas online dapat memperluas dan memperkuat jaringan sosial mereka. Akan tetapi, aktivitas seperti ini dapat berbahaya jika media sosial adalah fokus utama dari kehidupan mereka sebagai sarana untuk mendapatkan dukungan sosial, mengeluarkan keluh kesah dan ujungnya mengarah pada perilaku penyalahgunaan media sosial.
Banyak dari masyarakat, akses mereka pada media sosial lebih digunakan sebagai sarana penghindaran dan pengobatan diri, dan tak sedikit yang menulis do’a pengharapan. Adapula yang merasa sangat tidak berarti hidupnya, sangat marah, syok dan bentuk kekecewaan lainnya ketika media sosialnya hilang, dihack atau terblokir. Ketergantungan-ketrgantungan inilah yang mengantarkan kita pada penghambaan teknologi, seperti menjadikan media sosial ini sebagai berhala baru, sesembahan baru.
Orang mengira penyembahan berhala itu hanya berkaitan dengan patung-patung atau benda-benda keramat dan segala jenisnya. Itu tidaklah salah, yang seperti itu adalah berhala-berhala kuno, tetapi ada bentuk-bentuk berhala lain di masa sekarang ini yang seringkali tidak kita sadari.
Dalam kamus modern, pengertian berhala bukan sekedar “patung dewa yang dipuja-puja”, tetapi juga “seseorang atau sesuatu yang dipuja-puja secara membabi buta atau melebihi batas kewajaran. Di zaman yang modern ini pun, tak sulit menemukan berhala modern. Timothy Keller dalam bukunya, Counterfeit Gods, mendefinisikan berhala sebagai segala sesuatu yang begitu penting dan esensial di dalam hidup kita. Ketika kita kehilangan hal penting tersebut, hidup terasa tidak layak dihidupi.
Berhala adalah sesuatu yang mengontrol hidup seseorang sampai semua hal hanya terfokus pada hal tersebut. Kalau sudah demikian, hidup bukan hanya sesempit soal patung-patung, tetapi menjadi sangat luas. Berhala modern kita saat ini termasuk salah satunya media sosial. Berhala modern kita ada pada apa atau siapa kita meletakkan seluruh hidup kita.
Fenomena-fenomena yang ada bahwa masyarakat modern sekarang lebih mengagungkan media sosial sebagai rujukan hidupnya karena dengan media sosial masyarakat mudah mendapatkan apa yang mereka perlukan. Bahkan sekarang peranan media sosial telah menggantikan peranan kitab suci, masyarakat sekarang lebih cenderung memegang smartphone dibandingkan memegang kitab suci.
Manusia modern telah menjadikan media sosial sebagai sesembahannya. Baginya bisa saja agamanya tetap Islam, Kristen, Katholik atau agama yang lainnya, namun tingkah laku sehari-hari telah dipengaruhi oleh media sosial. Dan jika ada masalah dalam hidup yang menjadi tempat mengadu bisa jadi ialah media sosial, bukan lagi agama yang diyakini. Ketergantungan pada media sosial inilah sama seperti orang beragama, mengalahkan agama, dan sadar atau tidak telah menjadikan media sosial sebagai agama barunya.
Dengan demikian, media sosial yang sejatinya sebagai alat untuk bersosialisasi, menambah relasi, mencari informasi, dan sebagai hiburan, nyatanya membuat penggunanya terbelenggu ketergantungan bermedia sosial. Banyak hal bisa memesona dan mengikat hati kita, menjadikan kita sebagai pemuja media sosial tanpa kita sadari, akhirnya, media sosial menjadi berhala baru di era modern ini.