Menyoal Nasionalisme Generasi K-Pop

0
273
WhatsApp
Twitter

Budaya populer menjadi akar terbentuknya sebuah kebudayaan baru yang kini menyebar di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Kebudayaan baru yang tengah digemari hampir seluruh penjuru dunia saat ini adalah kebudayaan populer yang berasal dari Korea Selatan, atau yang kita kenal dengan sebutan K-Pop. Produk dari negeri gingseng itu berupa hiburan yang diteruskan melalui media massa. Hingga kini, kebudayaan populer tersebut berhasil membuat generasi muda dari belahan dunia lainnya tertarik untuk mengikuti dan mengadaptasi kebudayan tersebut.

Budaya populer berkembang lewat banyak ruang, diantaranya ialah melalui industri hiburan layar kaca. Budaya populer juga merambah dan disertakan melalui produk lainnya seperti film dan musik. Musik Korea pra-modern perama kali muncul pada tahun 1930 an, akibat masuknya musik pop Jepang yang turut mempengaruhi unsur-unsur awal musik pop di Korea. Penjajahan Jepang atas Korea juga membuat genre musik Korea dapat berkembang dan hanya mengikuti perkembangan buday pop Jepang pada waktu itu.

Tahun 1950 dan 1960 an, pengaruh musik pop Barat mulai masuk dengan banyaknya pertunjukan musik yang diadakan oleh pangkalan militer Amerika Serikat di Korea Selatan. Musik pop Korea awalnya terbagi menjadi beberapa genre, pertama genre Oldies, dimana genre ini banyak di pengaruhi oleh musik Barat yang sempat populer di era 60 an. Pada tahun 1970, Chi Yong-pil memperkenalkan musik rock. Genre lain yang cukup digemari yaitu musik Trot yang dipengaruhi gaya musik Enka dari Jepang.

Akibat terdampak globalisasi, Korea Selatan melalui media massa mentransmisikan kebudayaannya dengan mengkampanyekan Gelombang Hallyu atau yang biasa dikenal dengan Korean Wave. Dalam buku Myung Oak Kim Sam Jaffe, The New Korea, menyatakan bahwa Korea Selatan pada awalnya merupakan salah satu negara yang tengah menghadapi krisis mengerikan pada tahun 1998. Namun, negeri itu berhasil mengubah krisis menjadi kesempatan melalui kampanye Hallayu, atau yang artinya Gelombang Budaya Korea. Hallyu sebagai alat soft power berhasil mengantarkan Korea Selatan melewati krisis dan bahkan meningkatkan status ekonomi mereka.

Hallyu atau Korean Wave adalah istilah yang diberikan untuk tersebarnya budaya pop Korea secara global di berbagai negara di dunia. Hallyu memicu banyak orang-orang di negara tersebut untuk mempelajari Bahasa Korea dan Kebudayan Korea. Indonesia menjadi salah satu negara yang mengalami terpaan fenomena Gelombang Budaya korea tersebut. Hallyu digunakan untuk menggambarkan popularitas budaya populer Korea (K-Pop) di semua dunia internasional.

Dari hasil kampanye Hallyu dihampir seluruh dunia itu, Korea Selatan memperoleh pendapatan total pada 2005, lebih dari U$$ 1 miliar atau dua kali lipat dibanding 2002 yang hanya U$$ 500 juta. Keberhasilan Korean Wave berdampak signifikan pada berbagai sektor di negaranya seperti kenaikkan di bidang pariwisata, masakan, dan citra negara dalam persepsi negara-negara lain.

Masuknya K-Pop ke Indonesia diawali dengan munculnya drama seri Korea terlaris yakni Endles Love padaa tahun 2002 yang tayang di salah satu tv swasta. Di drama seri itu biasanya ada soundtrack lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi Korea, yang tak jarang juga merupakan member salah satu group idola di sana. Misal, bumingnya Dara Boys Before Flower, saundtracknya pun ikut terkenal.

Banyak dari soundtracknya dinyanyikan oleh boyband dan girlband Korea seperti, Shinee, Kara, ss501, dan Tmax. Lalu mulailah menjamur fans-fans K-Pop di Indonesia. Yang mulanya hanya mengenal drama-drama Korea, berkembang ke musiknya. Dari sana muncul fans-fans fanatik yang akhirnya membuat para idola mereka melirik ke Indonesia untuk dikunjungi dan mengadakan konser. Dimulai dari konser The Rain (2009), lalu disusul dengan kedatangan 2PM (2015), dan Super Junior (2012). Semakin menjamurlah K-popers di Indonesia. Perkembangan K-Pop di Indonesia tidak hanya karena mereka menyukai drama-drama Korea, tetapi juga disebabkan penyanyi Korea memiliki tampang yang menawan dan cukup menarik.

Selain itu, jenis musik yang ringan, ceria, dan beatnya yang cocok dengan selera anak muda sekarang, menyebabkan semakin disukainya jenis musik K-Pop di Indonesia. Tak heran, fans K-Pop sekarang bisa sebanding dengan fans musik Barat yang tadinya lebih dulu berkembang di negri ini.

Korean Wave mempresentasikan bagaimana budaya melebur dan bahkan bergeser dari kontruksi asalnya menjadi konsep baru. Konsumsi film dan musik Korea telah mampu mempengaruhi budaya lokal dan regional dimana produk itu dikonsumsi. Indahnya pakean ala artis Korea, arsitek bangunan, swalayan dan tempat makan bernuansa budaya Korea digambarkan pada setiap seri drama yang menarik perhatian masyarakat global.

Dalam era globalisasi dan kemajuan di bidang teknologi komunikasi ini memang memungkinkan manusia di seluruh dunia untuk saling berinteraksi atau berkomunikasi satu sama lainnya. Hampir tidak ada batas-batas lagi untuk saling bertukar informasi antar bangsa di berbagai belahan dunia. Melalui teknologi komunikasi yeang semakin canggih, Korean Wave pun dengan mudah menyebar ke berbagai negara.

Adanya globalisasi mempermudah masuknya budaya Korea ke dalam Indonesia, sehingga dapat menyebabkan menurunnya kesadaran dan kecintaan akan budaya nasional. Apabila tidak segera diatasi, lambat laun akan diterima oleh kita, terutama generasi muda.

Dengan masuknya budaya Korea tersebut, perlahan akan mengikis sikap nasionalisme yang dimiliki generasi muda. Fakta yang sering kita saksikan, generasi muda era sekarang lebih senang menonton drama-drama Korea, musik-musik K-Pop, lebih dipilih oleh mereka dibandingkan dengan musik-musik buatan dalam negeri, musik-musik daerah. Hal ini dapat terlihat dari antusias para remaja untuk menonton konser musik K-Pop idola mereka, walaupun harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit.

Hal ini tentu saja akan sangat mengkhawatirkan, jika generasi muda yang merupakan generasi penerus bangsa tidak memiliki sikap nasionalisme yang tinggi pada dirinya dan juga kebanggaan akan bangsa dan negaranya. Peran semangat nasionalisme dan jiwa nasionalisme sangat penting, karena nasionalisme merupakan paham untuk mencintai bangsa dan negara sendiri.

Akan lebih bijak apabila yang ditiru dan diikuti bukan kebudayaan Korea tersebut, akan tetapi bagimana generasi muda kita meniru Korea Selatan untuk mempromosikan dan menduniakan kebudayaan Indonesia di kancah Internasional dalam bingkai K-Pop dan K-Drama versi Indonesia. Dengan begitu, bukan saja nasionalisme yang semakin kokoh, namun juga akan mampu mengangkat nama baik bangsa ini.

Tidak ada yang salah dengan mengidolakan sesewatu, namun jangan sampai terlalu mengidolakan K-Pop, K-Drama sampai-sampai hilang jiwa nasionalisme kita.

Nasionalisme merupakan jiwa bangsa Indonesia yang harus terus melekat pada tiap-tiap anak bangsa, dan salah satu upaya menjaga nasionalisme itu adalah dengan melestarikan budaya nusantara. Nasionalisme pada hakekatnya adalah untuk kepentingan dan kesejahteraan bersama.

Menurut L. Stoddard, nasionalisme adalah suatu kepercayaan yang dimiliki oleh sebagian besar individu, dimana mereka menyatakan rasa kebangsaan sebagai perasaan yang memiliki secara bersama di dalam suatu bangsa. Artinya bahwa nasionalisme yang dimiliki warga negara dapat menjadi pemersatu bangsa, sehingga perlu adanya rasa cinta Tanah Air walaupun banyaknya budaya asing yang masuk ke Indonesia.

Memang, masuknya budaya Korea ke Indonesia disatu sisi dapat menguntungkan, baik dari segi ekonomi, politik, sosial dan budaya, namun sikap nasionalisme terhadap negara juga diharapkan tidak tergantikan dengan negara lain, agar sikap cinta Tanah Air masih ada pada diri generasi muda. Oleh karena itu, Korean wave harus disikapi dengan bijak dan pintar di dalam memilihnya, sehingga cocok dengan jati diri bangsa Indonesia.