Peristiwa 9/11 atau peristiwa pengeboman World Trade Center (WTC) di New York City, mengubah pandangan setiap orang dalam mendefinisikan setiap kejadian yang melibatkan teroris pasti didasari agama oleh dunia.
Faktanya, kelompok teroris seperti ISIS, Al-Qaeda, Bako Haram, dan kelompok lainnya menganggap jihad sebagai kesempurnaan perintah agama. Tentunya hal ini bertentangan dengan pemahaman kita agama sebagai petunjuk kehidupan.
Dalam memilih sasaran untuk diserang, ideologi yang dianut oleh kelompok teroris sangat berperan penting. Di samping sumber daya yang dimiliki oleh kelompok teroris tersebut, reaksi masyarakat terhadap tindakan para teroris, dan tingkat keamanan lingkungan yang akan dijadikan target menjadi parameter selanjutnya. Selain itu juga seperti motif politik, keagamaan, dan finansial menjadi peran mutlak dalam dukungan aksi kelompok.
Memahami agama dengan cara yang salah, membuat kelompok teroris seperti Al-Qaeda melakukan serangan 9/11 di WTC dan mengangap sebagai pengabdian keagamaan sempurna. Mereka yang melakukan serangan tersebut mengungkapkan motif mereka jelas bersifat keagamaan dan memandang diri mereka sebagai pelaksana kehendak tuhan. Sehingga, menganggap setiap orang menentang kehendak tuhan, halal untuk dihabisi nyawanya.
Dengan mengunakan terminologi al-Quran, orang-orang dan negara yang dianggap musuh biasanya akan dicap sebagai orang-orang kafir atau negara kafir, tidak beriman, dan para sekutu setan, sedangkan mereka menganggap kelompoknya sebagai wakil Tuhan. James Jones, menjelaskan bahwa terorisme keagamaan tidak hanya dimotivasi oleh agama, tetapi juga oleh faktor lain. Sejalan dengan pendapat ini, Mark Sedgwick mengatakan bahwa terorisme keagamaan, termasuk al-Qaeda dan lainnya mempunyai tujuan keagamaan sekaligus motif ingin memiliki kekuasaan wilayah dan politik.
Faktanya, kelompok teroris hanya mengunakan agama sebagai nilai jual kepada simpatisan agar dapat membela kelompok tersebut dan menjadi militan. Seperti yang diungkapkan oleh Febri Ramdani, dalam buku 300 Hari di Bumi Syam, Perjalanan Seorang Mantan Pengikut ISIS.
Menariknya, kelompok teroris seperti Al-Qaeda, ISIS, dan kelompok lainnya yang sebelumnya menggaungkan bahwa mereka membela agama namun, cerminan tingkah laku mereka bak ibarat separatis negara yang haus kekuasaan belaka. Tidak sedikit kelompok teroris memiliki wilayah kekuasaan dan pemimpin wilayah, sehingga dapat mengatur otonomi wilayah tersebut.
Hal ini membuat banyak perbedaan dari persepsi peneliti dan pengamat teroris dalam menilai tujuan utama kelompok tersebut, sehingga terbagi menjadi beberapa kelompok. Ada yang mengatakan agama sebagai tujuan akhir, hal ini menimbulkan bias pemahaman di tengah-tengah masyarakat. Namun, dalam pandangan kita kelompok teroris mengunakan agama sebagai legitimasi dan justifikasi sebuah aksi agar bisa dibenarkan.
Secara teori mengenai motif utama yang mendorong kelompok teroris melakukan aksi bom bunuh diri masih simpang siur. Namun jika dilihat mengunakan mata telanjang, kelompok teroris tak ubah seperti separatis yang menginginkan sebuah wilayah yang bisa dikuasai. Dengan demikian, melihat fakta tersebut di era sekarang sangat sulit men-judge atau menghakimi agama sebagai pendorong utama kelompok teroris melakukan aksinya.