Seiring perubahan zaman, bangsa Indonesia harus ditanamkan cintanya terhadap Tanah Air mulai sejak dini. Pendidikan sebagai ujung tombak peradaban bangsa, memprioritaskan pendidik untuk melaksanakan tugasnya agar lebih progresif. Hal itu menjadikan setiap bangsa harus memiliki jiwa nasionalisme agar identitas Tanah Airnya selalu terjaga. Sebab banyak fakta membuktikan, kehancuran negeri atau kekuasaan terjadi karena melupakan sejarah perjuangan dan identitas negerinya.
Jika dahulu menanamkan cinta kepada Tanah Air lebih mudah karena secara langsung bangsa Indonesia dihadapkan pada perjuangan nyata melawan penjajah, maka zaman kini lebih sulit. Sebab dihadapkan pada teknologi dan fundamentalisme agama. Karena ini membuat bangsa secara perlahan-lahan dibuat pudar cintanya pada Tanah Air. Menggalakkan kembali pendidikan kebangsaan sejak dini menjadi salah satu langkah progresif para pendidik untuk membentuk sikap nasionalisme kebangsaan. Pada perkembangannya, pendidikan anak sejak dini adalah usia keemasan (golden age) dengan kisaran usia empat sampai delapan tahun. Konon pada usia keemasan ini, anak-anak akan mudah menyerap apapun atas apa yang didengar dan dilihat sekitarnya.
Namun apakah usia tersebut tidak terlalu cepat dan dini untuk diajarkan materi kebangsaan nasionalisme? Materi seperti ini tentu bisa diajarkan, dengan catatan sang pendidik harus mengajarkan materi tersebut sesuai perkembangan usianya. Dunia permainan adalah dunia anak-anak. Sebab itu, menurut Mayke Sugianto (1995) secara umum segala aspek dapat dihubungkan melalui pendekatan permainan. Sudah barang tentu, anak-anak akan lebih responsif asalkan permainan tersebut dikemas dengan cerita yang menarik.
Adapun cara memahami pendidikan kebangsaan Indonesia, yakni dengan memahami nilai-nilai kebangsaan yang berdasarkan pancasila (M. Noor Bakry:1994). Misalnya di wilayah perkotaan, sekolah PAUD atau TK sudah mulai serentak menerapkan penanaman nilai kebangsaan melalui tema-tema bulanan dan peringatan hari besar nasional. Meski begitu, mata pelajaran Pendidikan kewarganegaraan (PKN) saja yang sudah ada sejak lama, belum cukup menyadarkan peserta didik. Jadi permasalahan sebenarnya bukan terletak pada materi, tetapi pada implementasi pengajarannya.
Kesan membosankan yang melekat pada pelajaran sejarah harus dicarikan solusinya. Rasa bosan juga salah satu penyebab anak-anak lebih hafal biografi para artis, ketimbang pahlawannya sendiri yang sudah berjuang melawan penjajah. Kemudia terkait perfileman, kalau kisah nabi saja yang sebenarnya mengandung banyak konflik dan peperangan, tetapi bisa dibuatkan filmnya secara sederhana dan dapat diterima anak-anak. Lalu kenapa film para pahlawan bangsa kita tidak bisa dibuatkan? Sebab minimnya produksi dunia perfilman tersebut, akhirnya anak-anak khawatir akan terbentuk pada kepribadian yang menjauhkan kecintaannya terhadap Tanah Air.
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, ada banyak hal kecil yang tanpa disadari telah memudarkan sikap kebangsaan negara ini. Sebagai aset bangsa, anak-anak harus dipenuhi segala kebutuhnnya terkait kebangsaan. Jiwa patriotisme cikal bakal pemimpin bangsa harus tersemai sejak dini. Ki Hajar Dewantara mengatakan, pelajaran kebangsaan di taman kanak-kanak memang kodrati yang harus mengajarkan, seperti permainan, tarian dan lagu-lagu daerah, serita yang berwujud dongeng, dan mengenal tempat sekitar serta mempersiapkan pengetahuan kewarganegaraan disertai nilai-nilai luhur dan keagamaan yang dianut (1990: 81).
Dengan demikian, menggalakkan kembali pendidikan kebangsaan sejak usia dini merupakan upaya untuk mempersiapkan generasi bangsa yang empatik terhadap kesatuan Indonesia. Sejatinya bangsa Indonesia hanya membutuhkan kebiasaan (habit) untuk membentuk sikap nasionalisme. Sebab itu, harapan pendidikan kebangsaan sejak dini adalah harapan dan cita-cita jangka panjang yang tak dapat dibatasi oleh waktu. Meski berbeda, Indonesia selamanya harus bersatu. Semboyan bersama harus di pertahankan, Bhineka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua.