Kemajuan teknologi digital menjadi era baru yang tak terhindarkan. Beragam aplikasi media sosial menjadi menu sehari-hari tanpa memandang usia. TikTok menjadi salah satu aplikasi yang sangat populer saat ini. Kepopulerannya bukan hanya di dalam negeri belaka, namun telah merambah hampir di seluruh dunia, bahkan di Amerika Serikat, saking populernya, lonjakan TikTok dianggap mengancam hegemoni AS di pasar global.
Aplikasi vidio musik yang digunakan dengan lip-sync berdurasi 15 detik, menyuguhkan bermacam efek-efek khusus yang memanjakan penggunannya dalam membuat vidio pendek itu semakin menarik. Dengan begitu pengguna bisa secara kreatif membuat vidio musik favorit mereka.
Tik-Tok adalah sebuah jaringan media sosial dalam platform vidio yang dikenalkan oleh Zhang Yiming pada 2016 dan dimiliki oleh ByteDance. Aplikasi ini dulunya memiliki nama Dauyin, dan sangat meledak di Tiongkok. Karena sangat populer, Dauyin pun melakukan ekspansi ke berbagai negara dengan mengusung nama baru yaitu Tik-Tok.
Dalam perjalanannya menguasi dunia, muncul aplikasi serupa di AS. Aplikasi tersebut dikenal dengan nama Musical.ly. Dengan Musical.ly, kita bisa merekam vidio vidio selama 15 detik dengan konsep lip-sync. Akibat merasa terancam dengan keberadaan aplikasi Musical.ly tersebut, pada November 2017, TikTok pun mengakuisisi saham Musical.ly dengan nominal Rp13,6 miliar. Pada Agustus 2018, Musical.ly resmi ditutup dan semua penggunanya begabung ke Tik-Tok.
Tik-Tok datang ke Indonesia pada 2017 lalu, dan seperti di negara lain, aplikasi inipun sempat mengundang banyak perhatian dari berbagai kalangan. Kala itu, Tik-Tok pun sempat boming bagi dan banyak digandrungi anak sekolah ABG. Namun pada Juli 2018, pemerintah Indonesia sempat memblokir Tik-Tok. Alasanya, aplikasi itu dinilai mengandung banyak konten negatif. Selang seminggu kemudian, aplikasi Tik-Tok sudah beredar kembali di App Store dan Google Play Store, dimulai dengan adanya kerja sama antara Tik-Tok dengan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
Dalam perkembangannya, berdasarkan laporan perusahaan riset pasar aplikasi mobile Sensor Tower, per juli 2020 mengantongi lebih dari 65,2 juta unduhan, yang setara dengan 21,4 persen kenaikan dari periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Negara-negara dengan pemasangan aplikasi Tik-Tok terbanyak dalam periode ini adalah Amerika Serikat dengan 9,7 persen (6.324.000), dan Indonesia dengan 8,5 persen (5.542.000). Dengan total unduhan 8,5 persen pada Juli 2020, Indonesia memperkuat posisinya sebagai negara pengguna Tik-tok terbesar keempat dunia. Terdapat sekitar 30,7 juta pengguna Tik-Tok di Indonesia.
Brasil berada di posisi ketiga dengan 34,7 juta pengguna, lalu diatasnya ada Amerika Serikat dengan 45,6 juta pengguna. Menurut Priori Data, India menjadi pasar terbesar Tiktok. Sepanjang pertengahan tahun 2020, antara bulan Juni dan Juli, aplikasi vidio pendek tersebut mencapai 99,8 juta unduhan.
Melansir Kompas.com, dalam rilis terbaru riset aplikasi Sensor Tower edisi Agustus, menobatkan Tik-tok sebagai aplikasi terlaris dengan total unduhan lebih dari 63,3 juta di perangkat iOS dan Android. Jumlah tersebut naik 1,6 persen dari periode yang sama tahun lalu. Sensor Tower juga melaporkan, negara yang paling banyak mengunduh aplikasi ini adalah Indonesia, yang menyumbang 11 persen dari total unduhan Tik-Tok. Dalam riset edisi Agustus ini, Brasil menjadi negara terbanyak kedua yang mengunduh TikTok dengan menyumbang angka 9 persen.
Penggunaan Tik-Tok yang merupakan budaya populer saat ini, bisa menjadi media kampanye yang cukup ideal dalam membangun nasionalisme, karena budaya populer yang tidak memandang strata sosial lebih mudah untuk menjangkau masyarakat luas, terlebih sekitar 64% dari jumlah penduduk Indonesia sudah menggunakan internet, dan 160 juta penduduk Indonesia merupakan pengguna media sosial.
Nasionalisme dalam konteks dulu dibangun untuk membentuk kesadaran kolektif demi memerdekakan diri dari kolonialisme, di era modern ini nasionalisme harus dibangun untuk membawa Indonesia menjadi negara yang maju dan berdaulat. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang tepat dan efisien dalam upaya menumbuhkembangkan kembali nasionalisme di kalangan masyarakat Indonesia modern, khususnya di kalangan generasi muda.
Nasionalisme merupakan rasa kebangsaan, atau lebih tepatnya rasa memiliki terhadap bangsa pada setiap orang, sehingga dengan rasa tersebut seseorang akan membela, mempertahankan dan melindungi bangsanya. Paham kebangsaan tumbuh karena ada persamaan nasib dan sejarah serta kepentingan untuk hidup bersama-sama sebagai suatu bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, demokratis dan maju di dalam suatu kesatuan bangsa dan negara serta cita-cita bersama guna mencapai, memelihara dan mengabadikan identitas bangsa.
Rasa nasionalisme harus dibangun sedini mungkin secara massif pada setiap insan Indonesia khususnya generasi muda, dan dalam berbagai aspek, karena ia merupakan modal untuk mengikis konflik bernuansa SARA dan sebagai penangkal kebudayaan Barat, budaya kerab-araban, dan budaya asing lainnya yang kerapkali melanda bangsa ini. Penanaman nasionalisme harus diusahakan secara bersama sesuai kemajuan zaman, sebagai sebuah paradigma berpikir dan bertindak yang tiada henti agar bangsa ini tidak direpotkan dengan berbagai macam konflik yang dapat merugikan masyarakat itu sendiri.
Nasionalisme berkaitan dengan spirit, ataupun semangat kebangsaan yang sejatinya tidak boleh tergoyahkan oleh terpaan badai maupun topan sekalipun. Rasa kebangsaan laksana batu karang di tengah lautan yang tetap tegar, meskipun diterjang gelombang lautan.
Untuk melestarikan dan membangun spirit nasionalisme itu, bisa dilakukan lewat aplikasi Tik-Tok seperti yang disebutkan di atas. Tik-Tok, sedianya bisa menjadi salah satu alat untuk membangun nasionlisme, dan isinya pun harus diwarnai secara konsisten dan berkelanjutan dengan vidio atau konten yang mampu membangun nilai-nilai kebangsaan, kebudayaan, dan nilai-nilai Pancasila.
Bagaimanapun, generasi milenial ini memang harus kita akui, merupakan generasi yang kaya akan kreatifitas. Dengan Tik-Tok, generasi muda kita tetap bisa menjaga nasionalisme dan tetap berperan aktif dalam membangun bangsa. Para penyelenggara pemerintahan diharapkan terus memfasilitasi, mengawasi, dan mengarahkan, agar kreatifitas yang tengah mereka (generasi Tik-Tok) bangun tidak menyasar pada arah yang keliru dan tetap pada jalur yang sesuai norma .
Dengan demikian, Tik-Tok atau aplikasi apapun yang berbasis digital layak mendapat tempat dalam ngara ini, apabila digunakan dengan bijak dan demi kemajuan bangsa. Kemajuan zaman yang dibarengi dengan kemajuan teknologi digital memaksa kita untuk dapat menyesuaikan keadaan yang ada, dan Tik-Tok menjadi salah satu solusi yang solutif untuk membangun kecintaan terhadap bangsa dan Tanah Air.