Belajar Pancasila dari Bung Karno

0
110
WhatsApp
Twitter

Ketika berpidato di sidang PBB, Bung Karno menjadi sorotan dunia saat mengenalkan Pancasila di hadapan publik, 30 September 2024 silam. Dalam pidatonya, Bung Karno mengatakan, “Arus sejarah memperlihatkan dengan nyata bahwa semua bangsa memerlukan sesuatu konsepsi dan cita-cita. Jika mereka tak memilikinya atau jika konsepsi dan cita-cita itu menjadi kabur dan usang, maka bangsa itu ada dalam bahaya”.

Maka dari itu, tidak bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika suatu bangsa tak memiliki landasan. Jika suatu negara yang tak memiliki landasan, maka negara itu tak memiliki nilai dan tidak akan berharga di mata dunia. Untungnya negara ini telah memiliki landasan, yakni Pancasila. Landasan ini sudah lama terbentuk dalam diri dan jiwa masyarakat Indonesia.

Pancasila adalah pilar ideologi dan juga landasan hidup bangsa Indonesia. Pancasila itu jalan hidup, way of life. Sebuah pandangan manusia Indonesia memandang dirinya dan masyarakatnya (Sukarno, 1957). Dari sini Pancasila disebut, petunjuk kehidupan arah masyarakat negeri ini di atas toleransi dan pluralisme. Oleh karena itu, bangsa ini tidak bisa dipisahkan dengan Pancasila.

Pancasila itu warisan masyarakat negeri ini, saat berpidato di acara yang sama, Bung Karno juga mengatakan, “Dari pengalaman kami sendiri dan dari sejarah kami sendiri tumbuhlah sesuatu yang lain, sesuatu yang jauh lebih sesuai, sesuatu yang jauh lebih cocok. Sesuatu itu kami namakan Pancasila. Gagasan-gagasan dan cita-cita itu, sudah terkandung dalam bangsa kami. Telah timbul dalam bangsa kami selama dua ribu tahun peradaban kami dan selama berabad-abad kejayaan bangsa, sebelum imperialisme menenggelamkan kami pada suatu saat kelemahan nasional”.

Sudah menjadi kewajiban kita untuk berterima kasih pada Bung Karno. Sebab dari perjuangnnya Pancasila menjadi pandangan hidup bangsa. Dan berkat jasanya juga, negeri ini dikenal dunia melalui Pancasila-nya yang sesuai dengan kehidupan masyarakat Indonesia, bahkan seharusnya dunia. Dengan demikian, kita harus selalu mengingat sejarah perjuangan para pahlawan, sebagaimana perkataan Bung Karno “Jas Merah” jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Bung Karno adalah bapak bangsa atau founding father yang memperjuangkan hak-hak rakyatnya dan hak bangsa untuk merdeka. Dan berani mengenalkan bangsa ini ke seluruh penjuru dunia dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika-nya. Bung Karno senang menjalin persahabatan, senang mencari kawan bukan lawan. Pemimpin negara lain pun menjadi segan berteman dengan Bung Karno. Terbukti dengan terbitnya buku “Dunia dalam Genggaman Bung Karno, yang di tulis Sigit Aris Prassetyo”.

Kita harus belajar Pancasila dari Bung Karno. Karena dalam diri Bung Karno, ada ke lima sila Pancasila. Bung Karno selalu memanifestasikan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dalam kehidupannya. Semasa hidupnya dan saat berjuang, ia tak lupa dengan tuhannya, tak lupa dengan rakyatnya serta ingin mempersatukan bangsa yang berkeadilan. Dan semua itu banyak ditiru oleh anak bangsa saat ini.

Namun seiring perkembangan zaman, Pancasila sepertinya telah hilang dari jiwa masyarakat Indonesia, entah ke mana perginya. Karena akhir-akhir ini, sering terjadi peristiwa hilangnya moral sebagian rakyat yang ingin menjegal Pancasila dan menggantinya dengan ideologi lain. Seperti halnya kejadian beberapa tahun yang lalu, kasus kelompok HTI yang ingin merusak keharmonisan bangsa. Mujurnya kelompok itu sudah dibubarkan.

Walakin, kita tidak boleh menganggap situasi itu telah usai, sebab kelompok tersebut masih mempunyai akar, yaitu antek-anteknya. Dan masih banyak juga kelompok perusak bangsa yang bersembunyi di balik negara dan belum diketahui keberadaannya, sehingga belum dapat ditindak oleh pemerintah. Ironisnya malah ada juga seseorang atau individu yang sepertinya tak punya moral, orang itu adalah individu yang malah mendukung penegakan paham khilafah.

Tidak semuanya masyarakat ikut kehilangan Pancasila, ada sebagian masyarakat yang masih mempunyai jiwa Pancasila dalam hatinya. Hal itu tak lepas dari konsistensi masyarakat untuk tetap selalu menjaga dan memanifestasikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Namun faktanya saat ini, lebih banyak yang kontra terhadap Pancasila.

Menurut survei yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, pada tahun 2018, menyebutkan, masyarakat yang pro terhadap Pancasila dalam kurun waktu 13 tahun terakhir menurun. Sebaliknya yang pro NKRI bersyariah justru meningkat.

Pada tahun 2005, publik yang pro-Pancasila angkanya mencapai 85,2%. Lalu lima tahun kemudian, tahun 2010, angkanya menurun menjadi 81,7%. Tahun 2015 angkanya menjadi 79,4%. Dan tahun 2018 menjadi 75,3%. Dalam kurun waktu 13 tahun, publik yang pro-Pancasila terus menurun 10%.

Di sisi lain, publik yang pro-NKRI bersyariah mengalami kenaikan sebesar 9% selama 13 tahun. Pada 2005, angkanya mencapai 4,6%. Kemudian tahun 2010 mencapai 7,3%. Tahun 2015 mencapai 9,8%. Dan tahun 2018 menjadi 13,2%. Dalam kurun waktu 13 tahun, ada kenaikan persetujuan publik terhadap NKRI bersyariah sebesar 9%.

Sementara itu, kita sebagai anak bangsa mempunyai tantangan tersendiri untuk mempertahankan Pancasila. Lalu bagaimana kita menjawab tantangan tersebut? Pertama, kita harus belajar serta memahami Pancasila, kemudian memanifestasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, bersama-sama berjuang melawan tindakan radikalisme, intoleransi, dan terorisme dengan cara menolak paham-paham tersebut. Dan jika ada seseorang atau kelompok yang mempunyai paham tersebut serta berfikiran ingin mengubah ideologi Pancasila, kita harus berani mengambil tindakan untuk melaporkannya ke pihak yang berwajib.

Ketiga, menanamkan dan terus belajar nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila ke orang-orang yang sudah ahlinya. Namun menurut saya, diri kita sudah Pancasilais, jika kita memahami apa itu Pancasila dengan benar. Karena, jika dalam berkehidupan kita memanifestasikan sila yang terkandung dalam Pancasila, maka nilai-nilai Pancasila otomatis sudah tertanam pada diri kita. Kita juga akan memenuhi unsur cinta Tanah Air.

Dengan demikian belajar Pancasila dari Bung Karno adalah suatu kewajiban setiap anak bangsa yang lahir di ibu pertiwi ini. Bung Karno adalah pahlawan sekaligus contoh panutan guru kita yang semasa hidupnya tidak henti-hentinya berjuang untuk negara. Diri dan jiwanya ia persembahkan untuk ibu pertiwi. Memanifestasikan langsung Pancasila ke dalam hidup kita, secara otomatis kita sudah menghargai dan menghormati pahlawan kita.