Terorisme Problem Semua Agama

0
144
WhatsApp
Twitter

Melihat defenisi terorisme yang kacau membuat pandangan dunia dalam menilai agama Islam semakin meruncing. Hal tersebut membuat ketakutan dunia terhadap orang-orang beragama Islam, bahkan menimbulkan kelompok kecil seperti Islam phobia.

Dalam beberapa tahun kebelakang, masyarakat dunia lagi-lagi dihebohkan dengan munculnya kelompok Islam fundamentalis, seperti Islamic State Iraq and Syiria (ISIS), dengan amir atau pemimpin tertingi Abu Bakar Al-Baghdadi. Sebelumnya akar jaringan ini sudah ada di tahun 1999, namun baru secara resmi dipublikasikan pada tahun 2014. Dengan kedok membela agama Islam dan membangun kekhilafahan, ISIS mendapatkan simpati dari masyarakat yang menginginkan Islam sebagai landasan sebuah negera.

Tercatat bahwa dalam waktu singkat, ISIS memiliki pasukan militansi dari berbagai negara dari Eropa, Amerika Serikat, Afrika, dan Asia. Di Indonesia, ISIS mampu merebut simpati kelompok teroris seperti Jamaah Islamiyah (JI) pimpinan Abu Bakar Baasyir, Jamaah Ansharut Daulah (JAD), Jamaah Ansharut Khilafah (JAK), Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kora, Santoso atau Abu Wardah, Muhammad Basri alias Bagong, dan kelompok Jamaah Ansharut Tauhid (JAT).

Selain itu, ISIS merupakan salah satu kelompok teroris terkaya di dunia dengan memiliki penghasilan 15 Triliun pertahun, penghasilan tersebut berasal dari perampasan ladang minyak di Irak dan Suriah, perampokan bank, dan pasar gelap. Hal itu membuat ISIS masuk dalam jajaran 10 kelompok teroris paling berbahaya bagi dunia, akibatnya Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) membuat daftar hitam bagi kelompok tersebut.

Melihat fakta tersebut, tidak ayal simpatisan berbondong-bondong masuk ke dalam kelompok ISIS, selain faktor agama, sosial dan ekonomi menjadi tujuan utama setiap simpatisan yang bergabung. Seperti yang dijanjikan oleh amir ISIS, Abu Bakar Al-Baghdadi, ‘ setiap orang yang bergabung dalam Daulah Islamiyah atau ISIS akan dijamin ekonomi dan kesehatannya’ seperti yang diungkapkan Febri Ramdani, mantan pengikut ISIS dalam bukunya’ 300 Hari di Bumi Syam, Perjalanan Seorang Mantan Pengikut ISIS’. Lainnya di ungkapkan dalam buku Dr. Didik Novi Rahmanto ‘ Returnees Indonesia, Membongkar Janji Manis ISIS’.

Kedua motif tersebut mengambarkan secara nyata, bahwa sejatinya simpatisan bukan lagi konotasi real agama, namun sudah ditambahkan motif sosial dan ekonomi. Selain itu, para simpatisan bukan berasal dari keyakinan agama yang sama, contohnya, Komandan perang ISIS yang berasal dari Eropa memiliki keyakinan agama kristiani. Hal tersebut dibenarkan oleh amir ISIS Abu Bakar Al-Baghdadi dengan menambahkan kata ‘menjamin kemaslahatan ekonomi dan jaminan kesehatan’.

Dalam dunia marketing, kata diskon ataupun buy one get one tentu memiliki pengaruh kepada pisikis manajemen pemasaran, sama halnya seperti saat ISIS menproklamir berdirinya organisasi tersebut, dengan membubuhi kata-kata ‘kemaslahatan ekonomi dan kesehatan’ akan menarik minat orang-orang yang tidak mengerti apa tujuan dari kelompok tersebut. Secara harfiah, sangat mungkin orang bergabung dalam kelompok tersebut hanya sekadar mencari kemaslahatan ekonomi apalagi dijanjikan yang tidak melakukan perang tetap dijamin ekonominya.

Dalam konteks kelompok teroris, agama manapun tidak ada dalil yang membenarkan baik agama Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan Konghucu. Tidak ada satu ayat ataupun satu ajaran perihal pembenaran terhadap mereka. Dengan demikian, mengangap teroris sebagai kelompok pejuang Islam tentunya tidak bisa dibenarkan, seperti yang digambarkan dalam al-Quran, surah Al Mujadalah: 18, Hari di mana Allah membangkitkan mereka, lalu mereka bersumpah untuk Allah, sebagaimana dahulu mereka bersumpah. Mereka mengira bahwa mereka di atas seseuatu kebenaran, ketahuilah bahwa mereka adalah pendusta.

Coba sama-sama kita perhatikan sifat kelompok teroris seperti Al-Qaeda, ISIS, Jabhat al-Nusra, Bako Haram, dan Jamaah Islamiyah (JI), sifat mereka selalu percaya diri mereka kelewat batas, sehingga sangat cocok digambarkan sebagai pendusta yang berlindung kepada sebuah agama. Setiap engagement atau ketertarikan antara kelompok teroris dan simpatisan merupakan ketertarikan antara visi dan value ekonomis, jabatan, dan sosial.