Beberapa waktu yang lalu, belakangan ini sering terjadi seseorang atau kelompok orang yang menyebarkan ujaran kebencian melalui dakwah. Munculnya individu tersebut tak lepas dari dukungan para pengikut yang tak bisa dalam mamilah ustadz untuk bahan pencerahan. Parahnya lagi, individu yang disebut pendakwah itu diundang dengan tokoh yang berilmu.
Contohnya seperti kasus Sugi Nur kemarin. Individu yang katanya dipanggil ustadz itu, akhir-akhir ini membuat heboh jagad maya atas omongannya yang meresahkan negeri ini, khususnya warga Nahdliyyin. Dia telah sengaja berbohong dan melecehkan organisasi Nahdlatul Ulama (NU), Ulama NU, serta warga NU demi popularitas dan kepentingannya sendiri. Kita jangan jadikan Sugi Nur sebagai rujukan pendakwah. Bisa bahaya nantinya.
Awal mula kejadian tersebut, ketika beredar video yang sengaja disebar di channel youtube milik Refly Harun, lalu video tersebut mulai tersebar ke pelbagai media sosial, sehingga menyakiti hati warga Nahdliyyin. Celakanya, dia menyebut NU dengan kata bus, tokoh NU KH. Said Aqil Siraj dengan sebutan supirnya, kondekturnya Gus Yaqut, serta penumpangnya “warga NU” dengan sebutan liberal, sekuler, PKI, merokok, minum, dan lai-lain. Perkataan itu otomatis mencemari nama baik keluarga besar NU.
Padahal NU tidak seperti yang disebut Sugi Nur. NU adalah organisasi yang mempunyai peran sentral dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. NU saat ini telah menjadi benteng NKRI dalam menghadang upaya seseorang atau kelompok untuk berbuat tindakan radikal dan intoleransi. Ulama NU juga menginstruksikan kepada pengikutnya untuk turut serta membantu pemerintah dalam menyebarkan paham toleransi.
Nahdlatul Ulama merupakan perkumpulan kiai yang mencoba membangkitkan semangat para pengikutnya dan juga masyarakat Indonesia pada umumnya. Oleh karena itu, kiai pesantren dalam NU memiliki kedudukan yang sentral, baik sebagai pendiri, pemimpin, maupun sebagai panutan warga Nahdliyin (Ali Maschan Moesa, 2007).
Para ulama NU berjuang melalui dakwah lembutnya yang membuat warga NU sangat mencintai guru dan kiai NU. Dan dalam perjalanannya, tidak ada satupun ulama NU ketika berdakwah menyebarkan ujaran kebencian. Kecuali jika kiai NU diusik atau dihina oleh orang lain, maka warga NU akan mencari orang itu dan akan diselesaikan secara kekeluargaan. Di sini ucapan Sugi Nur sudah terbantahkan.
Ketika berbicara di video itu, Sugi Nur mengaku dirinya sebagai warga NU, tetapi dia dengan bangganya menghina NU. Hal itu tidak sesuai dengan sifat warga NU aslinya. KH. Maimun Zubair atau yang kita kenal sebagai Mbah Moen pernah berkata, warga NU harus cinta NU sekaligus cinta negara. Warga Nahdliyin harus selalu menjaga Indonesia, harus aktif melestarikan Indonesia (Ustadz H. Makmun Kholil, 2019). Maksudnya adalah jika ada Warga NU yang merendahkan NU, maka dia adalah orang lain yang ngaku-ngaku jadi warga NU.
Di sisi lain, Sugi Nur saat berdakwah sering kali memunculkan kontroversi yang membuat adu domba pengikutnya, sehingga menimbulkan kebencian antar individu. Maka dari itu, di sini kita harus pandai dalam memilih ulama untuk dijadikan guru dalam berkehidupan. Selain Sugi Nur, ada beberapa tokoh provokatif yang banyak dijadikan panutan olah orang-orang, bahkan dengan mudah mendapat respons positif dari sebagian publik. Hal itu merupakan kemunduran peradaban kita.
Kita harus mencari guru seperti Mbah Moen serta mencontohnya. Dalam setiap ceramah, Mbah Moen selalu mengajak santrinya untuk menjaga persatuan dan kesatuan walau dalam perbedaan. Karena bangsa ini lahir dan bertahan atas dasar masyarakatnya yang menghargai kemajemukan. Mbah Moen pernah berpesan: jadilah orang yang nasionalis, berpikiran luas dan tetap NU (Ustadz H. Makmun Kholil, 2019).
Sementara itu, ada ulama sekaligus pendiri NU, KH. Hasyim Asy’ari atau Mbah Hasyim yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap kesejahteraan umat, bangsa serta negara. Dan mencarikan solusi terbaik untuk menyelamatkan kehidupan yang toleran. Hal itu merupakan bentuk kecintaan Mbah Hasyim untuk menjaga keutuhan negeri ini agar tidak ada yang merusak keharmonian Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.
Dalam sejarahnya, peran Mbah Hasyim adalah simbol ulama nasionalis, yang hidupnya dipersembahkan untuk kemerdekaan dan kemajuan bangsa. Peran Mbah Hasyim dalam kemerdekaan tidaklah diragukan lagi. Ia berjibaku melawan penjajah dan tak mau bertekuk lutut pada kehendak mereka. Tak hanya itu, ia turut membangun bangsa ini melalui pendidikan keagamaan dan keilmuannya yang memperkukuh semangat kebangsaan dan kemajuan bangsa (Zuhairi Misrawi, 2010).
Di sisi lain, Wali Songo ketika berdakwah di Nusantara mempunyai strategi yang damai, dan menggunakan proses penyesuaian. Ada beberapa langkah yang digunakan Wali Songo ketika berdakwah. Pertama, tadrij (bertahap). Kedua, adamul haraj (tidak menyakiti). Pada saat itu, para Wali sadar betul, bahwa kenusantaraan yang multietnis, multikultural, dan multibahasa adalah anugrah Allah yang tiada tara (KH. Said Aqil Siraj, 2012).
Maka dari itu, semua itu harus kita syukuri dengan melestarikan dan mengembangkan apa yang telah hidup di bumi Nusantara ini. Jangan sampai kemurnian itu tergerus dengan orang-orang yang ingin mengambilalih Nusantara dan ingin mengubahnya dengan hal-hal yang merusak bangsa. Dakwah Wali Songo sudah seharusnya kita pelajari untuk menjadikannya rujukan dalam mencari guru yang dakwahnya menyejukkan. Bukan seperti Sugi Nur yang suka mengkambinghitamkan masyarakat Indonesia, khususnya NU dan warganya, untuk menciptakan keresahan.
Dari penjelasan di atas, fitnah yang disampaikan Sugi Nur ke NU tidak benar, bahkan fitnah itu tertuju pada dirinya. Apa yang dia katakan bisa jadi adalah kebiasaan yang dilakukannya. Pada realitasnya, para kiai NU saat ini selalu mengupayakan dan berusaha keras saat berdakwah untuk menyebarkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika serta menanamkan benih-benih toleransi ke dalam jiwa masyarakat.
Oleh karena itu, jika kita membiarkan Sugi Nur terus-menerus menyebarkan fitnah dan ujaran kebencian, maka kita akan terus memberi ruang orang yang tidak jelas. Dan akan berdampak buruk bagi kehidupan masyarakat negeri ini. Kita sebagai masyarakat harus mengambil sikap tegas dan berani. Kita harus segera melaporkan tindakan ujaran kebencian ke pihak berwajib, karena itu adalah kewajiban kita untuk membendung segala bentuk upaya yang ingin merusak keharmonian bangsa ini.
Dengan demikian, pandailah memilih ulama untuk dijadikan guru dalam kehidupan. Jadikan ulama dan para kiai NU panutan, karena dalam berdakwah, ulama dan para kiai NU selalu menyebarkan keindahan dan toleransi. Faktanya, bahwa kiai NU adalah kiai yang rela dengan hati berjuang dengan dakwahnya untuk keharmonisan, kesatuan dan persatuan bangsa. Dakwah kiai NU adalah dakwah yang ramah bukan dakwah yang marah.