Melawan Ekstremisme di Kalangan Artis

0
103
WhatsApp
Twitter

Ekstremisme kini tak hanya menyebar pada ustadz-ustadz dan kaum muda. Lebih dari itu, banyak dari kalangan artis yang ikut terjebak pada ekstremisme. Hal ini ditandai oleh fenomena artis hijrah yang dekat dengan ustadz-ustadz pro-khilafah. Sebut saja Arie Utung, Tengku Wisnu, Irwansyah, keluarga Sungkar, Dimas Seto dan lain-lain. Bahkan, Ahmad Dhani, musisi idola anak 90-an pun ikut terjerembab pada lingkaran ekstremisme karena kedekatannya dengan Felix Siauw. Apa sebenarnya ekstremisme itu?

Dalam buku Wasathiyyah karya Quraish Shihab, sikap ekstrem dimaknai sebagai penyimpangan dari norma dan nilai-nilai umum serta adat istiadat yang dianut suatu masyarakat, baik yang menampilkan penentangan maupun yang tidak. Sikap esktrem juga dipandang sebagai suatu paham yang melampaui batas kewajaran.

Sementara USAID (United States Agency for International Development), sebagaimana dikutip Amin Mudzakkir dkk dalam Menghalau Ekstremisme mendefinisikan ekstremisme sebagai “sokongan, pelibatan diri, penyiapan, atau paling tidak, dukungan terhadap kekerasan yang dimotivasi dan dibenarkan secara ideologis untuk meraih tujuan-tujuan sosial, ekonomi, dan politik.”

Secara sederhana, ekstremisme dapat diartikan sebagai paham, sikap, atau tindakan individu atau kelompok yang menuntut suatu perubahan secara berlebihan, dengan cara yang keras, dalam rangka membangun masyarakat yang homogen sesuai dengan ideologi atau agama tertentu.

Paham ekstrem, awalnya muncul dari fundamentalisme agama. Dari fundamentalisme, berkembang menjadi radikalisme. Lebih jauh lagi, jika radikalisme dibiarkan, maka ia akan berkembang menjadi ekstremisme. Pada puncaknya, ekstremisme akan berujung pada terorisme. Dengan kata lain, terorisme merupakan proses kristalisasi dari benih-benih fundamentalisme, radikalisme, dan ekstremisme yang dibiarkan tumbuh subur. Membiarkan ketiganya tumbuh subur, sama halnya membiarkan bom waktu terorisme terus berkembang tanpa kendali. Tentunya hal ini sangat berbahaya.

Fenomena artis yang masuk dalam lingkaran ektremisme perlu menjadi perhatian. Kenapa seorang artis, publik figur, punya popularitas, malah memilih jalan ekstrem dengan mendukung khilafah HTI? Karenanya, perlu ditelisik lebih dalam lagi. Apa penyebab munculnya ekstremisme?

Sebenarnya, banyak faktor yang melatarbelakangi seseorang terjebak pada ekstremisme. Para psikolog misalnya, menyebut faktor kejiwaan sebagai pemicu utamanya. Sementara sosiolog, menyebut kondisi sosial politik menjadi penyebabnya. Ada juga yang menyebut, ekstremisme muncul karena faktor ekonomi dan ketimpangan sosial.

Namun, dalam konteks ini, ekstremisme ini muncul dikarenakan beberapa sebab. Pertama, lemahnya pengetahuan tentang agama. Adapun indikasi seseorang yang lemah dalam pengetahuan agamanya menyebabkan ia memahami nash atau ayat secara tekstual. Mereka selalu mempermasalahkan persoalan furu’iyyah dibanding persoalan yang subtantif dalam agama, mudah sekali mengharamkan sesuatu, memahami al-Quran hanya dari terjemahan, dan lain-lain.

Kedua, lemahnya pengetahuan sejarah. Selain pemahaman terhadap agama yang lemah, lemahnya pengetahuan terkait sejarah juga menjadi penyebab seseorang terjerembab dalam ekstremisme. Ketidaktahuan seseorang terhadap sejarah akan menjadikan ia mudah sekali dijerumuskan pada pemahaman yang keliru, termasuk ustadz-ustadz pop yang memiliki pemahaman yang ekstrem.

Selain itu, indikasi seseorang terjebak pada ekstremisme terjadi tatkala ia mulai menutup dirinya untuk menerima perbedaan cara berpikir, merasa pemahaman dia yang paling benar dan superior, serta mengajak orang lain untuk memiliki cara berpikir yang sama dengan dirinya. Semua itu dilakukan melalui berbagai cara, dari yang persuasif hingga paksaan, intimidasi, dan berbagai bentuk lainnya, bahkan kekerasan sekalipun.

Dalam konteks fenomena artis, kenapa mereka bisa terjebak pada lingkaran ekstremisme? Bisa jadi, faktor utamanya karena lemahnya pengetahuan agama yang mereka miliki. Sebagai artis, publik figur yang bergelut dalam dunia hiburan dengan berbagai tuntutan yang sangat melelahkan. Pada titik tertentu, mungkin mereka merasa jenuh dan kering dalam hal spiritualitas. Maka, larilah mereka pada agama agar menemukan kedamaian dan makna. Namun sayangnya, dalam usaha pencariannya menemukan makna dalam agama, ia bertemu pada ustadz-ustadz pop yang berpaham ekstrem. Di sinilah pangkal masalahnya.

Di sisi lain, ketidakpahaman terhadap sejarah, menjadikan mereka dengan mudah menerima apa yang disampaikan oleh ustadz-ustadz pop yang mereka ikuti dan membenarkannya. Bahkan, dengan sangat ekstrem menyatakan dukungannya terhadap khilafah HTI yang jelas-jelas bertentangan dan melanggar konsesus negara, yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Di samping mengkhianati sejarah perjuangan pahlawan yang berdarah-darah untuk kemerdekaan bangsa ini. Ironis bukan?

Karenanya, perlu upaya untuk melawan ekstremisme yang berkembang di kalangan artis belakangan ini. Habib Quraish Shihab dalam buku Wasathiyyah menawarkan wasathiyyah atau moderasi sebagai jalan melawan ekstremisme. Artinya, nilai-nilai seperti toleran, moderat, adil perlu menjadi pedoman dalam setiap pola pikir dan tindak lampahnya. Meminjam istilah Pramoedya Ananta Toer, “adil sejak dalam pikiran”. Jika seseorang telah adil, moderat, dan toleran sejak dalam pikirannya, maka tindak lampah yang keluar pastinya jauh dari perilaku ekstrem.

Maka dari itu, sudah seharusnya para artis hendaknya belajar agama dan mendalami agama, bisa belajar kepada ustadz-ustadz moderat dibanding belajar agama pada ustadz ekstrem, yang pada akhirnya akan terjebak dalam lingkaran ekstremisme. Sebagai contoh, mereka bisa belajar dari Kiai-Kiai NU dan Muhammadiyah yang jelas-jelas lebih moderat pemahaman keagamaannya, seperti Gus Baha, Gus Nadirsyah Hosen, Gus Miftah, dan lainnya.

Gus Miftah misalnya, ia adalah seorang ustadz dekat dengan semua kalangan. Ia dikenal sebagai ulama muda Nahdlatul Ulama yang fokus berdakwah bagi kaum marjinal, baik melalui dakwah di dalam maupun di luar pesantren. Bahkan, dakwah Gus Miftah berlanjut sampai ke klub malam dan juga ‘salon plus-plus’. Meski demikian, Gus Miftah adalah seorang ustadz yang moderat, yang mana dalam tiap dakwahnya juga menyisipkan pesan-pesan kebangsaan.

Akhir kata, upaya melawan ekstremisme di kalangan artis khususnya, harus dimulai dari lingkaran ekstrem para artis masing-masing. Jika para artis sebagai publik figur malah mencontohkan yang demikian, maka bisa dikatakan mereka turut menyuburkan benih-benih ekstremisme yang berkembang di negeri ini.

Sebaliknya, jika mereka mau berhijrah pada narasi wasathiyyah dengan belajar agama dari ustadz-ustadz moderat, maka mereka juga turut menjaga warisan leluhur bangsa ini. Melaksanakan wasathiyyah berarti melawan ekstremisme itu sendiri.[]