Petugas Kepolisian Polrestabes Bandung mengamankan pemuda berinisial KW, pengguna media sosial Tiktok @kenwilboy pada Senin (5/10). Pasalnya, ia membuat konten dengan cara merekam dirinya di depan masjid Aliyah Persatuan Islam (Persis) Satu Dua di jalan Pajagalan, Bandung. Seolah masjid tersebut melantunkan musik diskotik, yang tak lain musik yang dimasukkan sendiri. Parahnya, video tersebut diunggahnya hanya untuk menaikkan jumlah pengikut.
Konten hoaks SARA itu mengundang kemarahan publik, karena dianggap berita bohong. Dilansir dari Kompas TV, Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Ulung Sampurna Jaya menyampaikan, “KW terjerat undang-undang ITE dan terancam 6 tahun penjara.”
Menghalalkan segala cara untuk meraih popularitas secara instan bukan lagi fenomena baru di media sosial. Sebelumnya, seorang youtuber mengunggah video dirinya memakan semangkuk mie yang ditaburi bubuk deterjen. Video tersebut sukses mendapat banyak perhatian dan respons publik. Tetapi perlu diketahui, kerugian yang dialaminya kemudian, jauh lebih besar dari jumlah penonton videonya. Betapa akal sehat dan akhlak yang baik diabaikan demi viralnya konten yang dibuat.
Popularitas dipandang sebelah mata, ia kerap diagungkan dan dicita-citakan oleh kebanyakan pengguna media sosial, khususnya kids zaman now. Mereka berpikir, menjadi seseorang yang popular akan meraih banyak keuntungan. Ia akan mendapat pemasukan dari endorsement di Instagram atau mendapat uang dari iklan dan viewers di Youtube.
Mereka mengira, popularitas hanya akan melahirkan kemudahan. Mereka akan menjadi pusat perhatian dan mempunyai banyak penggemar (fans), yang katanya, terus memotivasi sang idola. Padahal, popularitas tidak serta-merta membuat hidup aman dan bahagia, tidak sedikit orang-orang terkenal justru memilih untuk mengakhiri hidupnya.
Di sisi lain, unggahan konten ‘tidak lazim’, seperti masjid yang membunyikan musik diskotik dan seseorang yang memakan bubuk detergen, sangat berseberangan dengan praktik teori Communication Privacy Management (CPM) atau Teori Manajemen Komunikasi Privasi yang dikenalkan oleh Sandra Petronio (2002). Konten tak lazim tersebut, menabrak dinding etika komunikasi privasi. Boundaries (batasan), salah satu dari 6 prinsip utama teori CPM yang memisahkan antara informasi publik dan informasi pribadi, mengatur apa saja yang dapat dikategorikan sebagai batasan pribadi dan batasan publik.
Secara sederhana, manajemen komunikasi privasi merupakan solusi efektif bagi pengguna media sosial. Mempertimbangkan antara informasi pribadi dan publik sebelum mempublikasikan konten ke jagat maya. Mempertimbangkan matang-matang, apakah suatu konten perlu diunggah atau cukup dikonsumsi diri sendiri saja? Apakah konten yang diunggah akan menyinggung pihak lain, bahkan memengaruhi tindakan orang lain atau tidak? Bisa jadi, konten yang kita anggap menarik, langka, dan baik justru merugikan baik diri sendiri maupun orang lain, bahkan menjerumuskan diri sendiri ke balik jeruji besi.
Akhlak tidak hanya dibutuhkan dalam komunikasi langsung di masyarakat, di era digital, akhlak sangat diperlukan dalam berselancar di media sosial. Akhlak yang baik akan melahirkan kesejahteraan dalam kehidupan diri sendiri dan orang sekitar. Sebaliknya, akhlak yang buruk melahirkan keresahan dan kemarahan.
Sejarah mencatat, pada masa Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bernama Uwais al-Qarni, yang tinggal bersama ibunya di Yaman. Ia memiliki keinginan yang kuat untuk menemui Nabi SAW. Setelah diberi izin oleh ibunya, lantas ia bergegas pergi ke Madinah. Namun, saat ia tiba di depan rumah Nabi Muhammad SAW, Aisyah r.a., istri Nabi SAW menyampaikan bahwa Nabi sedang berada di medan perang. Uwais pun dengan berat hati segera melangkah kembali ke Yaman untuk menjaga ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan. Akhlak yang baik terhadap seorang ibu, begitu kuat terpancar dari sosok Uwais, sehingga ia dikenal oleh penduduk langit karena akhlak al-karimahnya.
Dikenal karena berbuat baik, jauh lebih mulia daripada dikenal karena keburukan yang diperbuat. Jangan sampai kita benar-benar merefleksikan pepatah ‘jika kamu ingin terkenal, maka kencingi sumur zam-zam’. Selain dikenal karena keburukannya, juga dikenal sebagai sampah masyarakat, yang merugikan umat.
Maka dari itu, pertimbangkan segala ucapan dan tindakan anda di media sosial. Junjung tinggi akhlak, karena ia salah satu kunci keselamatan di dunia. Utamakan akhlak di atas viral, bukan sebaliknya. Karena haus ketenaran, hanya akan menjerumuskan ke dalam penjara.[]