Muhammad Hatta sebagai salah satu founding father bagi perjuangan dan kemerdekaan bangsa Indonesia. Ia identik dengan pemikiran yang memiliki visi jauh ke depan dibanding dengan tokoh-tokoh lain di zamannya. Pemikiran sosialisme Bung Hatta dipengaruhi oleh tradisi Islam, tradisi aktif masyarakat Minangkabau dan ajaran Marxisme.
Gagasan sosialisme yang dimiliki Bung Hatta adalah usaha untuk merelevansikan nilai-nilai sosial dalam ajaran Islam dengan konsep-konsep sosialisme. Jika paham komunis adalah cara untuk mencapai masyarakat yang sosialis menurut Marx, maka Islam pun kata Hatta juga dapat menjadi jalan menjadi jalan untuk mewujudkan masyarakat yang sosialis di Indonesia. Pemikiran ini, bagi bangsa adalah sebagai ide perjuangan untuk melawan ideologi kolonial yakni kapitalis, kolonialis, dan imperialisme.
Tidak dapat dipungkiri, bahwa Islam diturunkan ke bumi ini memang mengajarkan konsep-konsep sosial yang berbau kesetaraan. Salah satu contoh yang bisa kita ambil sebagai gambaran, tertuang jelas dalam al-Quran surat Al-Jumaat ayat 9 yang berisi tentang kewajiban menunaikan sholat Jumat. Dari ayat ini, jika kita kaji dengan pendekatan sosial, yakni Allah SWT mewajibkan seluruh umatnya dari golongan laki-laki untuk menunaikan shalat Jum’at di waktu yang sudah ditentukan dan waktu yang sudah ditetapkan. Allah tidak pernah membuat klasifikasi atau pembeda dalam firmannya antara yang miskin dan kaya, ataupun yang berpangkat dengan masyarakat sipil.
Konsep-konsep Islam inilah yang bila dijabarkan ke dalam ilmu umum disebut sosialisme. Namun, istilah sosialisme baru dikemukakan oleh tokoh Barat seperti Karl Marx dan Engels pada abad ke-19. Padahal, konsep sosialisme telah lahir sejak Islam hadir di dunia ini, meski dengan nama yang lain.
Pendapat ini dibenarkan oleh Haji Agus Salim yang mengatakan, sosialisme sebenarnya sudah mulai diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW 12 abad yang lampau sebelum Karl Marx mengajarkan sosialisme. Sayangnya, para ulama kita hanya terfokus pada ibadah dan fikihnya saja dan melupakan segi kemasyarakatannya itu.
Pada era Karl Marx, yang melatarbelakangi munculnya sosialisme, konon disebabkan atas sebuah pandangan bahwa eksploitasi merupakan tindakan yang tidak bermoral. Selain itu, gagasan sosialisme adalah gagasan yang menuntut kesetaraan dalam hal kehidupan.
Muhammad Hatta atau yang kita kenal Bapak Proklamator, lahir di Bukittinggi pada 12 Agustus 1902. Beliau mempunyai segudang pemikiran yang menjadi salah satunya adalah pandangan terhadap Sosialisme Islam. Awal mula Bung Hatta mengenal ideologi Sosialisme Islam yaitu saat pertemuannya dengan Haji Agus Salim.
Bung Hatta juga dijuluki sebagai Bapak Koperasi Indonesia, dan di kalangan pemikir modern dikenal sebagai penggagas ekonomi kerakayatan. Beliau adalah seorang Bumipoetra dari generasi pertama yang mendapat didikan Barat dari Belanda. Gelar Doktor dibidang Ekonomi disandangnya pada tahun 1932 di Perguruan Tinggi Roterdam Handelshogeschool.
Konsep Sosialisme Islam yang di sampaikan Bung Hatta, adalah bagaimana merelevansikan nilai-nilai keislaman. Menurut Hatta, sosialisme dan Islam adalah dua kutub yang tak bertentangan. Mereka mempunyai tujuan yang sama, yakni kesetaraan dan keadilan sosial.
Pemikiran Sosialisme Islam yang dimiliki Bung Hatta ini, tak bisa dilepaskan dari perjalanan hidupnya yang mempengaruhi. Pemikiran ini dilandasi oleh unsur-unsur pembawaan keluarga dan pemikiran dari luar dirinya. Keluarga Hatta dari pihak ayah adalah seorang ahli tarekat, dikenal sebagai pembaharu Islam di Minangkabau. Sedangkan dari pihak ibu adalah seorang pedagang yang mengajarkan prinsip kedisiplinan dan kesamarataan.
Kemudian untuk pengaruh pemikiran dari luar diri Bung Hatta berasal dari buku-buku yang dibacanya seperti De Socialisten dan tokoh-tokoh nasional yang ditemuinya. Di antara tokoh-tokoh nasional itu seperti HOS Tjokroaminoto dan Haji Agus Salim.
Sejarah perjalanan Bung Hatta mulai dari Buktittinggi, Padang, Batavi, Belanda, dan keliling dunia, untuk mempropagandakan nama Indonesia lewat organisasi Perhimpunan Indonesia, membuat ia bertemu dengan berbagai macam pemikiran, mulai dari yang toleran, sampai yang radikal.
Pemikiran Sosialisme Islam di indonesia sendiri diawali oleh dua tokoh besar yakni HOS Tjokroaminoto dan Haji Agus Salim. Datangnya paham ini disambut baik oleh masyarakat. Dalam perkembangannya yang masif ini, paham Sosialisme Islam kemudian dijadikan sebagai ideologi Partai Sarekat Islam.
Mohammad Hatta sebagai seorang pahlawan nasional dengan track record Sosialisme Islam, menggunakan paradigma ini sebagai dasar pemikiran dari ekonomi sosialis Indonesia seperti yang pernah ditulisnya. Artikel yang dikarangnya dengan judul Persoalan Ekonomi Sosialis Indonesia pada tahun 1963, menerapkan pandangan sosialisme berasaskan Islam yang beliau uraikan dalam pidatonya di Universitas Sun Yat Sen, Tiongkok pada tanggal 11 Oktober 1957. Sumber lahirnya sosialisme di Indonesia menurut Bung Hatta disebabkan oleh tiga hal. Pertama, sosialisme Indonesia timbul karena perintah agama, karena adanya etika agama yang menghendaki adanya rasa persaudaraan dan tolong menolong antar sesama manusia.
Kedua, sosialisme Indonesia merupakan ekspresi jiwa dari berontak bangsa yang memperolah perlakuan tidak adil dari para penjajah Belanda. Ketiga, para pemimpin yang tak bisa menerima Marxisme sebagai pandangan yang berdasarkan materealisme mencoba mencari sumber alternatif sosialisme yang beraal dari tubuh masyarakat Indonesia, yakni kolektivitasme masyarakat.
Sosialisme yang dimiliki Hatta adalah sebuah upaya untuk merelvansikan antara paham sosialisme dan Islam yang selalu dipertentangkan oleh umat manusia. Bagaimana Hatta menyampaikan uraian-uraiannya tentang kesesuaian nilai-nilai Islam dengan nilai-nilai sosialisme seperti tak ada kepemilikkan pribadi di dunia ini.
Berbeda dengan Tjokroaminoto dan Haji Agus Salim yang mengurai Sosialisme Islam yang terlahir dari nilai-nilai sosial yang terkandung dalam Islam. Tjokro dan Salim tak pernah mengkorelasikan antara Islam dan sosialisme, hanya Islam saja yang diurai sebagai pencetus ide-ide sosialisme, seperti yang pernah di sampaikan Tjokro.
Jadi, bisa dikatakan bahwa, Sosialisme Islam Hatta berbeda dengan Tjokroaminoto dan Agus Salim, yang menurut analisis saya karena adanya kemungkinan Tjokro dan Salim membenci ideologi Barat seperti sosialisme. Oleh karena faktor itulah keduanya enggan mengkorelasikannya dengan Islam, tetapi malah mencari nilai-nilai sosialisme itu di dalam Islam.
Meskipun ada perbedaan tentang pandangan Sosialisme Islam, akan tetapi esensinya tetap sama, yakni mencari ide dasar perjuangan melawan untuk melawan penjajahan. Dalam hal ini Hatta memiliki jalan pemikiran kedua selain Islam sebagai timbulnya sosialisme di Indonesia, yakni sosialisme-kolektivitas. Kolektivitas yaitu suatu pergaulan hidup yang berdasarkan persamaan. Di mana kolektivitas sebagai wajah asli dari bangsa ini, seperti gotong-royong dan musyawarah mufakat yang ada di dalam desa-desa kecil. Paham kolektivitas inilah yang hendak dijadikan sosialisme religius Indonesia, karena di Indonesia secara umum terdapat pelbagai agama. Tak elok rasanya, jika hanya Sosialisme Islam saja yang digemakan.
Begitulah sekilas gambaran pemikiran sosialisme Islam ala Bung Hatta. Dimana pemikiran ini berhubungan dengan pemikiran-pemikiran lain yang dimiliki Bung Hatta. Bagaimna para founding father kita mencoba mencari ide-ide dasar sosialisme yang sesuai dengan bangsa Indonesia. Seorang sosialis tidak harus sorang Marxis, yang terpenting adalah hadirnya gagasan-gagasan tersebut untuk menyejahterakan umat manusia.[]