Memimpikan Milenial Nasionalis

0
167
WhatsApp
Twitter

Di era keberlimpahan teknologi hari ini, Indonesia dihadapkan dengan tantangan besar dalam hal kesadaran berbangsa dan bernegara. Derasnya gempuran produk kebudayaan asing yang terfasilitasi dengan media digital hadir secara luas dan masif. Semangat nasionalisme dan Keindonesiaan milenial pun dinilai semakin luntur. Kondisi ini menjadi persoalan serius bagi masa depan negeri.

Jamak disadari, pasca reformasi 1998, berlimpahnya tantangan pun ditambah dengan permasalahan lain yang mengancam kedaulatan bangsa, seperti kemunculan ideologi yang bersebrangan dengan Pancasila, maraknya radikalisme, dan atau konflik sosial berbasis SARA di media sosial yang hadir mencoret nasionalisme negeri ini. Permasalahan bangsa tersebut pun sedikit banyak menjelaskan bahwa Indonesia sedang dihadapkan dengan tantangan serius terkait nasionalisme, khususnya di kalangan generasi milenial.

Meminjam data dari Hasil survei Alvara Research Center tahun 2018, mengungkap sebanyak 40,9 persen responden generasi milenial Muslim Indonesia berorientasi nasionalis-religius. Sedangkan yang berorientasi nasionalis sebesar 35,8 persen. Sementara milenial Muslim yang berorientasi religius berjumlah 23,3 persen.

Dari data tersebut menunjukkan bahwa meskipun mayoritas generasi milenial Indonesia masih memiliki keberpihakannya terhadap sistem kenegaraan yang dianut sekarang, yaitu negara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Akan tetapi kecenderungan generasi milenial yang berpihak kepada sistem negara berdasarkan agama juga perlu diwaspadai, karena berdasarkan jumlah tersebut dinilai cukup besar. Hal ini yang membuat Indonesia memimpikan generasi milenial yang nasionalis.

Kurangnya pemahaman tentang substansi nilai-nilai Pancasila dan penerapannya menjadikan generasi milenial yang tergabung dalam kelompok radikal tertentu. Tujuannya tentu jelas, yaitu ingin mendirikan negara Islam di Indonesia. Mayoritas gerakan yang terorganisir pada kegiatan seperti demo atas nama membela agama, reuni di bawah kepentingan, seminar nasional, dan ekspansi penerbitan buku dan penyebaran buletin di banyak masjid-masjid pelakunya adalah generasi milenial.

Meskipun masih banyak milenial yang mendukung Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan mempertahankan Pancasila, gerakan-gerakan yang mengancam keutuhan NKRI tersebut tidak bisa dianggap remeh dan sepele. Apabila target kelompok radikal itu adalah kalangan milenial, maka jika tidak ditanggapi serius, artinya akan menyebabkan gangguan stabilitas keutuhan nasional yang kian luntur, bahkan redup.

Jika mengacu pemahaman nasionalisme di Indonesia, tentunya tidak dapat dipisahkan dari berbagai prinsip kehidupan yang diuraikan melalui nilai-nilai Pancasila. Salah satu nilai dari Pancasila adalah fleksibel. Dalam konteks fleksibel ini, Pancasila dinilai dapat mengikuti arus perkembangan zaman. Artinya, bagaimana pun perubahan besar pada globalisasi dan maraknya radikalisme ini, Pancasila masih dinilai relevan untuk diterapkan.

Pada prinsipnya nasionalisme Pancasila yang harus dimiliki generasi milenial adalah pandangan atau paham kecintaannya terhadap Tanah Air. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, seperti nilai persatuan, gotong-royong, keadilan, dan kemanusiaan sangat dibutuhkan dalam memupuk kembali nasionalisme, khususnya di kalangan milenial.

Saat ini, waktunya nasionalisme di kalangan milenial bangkit dan berkobar kembali. Ancaman yang datang bukan lagi dari bangsa lain, tetapi sesama rakyat Indonesia yang salah memahami konsep bangsa. Jika masih saja terlena dan berfikir demi kepentingan diri sendiri, siapa lagi yang bertanggung jawab atas keamanan dan persatuan. Ketika benih-benih perpecahan mulai muncul, membangun kesadaran dan kepekaan sosial dari diri sendiri menjadi langkah menjadi awal pondasi kebangkitan semangat milenial hari ini. Antusiasme akan berkobar tatkala kecintaannya pada negara sudah menancap pada jiwa.

Dengan demikian, Indonesia masih membutuhkan nasionalisme di kalangan milenial untuk terus menjaga dan merawat kesatuan dan persatuan Indonesia. Jangan sampai nasionalisme hanya sebagai mimpi belaka. Akrabnya milenial dengan teknologi menjadi kekuatan besar bagi bangsa Indonesia di tengah arus globalisasi. Potensi ini tentu merupakan investasi bagi Tanah Air. Membangun antuasiasme dalam memperjuangkan negara sebagai ekspresi nasionalisme yang dimiliki milenial adalah bentuk cita-cita tinggi peradaban bangsa.[]