Kebebasan ala Rabi’ah al-Adawiyah

0
51
WhatsApp
Twitter

Manusia modern di era global ini, menghadapi kegersangan makna hidup yang bersumber pada tekanan aspek material kehidupan. Materilalisme merupakan belenggu bagi ide-ide kebebasan dan kemerdekaan manusia sesungguhnya. Dimensi spiritual ajaran Islam, memberikan pandangan yang khas tentang kebebasan dan kemerdekaan. Quraish Shihab, menganalisis esensi kebebasan dan kemerdekaan dalam pandangan Islam saat menafsirkan kata مُحَرَّرًا dalam Surat Ali Imran ayat 35. Di dalam Islam, kemerdekaan manusia terletak pada penghambaan mutlak kepada Allah SWT.

Kata Muharraran dalam penafsiran Quraish Shihab, mengandung makna bebas merdeka dari segala keterikatan, yang dapat membelenggu seseorang dalam mewujudkan kehendak serta identitasnya sebagai hamba Allah SWT. Seorang Muslim tidak tunduk kepada siapapun selain kepada Tuhan, karena ketundukan mengandung arti kerendahan, sedangkan semua manusia telah diciptakan sederajat. Kualitas keimanan kepada Allah, menentukan kadar kemerdekaan seorang hamba. Saat manusia tunduk kepada manusia, dia menambah perbudakan atas dirinya sehingga berkurang pula kadar kemerdekaan dan kebebasannya. Jadi, Kebebasan dan kemerdekaan hakiki bersumber dari spiritualitas ubudiyah.

Di dalam al-Quran, predikat Muharraran merujuk pada sosok perempuan suci, yaitu Maryam AS. Ia mampu melepaskan diri dari segala keterikatan duniawi, demi mengabdi dan tunduk hanya kepada Tuhannya. Maryam AS merupakan sosok teladan atas pengabdian yang total kepada Tuhan, yang menjadi rujukan para salik. Sosok perempuan lain yang mampu memeroleh kebebasan dan kemerdekaan hakiki, melalui praktek spiritual kerohaniaan atau tasawuf adalah Rabiah al-Adawiyah. Ia adalah tokoh sufi perempuan abad ke-2 H dari Bashrah.

Rabi’ah sangat terkenal melalui ajarannya tentang doktrin Cinta (Mahabbah), yaitu cinta yang tidak mementingkan Tuhan untuk kepentingan sendiri. Melalui puisi-puisi mistiknya, ia memperkenalkan teori penyangkalan atas keinginan apapun di dunia dan akhirat, demi penyembahan sejati kepada Tuhan. Sepotong bait puisinya yang terkenal ialah “Cintaku pada Tuhan Yang Maha Penyayang tidak menyisakan ruang untuk membenci Setan”. Selain itu, ia juga dikenang atas perkataannya “Aku hendak membakar surga dengan obor dan memadamkan neraka dengan air ini agar orang tidak lagi mengharapkan surga dan menakutkan neraka dalam ibadahnya.”

Khazanah syair-syair sufistiknya mencerminkan kekuatan karakter independen Rabi’ah. Karakter bebas dan merdeka Rabi’ah semakin kuat dalam citranya justru karena dia adalah seorang perempuan. Rabi’ah adalah mantan budak, tinggal sendirian tanpa kerabat yang diketahui, karena itu ia tidak mengadopsi adat perwalian seperti perempuan pada umumnya. Tidak ada catatan tentang kehidupan Rabi’ah yang melibatkan orang lain sebagai walinya, selain Tuhan.

Menurut pengamatan Erin S. Prus, dalam tesisnya Divine Presence, Gender and The Sufi Spiritual Path, Rabi’ah lolos dari batasan budaya wali laki-laki ini, melalui identitasnya dan status spiritualnya yang tinggi dalam sekte sufi. Ia mendapatkan akses ke etos Islam yang lebih otentik. Mistisisme Rabi’ah, diakui pula sebagai tanggapan terhadap peran dan tuntutan gender yang berlaku dari masyarakat Muslim pada umumnya. Narasi Rabi’ah menampilkan perselisihan suara masyarakat dan suara interpretatif al-Quran di seputar peran jender dan harapan sosial perempuan.

Rabiah al-Adawiyah tidak menikah selama hidupnya. Melalui mistisisme Cinta yang mengabdikan segalanya kepada Tuhan (mahabbah), dia sekaligus menegaskan kebebasannya dari otoritas laki-laki. Michael A Sells, dalam Early Islamic Mysticism, menggambarkan kemampuan Rabi’ah untuk menarik isu jender ini, melalui penolakan-penolakannya pada pernikahan. Ketika seseorang menawarkan pernikahan kepadanya, ia merujuk tawaran itu kepada Tuannya, kekasih ilahi. Menikahinya berarti menikahi tuannya, karena implikasi dari persatuan mistik.

Sejalan dengan analisa tersebut, Leila Ahmed, dalam bukunya yang berjudul Early Islam and the Position of Women, juga mengatakan bahwa kisah Rabi’ah menolak tawaran pernikahan dari banyak Sufi yang mengaguminya, menekankan otonomi dan kemampuannya untuk tetap bebas dari otoritas manusia, yang lebih khususnya adalah laki-laki. Rabi’ah juga mencerminkan proses ‘menjadi’ yang terus-menerus dalam pendekatannya terhadap keyakinannya.

Sejarah Rabi’ah sebagai budak yang dimerdekakan, serta gaya hidupnya yang mistik, memungkinkannya untuk melampaui banyak ekspektasi sosial. Ia dihormati dan memiliki otonomi lebih dari yang biasanya diterima oleh perempuan. ‘Alauddin Al-Aththar mengatakan Rabi’ah al-Adawiyah adalah bagaikan Maryam kedua, seorang perawan sepanjang hidup yang murni dan bersih.

Dengan demikian, kebebasan yang diraih oleh Rabiah al-Adawiyah adalah kebebasan hakiki. Kecintaannya kepada Tuhan telah membawanya mencapai spiritualitas yang agung, terlepas dari belenggu-belenggu material. Bagi Rabi’ah, urusan dunia adalah persoalan yang tidak ada dalam perhitungannya. Ia tidak ingin lalai sekejap pun dari penghambaanya yang konstan dengan Allah SWT. Ia adalah salah satu dari sekian wanita yang menikmati kemerdekaan sejati. Rabi’ah al-Adawiyah sufi cinta, perempuan mulia.[]