Bung Karno dan Perjuangan Perempuan Membangun Republik

0
190
WhatsApp
Twitter

Pasca peritiwa G30/S PKI, tahun 1965, kekuasaan Presiden Soekarno berada di ujung tanduk. Namun suaranya masih berapi-api dalam menyampaikan pidato dalam rapat umum Hari Perempuan Internasional, tanggal 08 Maret 1966. Ia mengumandangkan perjuangan melawan kapitalisme, imprealisme dan peranan perempuan.

Terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tak lepas dari peran dan perjuangan kaum perempuan. Dan Soekarno merupakan satu-satunya pemimpin dunia yang peduli dan bersedia meluangkan waktunya untuk memikirkan soal perempuan. Perempuan di sini bukan dimaksudkan dalam perkawinan saja yang sering dilakukan Soekarno dengan beberapa perempuan. Namun lebih pada pembebasan perempuan dari belenggu budaya yang mendiskriminasikan perempuan-perempuan di negeri ini.

Sebelum masa kemerdekaan, bangsa ini telah dihuni banyak perempuan-perempuan yang peduli nasib kaumnya. Di antaranya RA. Kartini, Cut Nyak Dien, Dewi sartika dan lainnya yang turut serta membantu memperjuangkan nasib perempuan dari tindakan penjajahan kolonial.

Di negeri ini, emansipasi perempuan masih sangat minim, mulai dari masa kerajaan, penjajahan atau kolonial, Orde Lama, Orde Baru, Reformasi dan sampai saat ini wujud nyata dari kesetaraan gender masih nampak tipis-tipis.

Soekarno peduli dan tanggap terhadap permasalahan kesetaraan jender di Indoneisia. Soekarno menuntut perempuan-perempuan Indonesia bersedia untuk keluar aktif dalam sektor publik dengan tidak meningalkan sektor domesiknya, serta turut berjuang dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Menurut Bung Karno, Indonesia bukan hanya milik laki-laki, melainkan milik kaum perempuan yang memiliki peran aktif dalam melahirkan tunas-tunas muda bangsa. Perempuan juga memiliki potensi sama dengan laki-laki di mata negara.

Soekarno memilki pemikiran, bahwa ketimpangan jender di dalam masyarakat akibat penerapan sistem kapitalis yang mendukung terjadinya tenaga kerja tanpa upah bagi perempuan. Penanggulangan yang ditawarkan adalah dengan revolusi atau memutuskan hubungan dengan sistem kapitalis yang menciptakan sistem sosialis.

Risalah luar biasa Soekarno tentang pandangan terhadap kaum perempuan dan bagaimana solusi ideologis, serta ekonomi yang ditawarkan tercatat dalam buku Sarinah. Dari Soekarno kita dapat memperoleh pencerahan mengenai permasalahan perempuan. Perjuangan atau emansipasi kaum perempuan hendaknya terus dilakukan, sesuai dengan pandangan Feminis Marxis-Sosialis yang dianut Soekarno yang menginginkan adanya persamaan antara laki-laki dan perempuan dalam ranah publik ataupun domestik.

Soekarno mengatakan bahwa untuk mewujudkan kemerdekaan nasional tak mungkin dicapai tanpa adanya pejuangan perempuan di dalamnya. Dan sesudah kemerdekaan pun untuk menyusun negara dan masyarakat, tetap tak dapat diwujudkan tanpa perjuangan perempuan.

Sejak awal abad ke-19 beberapa perempuan Indonesia telah tampil di panggung sejarah secara perorangan dalam membela Tanah Air dan bangsanya. Beberapa contoh pergerakan yang dilakukan kaum perempuan dalam rangka membangun republik ini adalah berdirinya sekolah atau pendidikan-pendidikan perempuan. Yang pertama, usaha-usaha yang dilakukan Dewi sartika sejak tahun 1904 dengan kemampuan yang ada padanya, ia membuka semacam pendidkan untuk memberi pengajaran dan peningkatan keterampilan khusus wanita. Pendidikan yang dikoordinasikan Dewi Sartika kemudian dikenal dengan Sekolah Istri atau sekolah gadis yang dibuka pada 6 Januari 1904 di daerah Paseban Bandung.

Yang kedua, perkumpulan perempuan yang bersifat keagamaan dengan nama Sopo Tresno (1914) yang kemudian pada tahun1917 menjadi bagian dari Muhammadiyah dengan nama Aisyiyah. Lalu kemudian berdiri pula Sarikat Siti Fatimah di Garut, yangmerupakan bagian dari Sarikat Islam. Pada masa pendudukan Jepang, juga terlihat gerakan perempuan yang dipimpin Nyai Artinah Syamsyudin dengan dinamai Gerakan Asia Putri Raya dibentuk pada tahun 1943.

Dalam proses menuju kemerdekaan, kaum perempuan telah memberikan tenaga dan pikiran secara maksimal seperti yang diperankan oleh Ny. Fatmawati Soekarno, Ny. Maria Ulfah Santosa, Ny. Artinah Syamsudin, Dewi Sartika, R.A Kartini dan lain-lain. Mereka adalah kaum perempuan yang mewakili perempuan-perempuan Indonesia, turut berjuang mengatasi kesulitan bangsa. Dan banyak hal yang mereka lakukan di antaranya dalam bidang kesehatan, keterampilan, pendidikan, keperluan logistik dan lainnya.

Dengan demikian, besarnya peran, jasa, dan pengorbanan yang dilakukan kaum perempuan untuk republik ini dalam usaha memperjuangkan kemerdekaan, maka patutlah seorang Vladinir Lenin mengatakan, “jikalau tidak dengan mereka (perempuan), kemenangan tak mungkin kita capai.”