Bung Karno dan Imam Bukhari

0
51
WhatsApp
Twitter

Nama besar Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno, begitu sangat melegenda di dunia. Salah satunya di Uzbekistan. Sebuah negara di kawasan Asia Tengah pecahan dari Uni Soviet yang mayoritas penduduknya adalah Muslim. Kebesaran nama Bung Karno di Uzbek tak lepas dari ditemukannya makam Imam Bukhari atas permintaan Bung Karno saat akan berkunjung ke Uni Soviet pada waktu itu. Sebenarnya, siapakah Imam Bukhari?

Nama aslinya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin al-Mughirah bin al-Bardzibah al-Bukhari. Lahir pada hari Jum’at 13 Syawal tahun 194 H atau 21 Juli 810 M di Bukhara. Sebuah kota yang kini masuk pada wilayah Uzbekistan di kawasan Asia Tengah. Nama Bukhari dinisbatkan pada tempat kelahirannya tersebut, sehingga ia masyhur dengan nama Imam Bukhari.

Sejak kecil, ia sudah ditinggal oleh ayahnya dan tumbuh besar dalam didikan dari ibunya. Kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan, menjadikan ia menghafal beberapa karya ulama hadis sebelum usia 10 tahun. Ia banyak berguru pada ulama hadis diberbagai kota dan negara, seperti Kufah, Basrah, Mekkah, Baghdad, Damaskus, Mesir, dan lain-lain. Bahkan, pada masa mudanya ia sudah menghapal 15.000 hadis di luar kepala.

Kiranya wajar, jika banyak karya yang lahir dari Imam Bukhari. Namun, kebanyakan karyanya adalah kitab-kitab yang terkait dengan hadis. Salah satu karya monumentalnya adalah al-Jami’ al-Musnad al-Shahih al-Mukhtashar min Umur Rasulillah wa Sunnatihi wa Ayyamihi atau lebih dikenal dengan sebutan Shahih Bukhari. Kitab Sahih Bukhari merupakah salah satu kitab induk hadis yang memiliki derajat sahih paling pertama dibanding “kutubus sittah” lainnya. Sahih Bukhari menjadi rujukan utama sebagai sumber hukum Islam setelah al-Quran bagi ummat Muslim seluruh dunia.

Pada masa akhir hidupnya, al-Bukhari mendapat cobaan dan fitnah, sehingga diusir dari Naisabur dan Bukhara. Akhirnya, ia singgah di Khartank, salah satu desa pinggiran Samarkand. Imam Bukhari wafat di Khartank, pada hari Jum’at, 30 Ramadhan 256 H atau 31 Agustus 870 M.

Melihat jasa Imam Bukhari yang begitu besar bagi umat Islam, pantas saja jika Bung Karno sangat menghormati dan mencintainya. Karenanya, Bung Karno meminta Soviet untuk menemukan makam ulama hadis tersebut.

Kisah ini berawal saat Bung Karno menerima undangan dari petinggi Uni Soviet, Nikita Khruschev untuk berkunjung ke Moskow. Namun, Bung Karno bersedia mengunjungi Soviet dengan mengajukan syarat yaitu menemukan dan membersihkan makam Imam Bukhari di Samarkand, Uzbekistan yang menjadi wilayah Soviet waktu itu.

Melalui proses pencarian yang panjang, akhirnya makam Imam Bukhari ditemukan. Saat itu kondisinya sangat memprihatinkan dan tidak terawat. Khrushchev dengan gembira menyampaikan hal itu pada Bung Karno. Melihat kondisi makam yang memprihatinkan, pihak Soviet pun membersihkan dan merenovasi makam tersebut.

Menurut Muazin Masjid Imam Bukhari, Israil, menjelang kedatangan Bung Karno pada tahun 1956, kondisi makam tidak terawat dengan baik dan diselimuti semak belukar. Akhirnya, pemerintah Soviet membersihkan dan memugar makam tersebut untuk menyambut kedatangan Bung Karno. Penghormatan Bung Karno terhadap Imam Bukhari dilakukannya dengan cara melepas sepatu dan berjalan merangkak dari pintu depan menuju makam tatkala turun dari mobil yang mengantarnya.

Keterangan tersebut juga diperkuat oleh penjaga makam Imam Bukhari, Muhammad Maksud. Menurut dia, atas jasa Bung Karno, kompleks makam Imam Bukhari, kini dipugar hingga terlihat sangat megah seperti saat ini. Kini, kompleks makam seluas 10 hektare ini menjadi wisata bagi ummat Muslim di dunia setelah makam Nabi Muhammad SAW di Madinah.

Berkat jasa Bung Karno dalam menemukan makan Imam Bukhari tersebut, tidak berlebihan jika menyebut Bung Karno sebagai pahlawan bagi warga Uzbek khususnya, dan bagi ummat Muslim pada umumnya. Warga Uzbek akan selalu mengingat jasa Bung Karno yang telah meninggalkan warisan yang amat berharga. Tanpa usaha dari Bung Karno pula, tentunya ummat Muslim di seluruh dunia tak dapat berziarah ke makam Imam Bukhari.

Bung Karno telah menjadi bagian sejarah dari Uzbekistan. Nama Bung Karno hingga kini masih diingat oleh sejumlah warga Uzbekistan. Jejak-jejaknya di Samarkand, khususnya di makam Imam Bukhari tak akan pernah dilupakan.

Menurut pengakuan Sigit Aris Prasetyo dalam Dunia dalam Genggaman Bung Karno, setiap warga Indonesia diizinkan untuk berziarah di makam Imam Bukhari tersebut. Ia mendapat hak istimewa untuk ziarah ke makam yang berada di basement bangunan. Padahal, umumnya para peziarah hanya diizinkan berziarah di lantai atas bangunan.

Dengan demikian, penemuan makam Imam Bukhari tersebut, selain bukti kecintaan Bung Karno terhadap Imam Bukhari, juga menjadikan Bung Karno akan selalu diingat jasanya oleh warga Uzbekistan khususnya, dan ummat Muslim di seluruh dunia pada umumnya. Di samping itu, jejak-jejaknya di Samarkand, menjadikan warga negara Indonesia yang berkunjung ke sana mendapatkan sambutan yang ramah dan hangat dari warga Uzbekistan.

Akhir kata, baik Bung Karno maupun Imam Bukhari merupakan tokoh besar yang memiliki jasa besar terhadap Ummat Muslim. Jika Imam Bukhari berjasa atas karyanya melalui kitab-kitab hadis, khususnya Shahih Bukhari, maka Bung Karno telah berjasa dalam menemukan kembali warisan ummat Muslim berupa makam keramat Imam Bukhari. Atas jasa besar Bung Karno tersebut, sudah sepatutnya kita bangga, bukan?[]