Dewasa ini, Ahmad Dhani berargumen bahwa sistem khilafah merupakan keharusan bagi setiap umat Islam. Bahkan menyombongkan bahwa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) merupakan organisasi yang akan membawa keselamatan dan kedamaian.
Sebelumnya Ahmad Dhani, pernah mengungkapkan bahwa Ia mengaku sebagai warga NU Gus Durian dalam surat yang ditulis pada 19 Februari 2019, dari Rutan Kelas I Surabaya, Medaeng, Sidoarjo. Menariknya dalam beberapa tulisan yang diungkapkan oleh Ahmad Dhani, yang mengangap ia merupakan kelompok warga NU yang paling benar. Entah apa maksudnya, namun secara garis besar hanya sekadar mencari simpati publik kala itu. Dan mengangap bahwa NU sekarang bukanlah NU Gus Durian.
Namun, berbeda saat ini. Ahmad Dhani yang sebelumnya menggaku sebagai warga NU dan Gus Durian, namun malah berbalik arah membela kelompok transnasional seperti HTI. Apa layak seorang warga NU membela keyakinan dan ideologi HTI. Lalu bagaimana penghormatan Ahmad Dhani terhadap perjuangan Gus Durian yang menolak paham radikalisme dibawa oleh kelompok HTI di Indonesia?
Sayangnya, walaupun HTI secara hukum telah dibubarkan oleh negara melalui Perpu Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Organisasi Masyarakat. Namun, tidak turut serta ideologi khilafah dan simpatisannya seperti Felix Siauw dan Ismail Yusanto dibubarkan. Saya meminjam selentingan Ahmad Dhani ‘kita akan gebukin kamu, kalau kamu ingin ganti Pancasila. mengubah bentuk negara’, yang Ia unggah langsung pada media sosialnya. Beruntungnya itu hanya sekadar ungkapan kesombongan Ahmad Dhani agar mendapatkan pujian dari orang-orang awam.
Doktrin HTI seperti, negara Islam, selamatkan Indonesia melalui syariah, NKRI bukan negara Islam, demokrasi produk kafir, atau lainnya, sanggatlah mudah ditemukan secara digital ataupun buletin propaganda HTI yang disebarkan setiap Jum’at. Bukannya HTI sudah dibubarkan? Secara umum, iya organisasi HTI sudah dibubarkan oleh pemerintah. Kantor dan pengurus organisasi pusat maupun cabang di daerah resmi dibubarkan. Namun, pentolan HTI, masih sembunyi-sembunyi dan terang-terangan menyebarkan paham transnasional di tengah masyarakat Indonesia.
Faktanya, HTI tidak seutuhnya bubar. Dewasa ini, terungkap bahwa salah satu lembaga pendidikan Provinsi Bangka Belitung (Babel) merekomendasi untuk membaca buku Muhammad Al-Fatih 1453, yang ditulis oleh Felix Siauw, sebagai buku bacaan wajib siswa SMA. Beruntungnya, kasus tersebut terungkap oleh Netizen dan ramai-ramai meminta penjelasan kepada Kepala Dinas Pendidikan Bangka Belitung, Muhammad Solleh. Mengenaskan, jika seorang Kepala Dinas pendidikan tidak mengetahui tentang isi dari buku Felix Siauw tersebut.
Mengapa buku Muhammad Al-Fatih, bukan buku sejarah Bung Karno, sejarah Moh. Hatta dan tokoh kemerdekaan lainnya? Siapa Muhammad Al-Fatih? Intinya, bukan seorang pejuang kemerdekaan Indonesia, dan tidak ada tali sejarah yang menerangkan bahwa Muhammad Al-Fatih turut serta melawan penjajah di Indonesia, berbeda seperti Bung Karno dan pendiri bangsa. Muhammad Al-Fatih (Mahmmed II), merupakan Sultan Turki era Dinasti Usmani tahun 1444 – 1448. Tentunya tidak ada kolerasi antara Muhammad Al-Fatih kepada sejarah Indonesia, seperti yang digembar-gemborkan oleh para pendukung khilafah ala HTI. Hal ini mencerminkan bahwa eksistensi HTI masih ada di Indonesia dan telah menyebarkan paham khilafahnya di berbagai lini seperti Lembaga Pendidikan, Aparatur Sipil negara (ASN), Instansi non-Pemerintahan, Lembaga Dakwah, dan Sipil.
Dengan demikan, membela HTI yang secara de facto dan de jure merupakan organisasi yang telah dibubarkan pemerintah Indonesia merupakan kebodohan akut, dan sakit jiwa ilmiah.[]