Kehadiran dai atau ustadz bukan sekadar sebagai penceramah agama saja, juga sebagai panutan dam tokoh perdamaian. Namun, dalam beberapa tahun kebelakang dai sudah tidak lagi berbicara sesuai dengan proksi keulamaannya. Dalam lingkungan masyarakat, dai menjadi angin segar untuk penyejuk kerohanian. Tidak terbantahkan bahwa dai merupakan penyampai pesan-pesan kenabian. Tidak jarang, dai diposisikan sebagai “ulama” yang kerap disebut sebagai waratsatul anbiya’, yang membawakan ajaran agama ke tengah-tengah masyarakat sebagai penerus Nabi Muhammad SAW.
Menurut Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, kalimat al-ulama waratsatul ‘anbiya merupakan wujud Nabi Muhammad SAW. Menghargai para ulama tidak hanya ulama pada zamannya atau sesudahnya, akan tetapi juga ulama pada nabi-nabi sebelumnya. Dalam kitab At-Thabaqatul Kubra yang ditulis oleh Imam Sya’rani, dijelaskan makna Kalimat al-ulama waratsatul ‘anbiya, pertama, al-ulama shalihun dalam arti ulama yang benar-benar mengamalkan ilmu dan kesalehannya. Kedua, al-ulama shadiqun seperti, Syekh Abdul QAdir Jailani dan ulama lainnya.
Faktanya, ulama provokatif bertambah subur di tengah masyarakat dan jagat medsos, seperti Tengku Zulkarnain, Felix Siauw, Yahya Waloni, Ustad Abdul Somad, dan Sugi Nur. Hingga saat ini, mereka masih menyebarkan ceramah penuh kebencian baik kelompok, individu, agama, dan ras. Hal ini tentu tidak mengambarkan sebagai ulama melainkan politikus berjubah agama.
Ustadz Abdul Somad pernah berucap ‘bahwa ada jin kafir di patung salib’, ‘korona tentara Tuhan yang akan memerangi orang kafir’ dalam video dakwahnya. Tentunya perkataan seperti ini membuat orang non-Muslim akan menilai Islam hanya sekadar agama adu domba. Mirisnya, ulama seperti Abdul Somad masih saja berceramah kemana-mana tanpa ada yang menegur bahwa ceramahnya akan merusak citra Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.
Begitu juga seperti, Tengku Zulkarnain, Felix Siauw, Yahya Waloni, dan Sugi Nur. Jangankan mendamaikan para ‘ustadz instan’ malah menambah keruh suasana di tengah-tengah masyarakat dengan mengunakan secuil ayat tanpa menvalidasi dan mempelajarinya dengan baik. Dakwah yang mereka sampaikan tidak jauh dari cerita masa lalu, sebelum mereka masuk Islam dan mereka menjelek-jelekkan agama sebelumnya.
Lain ulama, lain dai atau ustadz yang bermunculan bak jamur di media sosial. Pada dasarnya, mereka kerap dipanggil dai atau ustadz itu hanya sekadar mencari kesalahan dan menjelek-jelekan agar mendapatkan perhatian publik dan diakui sebagai “ulama” yang benar, “ulama” yang lurus, dan lainnya, sehingga melupakan esensi agama dengan menghalalkan apa saja demi pamor sebagai pendakwah.
Sunguh aneh, jika seorang ustadz berdakwah kepada pendengarnya mengunakan ayat suci al-Quran namun memprovokasi, menghujat, dan menanamkan kebencian terhadap seseorang. Apakah Islam mengajarkan dakwah untuk memprovokasi orang? Tentunya tidak bukan, dan tidak ada dalil dalam Al-Quran yang membenarkan.
Pesan santun dan berdakwah yang sejuk merupakan khidmat utama seorang dai agar apa yang menjadi cita-cita Nabi Muhammad SAW dalam menyebarluaskan ajarannya dengan cara yang damai tanpa pemaksaan dan provokasi. Mengajarkan Islam kepada seseorang tidak perlu pemaksaan dan provokasi seperti yang dilakukan oleh para ulama-ulama klasik sebelumnya.
Dengan demikian, mewaspadai dai provokatif menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama bagi kita semua sebagai masyarakat pemeluk agama Islam, sehingga agama Islam tidak dipandang sebagai agama provokatif yang memecah-belah.[]