Membela Tuhan atau Membela Manusia?

0
33
WhatsApp
Twitter

Di era digital, setiap individu dihidangkan beragam informasi yang berkaitan dengan tema-tema politik, ekonomi, sosial, moral, dan budaya yang kerap mengandung unsur-unsur kekerasan. Baik kekerasan wacana seperti sesat, kafir, bid’ah, penista agama, maupun kekerasan fisik seperti perusakan tempat ibadah, penusukan, dan pembunuhan yang mengorbankan hak-hak manusia serta mengatasnamakan agama.

Golongan konservatif, seperti gerakan Khawarij-Wahabi dan Islamisme, baik Ikhwan al-Muslimin maupun Hizbut Tahrir (HT), melegalkan tindakan kekerasannya dengan cara memilih, menekankan, dan menerapkan ayat al-Quran atau hadis Nabi bernada ‘keras’, seperti ayat tentang jihad, qital, dan nahi munkar sekaligus menafsirkannya secara tekstual. Nash-nash tersebut dijadikan motivasi untuk melakukan kekerasan dan diyakini bahwa kekerasan tersebut mendapat dukungan dari Tuhan dengan surga sebagai jaminannya.

Jihad fi sabiilillah sebagai pedoman revolusioner untuk merebut pemerintahan manusia dan mengembalikannya kepada Tuhan. Menunjukkan bahwa mereka memasukkan kekerasan sebagai bagian dari agama, walaupun tujuan yang terlihat adalah untuk meninggikan dan memuliakan Tuhan. Bahasa jihad fi sabiilillah dan tujuan yang sama-sama sakral, melegalkan bahkan mewajibkan mereka untuk melakukan kekerasan. Apakah Tuhan membutuhkan pemerintahan? Tentu saja tidak. Secara logika, justru manusia yang membutuhkan pemerintahan untuk mengatur masyarakat.

Seiringan dengan hal tersebut, di mata mereka, agama bukan lagi sebagai penebar kebaikan dan pencegah kemunkaran (kekerasan), (amar ma’ruf nahi munkar). Tetapi kekerasan merupakan bagian dari agama. Amar ma’ruf dan nahi munkar tidak lagi berjalan berdampingan. Penebar kedamaian justru tergantikan oleh pencegahan kemungkaran dengan cara kekerasan.

Padahal, semua peperangan atau penaklukan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW bersama umat Islam cenderung dilatarbelakangi oleh kepentingan politik. Ketika Rasulullah SAW mengusir kaum Yahudi dari Madinah, disebabkan oleh pengkhianatan (pelanggaran) kaum Yahudi atas perjanjian yang tertuang di dalam Piagam Madinah. Begitu juga peristiwa Fathu Makkah, bertujuan menaklukkan Makkah dari kekuasaan orang-orang Musyrik. Jika saja kaum musyrik hidup berdampingan dan tidak mengkhianati perjanjian, maka peperangan sejatinya tidak akan terwujudkan.

Oleh karena itu, jihad fi sabilillah, tidak hanya bermakna membela, menegakkan, dan meninggikan agama Allah. Lebih dari itu, jihad fi sabilillah juga bermakna mempertahankan wilayah kekuasaan atau rumah kita dari pihak lain yang hendak merebut dan mengusir kita dari negara kita sendiri, seperti yang terjadi pada peristiwa fathu Makkah.

Jihad itu termasuk ke dalam kategori jihad wathaniyyah, tujuannya sejalan dengan “Resolusi Jihad 45” yang dimaklumatkan oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, yaitu mempertahankan wilayah Tanah Air dari penjajahan negara asing. Menegakkan Bhinneka Tunggal Ika adalah salah satu jihad yang harusnya diperjuangkan ummat Islam, menjaga keutuhan Tanah Air dengan tidak mengorbankan hak-hak manusia.

Hakikat mengubah sistem pemerintahan yang ada sebagai wujud pembelaan terhadap Tuhan dengan cara-cara kekerasan adalah omong kosong. Tanpa perlu dibela, Tuhan Maha Besar, Maha Tinggi, dan Maha Segalanya. Sedangkan manusia, yang pada kondisi tertentu bisa lebih mulia dari malaikat atau lebih rendah dari binatang, adalah yang membutuhkan pembelaan, khususnya dalam memenuhi hak-haknya. Karenanya, kewajiban-kewajiban dalam agama, sejatinya bertujuan untuk memenuhi hak-hak manusia, yang dikenal dengan maqashid al-syari’ah.

Di sisi lain, membela manusia lemah pada dasarnya sama dengan ‘membela Tuhan’, dalam sebuah hadis shahih, Nabi Muhammad SAW bersabda, pada hari kiamat, Allah SWT menegur seseorang: “wahai anak cucu Adam saat Aku sakit, kenapa tidak kau jenguk Aku?” Orang itu menjawab: wahai Tuhan, bagaimana Aku menjengukmu padahal engkau adalah Tuhan semesta alam? Allah berfirman, “tidakkah kau tahu bahwa hambaku si fulan anak fulan sakit. Namun kau tidak menjenguknya? Tahukah kamu, jika kamu menjenguknya, maka kamu akan mendapati Aku di sisinya.”

Kemudian Allah menegur kembali, “wahai anak cucu Adam saat Aku kelaparan, kenapa tidak kau beri Aku makan?” Orang itu menjawab: wahai Tuhan, bagaimana Aku memberi-Mu makan padahal engkau adalah Tuhan semesta alam? Allah berfirman, “tidakkah kau tahu bahwa hambaku si fulan sedang dilanda kelaparan. Namun kau tidak memberinya makan? Tahukah kamu, jika kamu memberinya makan, maka kamu akan mendapati Aku di sisinya.”

Kemudian Allah menegur untuk ketiga kalinya, “wahai anak cucu Adam saat Aku kehausan, kenapa tidak kau beri Aku minum?” Orang itu menjawab: wahai Tuhan, bagaimana Aku memberi-Mu minum padahal engkau adalah Tuhan semesta alam? Allah berfirman, “tidakkah kau tahu bahwa hambaku si fulan sedang dilanda kehausan. Namun kau tidak memberinya minum? Tahukah kamu, jika kamu memberinya minum, maka kamu akan mendapati Aku di sisinya.”

Menggunakan metode takwil hadis, Imam Ibnu Jama’ah (w. 727 H) menjelaskan, penggunaan kata sakit, kelaparan, dan kehausan itu ditujukan untuk hamba-Nya, bukan mendeskripsikan Dzat-Nya. Sama seperti yang tercantum di dalam surat Muhammad (47) ayat 7, “jika kamu menolong Allah, niscaya Dia akan menolongmu” dan surat al-Ahzab (33) ayat 57 “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya”. Kata ‘Allah’ yang dimaksud dalam kedua ayat itu adalah hamba-Nya.

Maka dari itu, siapa yang menjenguk orang sakit, sama seperti ia menjenguk Allah. Siapa yang membela manusia lemah, ia juga membela Tuhan. KH Ali Mustafa Ya’qub menjabarkan, menemui Tuhan dalam hadis di atas, berarti mendapatkan rahmat, keutamaan, pahala, dan karamah Tuhan dengan cara menjenguk, memberi makan, serta memberi minum manusia-manusia yang lemah.

Terakhir, membela dan menolong Islam adalah bukan menolong Tuhan. Mengutip ucapan KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur, Tuhan tidak perlu dibela, Dia sudah Maha Segalanya, belalah mereka yang tertindas. Karena itu dapat disimpulkan, membela manusia yang lemah dan tertindas adalah langkah tepat untuk mendekatkan diri kepada-Nya.[]