Bahaya Dakwah Tengku Zulkarnain

0
73
WhatsApp
Twitter

Semangat beragama di kalangan ummat Muslim kian hari kian meningkat. Maraknya para ustadz, penceramah, dan pendakwah yang viral di media sosial menandai semangat keberagamaan tersebut. Namun, yang disayangkan beberapa dakwahnya bukannya memberikan kenyamanan dan menyatukan ummat. Akan tetapi malah membahayakan dan berpotensi memecah belah ummat. Salah satu pendakwah tersebut adalah Tengku Zulkarnain.

Di antara dakwahnya yang membahayakan ialah ketika ia mengisi ceramah Tabligh Akbar di MAN 2 Model Medan pada Juli, 2020 lalu. Saat itu, ia membanding-bandingkan gaya ustadz Sumatera dan gaya ustadz Jawa. Ia menyebut, “Orang Sumatera itu bicara terang-terangan, datang nampak hidung pulang nampak punggung. Kalau Jawa datang nampak hidung, pulang nampak hidung, karena dia mundur pulangnya”. Lebih lanjut ia mengatakan, “Biarkan kami ustadz-ustadz Sumatera dengan gaya Sumatera, betul? Jangan di Solo, kami gaya Solo”. Begitulah kiranya dakwah Tengku Zul yang disampaikan di depan jemaahnya.

Dakwah Tengku Zul tersebut tentu menuai polemik di publik, khususnya Suku Jawa. Tengku Zul dinilai mendiskriminasi budaya Jawa dan rasis terhadap kelompok suku lain. Sebab, Tengku Zul membanding-bandingkan gaya ceramah antara ustadz Sumatera dan ustadz Jawa. Padahal, perbedaan gaya, budaya, dan perbedaan-perbedaan lainnya adalah sebuah keniscayaan di negeri zamrud khatulistiwa ini. Jawa ya Jawa, seperti begitu adanya, begitupun Sumatera. Tidak semestinya dibanding-bandingkan dengan nada sinis.

Akibatnya apa? Dakwah Tengku Zul semacam itu, selain berpotensi memecah belah persatuan antar ummat Muslim sendiri, juga dapat menimbulkan perpecahan antar suku. Yang lebih membahayakan lagi, kalau sampai model dakwah seperti ini yang dijadikan panutan dan diikuti oleh jamaahnya. Jika dakwah seperti ini dibiarkan, maka akan menjadi bom waktu bagi perpecahan ummat serta pertikaian antar suku. Sungguh bahaya kan?

Selain itu, Tengku Zul juga kerap melontarkan pernyataan yang mengundang kontroversi. Sebut saja pernyataan seperti melegalkan pemaksaan hubungan seksual suami terhadap istri, menantang Jokowi menerapkan hukum potong tangan, fitnah pemerintah legalkan zina, mau membantu pemerintah kalau Presiden Jokowi wafat, dan sejumlah penyataan lain yang kerap membuat kegaduhan di publik.

Seharusnya, Tengku Zul menyadari posisi dan jabatannya saat ini. Sebagai seorang pendakwah dan Wasekjen Bidang Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majlis Ulama Indonesia (MUI), ia bisa lebih bijak dalam menyampaikan dakwah dan melontarkan pernyataan-pernyataannya. Bagaimanapun juga, Tengkul Zul adalah seorang pengurus MUI. Yang mana, simbol ulama akan terus melekat pada dirinya selama ia masih menjadi bagian dari MUI. Namun, yang disayangkan, dakwah dan pernyataan Tengku Zul tak mencerminkan ciri seorang ulama yang patut dicontoh.

Berdasarkan uraian-uraian di atas, sedikitnya ada dua alasan, kenapa dakwah Tengku Zul disebut bahaya. Pertama, dakwah Tengku Zul berpotensi memecah belah ummat dan menimbulkan pertikaian antar suku. Kedua Tengku Zul tidak bijak dalam menyampaikan dakwahnya dan terkesan provokatif.

Bukankah Allah sudah memerintahkan kepada ummat Muslim untuk berdakwah dengan penuh kebijaksaan dan penyampaian yang baik. Sebagaimana dijelaskan pada QS. Al-Nahl ayat 125, Ud’u ila sabili rabbika bil ḥikmati wa al-mau’idhatil ḥasanah (Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik).

Dalam berdakwah haruslah bertujuan untuk meningkatkan iman dan amal. Selain itu, dakwah yang baik juga harus menghasilkan harmonisasi kehidupan antar ummat beragama dan persatuan antar ummat. Jika dakwah hanya menghasilkan perpecahan, maka esensi dakwah sendiri menjadi sirna. Yang tak kalah penting adalah, dalam berdakwah harus mampu meningkatkan kualitas hidup ummat, dari yang kurang baik menjadi lebih baik dalam segala aspek kehidupan. Inilah esensi dalam berdakwah bil hikmah wa al-mau’idhatil ḥasanah.

Dakwah yang bijak dan disampaikan dengan cara baik akan menghasilkan kemaslahatan. Sebaliknya, dakwah yang ceroboh dan disampaikan dengan cara tidak baik, menimbulkan perpecahan dan pertikaian. Sudah semestinya Tengku Zul memegang teguh prinsip yang demikian, agar apa yang ia sampaikan membuahkan kemaslahatan bagi ummat, bukan perpecahan dan pertikaian.

Tengku Zul seharusnya bisa mencontoh beberapa ulama yang dakwahnya memberikan pencerahan dan kemaslahatan, seperti Quraish Shihab, Nasaruddin Umar, Gus Mus, Gus Baha, Habib Lutfi dan masih banyak lagi. Mereka adalah ulama-ulama yang dalam dakwahnya selalu menyampaikan visi kebangsaan yang moderat serta maslahat.

Habib Quraish Shihab misalnya, setiap tutur katanya selalu memberikan kesejukan dan kedamaian jiwa. Petuah dan nasihatnya selalu ditunggu oleh ummat Islam. Dakwahnya selalu membangunkan jiwa untuk terus meningkatkan iman dan amal kebajikan. Di samping itu, dakwah Quraish juga membuat kehidupan antar ummat lebih rukun, bersatu, dan harmonis. Dakwah seperti inilah yang seharusnya menjadi contoh dan panutan.

Sebagai penutup, penulis ingin menyampaikan bahwa, pada saat berdakwah, hendaknya para ulama, dai, penceramah atau apapun sebutannya, bisa berdakwah dengan bijak, menyampaikan dengan baik, serta berorientasi untuk memperkuat ukhuwwah Islamiyyah, ukhuwwah wathaniyyah, dan ukhuwwah insaniyyah. Tak terkecuali Tengku Zulkarnain.

Apabila Tengku Zul bisa melaksanakan prinsip-prinsip di atas, maka seluruh ummat akan bersatu dan potensi perpecahan di kalangan ummat bisa dihindari. Namun sebaliknya, jika Tengku Zul tetap berdakwah dengan model seperti kasus di atas, maka potensi perpecahan antar ummat dan pertikaian antar suku bisa saja terjadi, dan ini akan sangat membahayakan bagi persatuan Indonesia. Tentunya, kita semua tidak menginginkan hal demikian terjadi, bukan?