Wahabisme di persimpangan jalan sejak Muhammad bin Salman (MBS) diangkat sebagai putra mahkota pada 2017 lalu. Arab Saudi kini mengalami reformasi besar-besaran. Hal ini, tak lepas dari visi 2030 yang diajukannya sebagai jalan menuju Saudi modern yang berkesejahteraan. Akibatnya, siapa pun yang berusaha menghalangi langkah MBS. Tak ada ampun baginya, termasuk para ulama Wahabi yang telah menyokong kekuasaan Saudi sekian lama. Mereka ditangkap tanpa melalui proses pengadilan.
Di antara ulama Wahabi yang ditangkap ialah Syekh Saud Al-Funaisan. Ia adalah seorang guru besar dan mantan dekan fakultas Syariah di Universitas Al-Imam di Riyadh. Selanjutnya, Syekh Abdullah Basfar, salah satu qari’ ternama dan guru besar pada jurusan Syariah dan Studi Islam di Universitas King Abdul Aziz, Jeddah. Hingga saat ini, penangkapan ulama-ulama wahabi tersebut masih berlangsung.
Sebagaimana diketahui, sejak 1932, Wahabisme merupakan ideologi resmi Kerajaan Arab Saudi. Ideologi ini lahir dari pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab, seorang teolog dari keluarga ulama bermadzhab Imam Ahmad bin Hanbal. Perkenalannya dengan Ibnu Saud menjadikan pemikirannya diadopsi sebagai ideologi Arab Saudi. Hal itu dikarenakan Wahabisme selalu siap menyediakan fatwa keagamaan yang sesuai selera penguasa.
Dalam sejarahnya, Wahabisme adalah gerakan keagamaan yang mengusung puritanisme Islam dan menebarkan ekstremisme, yang akhirnya berkembang pesat menjadi ideologi global. Hal itu dikarenakan penetrasi yang dilakukan oleh Arab Saudi dalam menyebarluaskan Wahabisme ke berbagai penjuru dunia sejak tahun 1975. Al-Qaeda dan ISIS, yang merupakan organisasi teroris, adalah buah pengaruh pemikiran dari Wahabisme.
Namun demikian, seiring perkembangan dan kemajuan zaman yang semakin cepat, Wahabisme yang cenderung kolot dan konservatif, dianggap tak dapat mewakili selera kaum muda, termasuk putra mahkota Arab Saudi, Muhammad bin Salman. Ulama-ulama Wahabi yang konservatif oleh MBS dianggap penghambat bagi terwujudnya visi 2030 Arab Saudi yang lebih modern. Oleh sebab itu, MBS menangkap ribuan ulama Wahabi. Kenapa demikian?
Pertama, berbagai aturan yang berlaku di Arab Saudi bersumber dari fatwa ulama Wahabi. Yang mana, fatwa-fatwanya dinilai membelenggu hak-hak dan kebebasan perempuan. Berbagai aturan itu telah memosisikan perempuan Saudi selama puluhan tahun sebagai warga kelas dua. Artinya, perempuan Saudi diposisikan sebagai “makhluk domestik” yang tidak boleh berperan pada ranah publik. Bahkan, suara perempuan yang sangat enak didengar (eufonik) dianggap sebagai aurat.
Kedua, banyak ulama Wahabi yang menentang kebijakan dari MBS. Para ulama wahabi menilai, langkah yang diambil oleh MBS adalah sebuah tindak kejahatan. Hal ini disebabkan oleh paham wahabisme yang sudah mendarah daging dalam diri mereka. Ulama wahabi menginginkan Wahabisme tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari Arab Saudi. Namun sayangnya, harapan tersebut tak sejalan dengan manuver dan kebijakan MBS dalam bidang politik, ekonomi, dan agama.
Karenanya, untuk mewujudkan visi 2030 Saudi tersebut, MBS memulai proyeknya dengan istilah “jalan moderasi Islam”. Melalui jalan baru ini, MBS mulai membuka ruang yang lebih leluasa bagi kalangan perempuan untuk berperan dalam ranah publik. Kaum perempuan Saudi harus produktif. Oleh sebab itu, mereka harus menjadi mitra yang sejajar dengan laki-laki, sehingga dapat berperan aktif dalam memajukan negara.
Untuk itu, MBS mengeluarkan kebijakan memperbolehkan perempuan Saudi mengemudi kendaraan, berpartipasi dalam militer, dan sejumlah partisipasi publik lainnya. Sebuah kebijakan yang tentunya bertentangan dengan fatwa-fatwa ulama wahabi yang sangat mengekang perempuan.
Di sisi lain, MBS berhasrat untuk membangun Arab Saudi yang lebih modern, lewat proyek raksasa bernama “Neom”. Sebuah kota super modernis berbasis teknologi tinggi paling mutakhir. Arab Saudi ingin seperti Uni Emirat Arab (UEA) lewat Dubainya, yang tidak lagi bergantung pada pasokan minyak, tetapi bertumpu pada industri jasa dan pariwisata. Untuk mewujudkan itu, masyarakat harus berubah, termasuk ulamanya. Namun sayang seribu sayang, ulama Wahabi tak merestui proyek besar MBS tersebut. Ulama Wahabi lebih memilih menolak dan menentang kerajaan melalui mimbar dakwah keagamaan.
Melihat fakta di atas, maka jelaslah bahwa Wahabisme adalah ideologi puritan konservatif yang juga meyebarkan bibit-bibit ektremisme. Selain itu, Wahabisme hanyalah produk politik yang dibuat untuk melanggengkan kekuasaan. Sudah semestinya, para pengikut Wahabi ini sadar bahwa mereka sudah tidak diterima di dunia internasional. Jangankan dunia internasional, di tempat lahirnya saja, Arab Saudi, mereka mulai disingkirkan.
Untuk alasan itulah, banyak ulama Wahabi yang ditangkap oleh kerajaan Arab Saudi tanpa melalui proses pengadilan. Arab Saudi yang merupakan satu-satunya negara di dunia ini yang mengadopsi Wahabisme sebagai ideologi resmi negara, justru ia sendiri yang ingin menghancurkannya dengan menangkap ulama-ulama wahabi. Apakah ini akan menjadi akhir cerita dari Wahabisme?.