Strategi Kuda Troya adalah satu bentuk siasat yang identik dengan serangan senyap, tipu daya, dan muslihat. Kisah ini mengacu pada mitologi Yunani yang terjadi sekitar abad 12 SM. Cerita bermula dari kota Troya yang dikepung oleh pasukan Sparta (Yunani) yang dilatari permasalahan politik berbalut asmara terlarang.
Sepuluh tahun lamanya pasukan Sparta melancarkan invasi ke benteng pertahanan kota Troya tanpa pernah berhasil menjebolnya. Tak ada kata menyerah bagi pasukan Yunani. Mereka tetap bertahan meskipun dikepung rasa jenuh dan frustasi atas perang yang tak kunjung usai. Sampai seorang dari mereka, Odysseus, memiliki ide cemerlang. Ia mengusulkan pembuatan kuda raksasa yang bisa diisi oleh sekompi tentara Sparta. Lalu terwujudlah Kuda Troya.
Keesokan harinya, orang-orang Troya keheranan karena mereka tidak lagi melihat pasukan Yunani di luar benteng. Perkemahan mereka juga kosong dan hanya tersisa sebentuk kuda kayu raksasa di depan benteng kota Troya. Penduduk setempat mengira tentara Yunani telah menyerah dan kembali ke kandang.
Hadir tokoh lain bernama Sinon. Singkat cerita, ia yang ditugaskan untuk menebar propaganda. Sinon mengaku akan dijadikan korban untuk Athena (nama Dewi), tapi berhasil kabur. Sinon berkisah bahwa Kuda Troya tadi merupakan persembahan untuk Sang Dewi, yang mana orang Yunani berharap penduduk Troya akan menghancurkannya, sehingga Dewi Athena murka kepada masyarakat Troya. Mendengar hal tersebut, bergegas penduduk Troya membawanya masuk ke dalam kota dan hendak merawatnya untuk menghindari kemarahan sang Dewi. Mereka termakan propaganda Sparta.
Saat malam tiba, di tengah kelengahan penduduk Troya karena merasa tidak ada lagi ancaman, pasukan yang bersembunyi di dalam kuda tadi keluar. Sebagian tentara yang bersembunyi di luar merangsek masuk. Kota Troya terkepung dan penduduknya dibantai. Semuanya luluh lantak.
Kisah ini selanjutnya menjadi metafora yang berkembang dalam kehidupan sosial politik. Memperlihatkan bagaimana taktik melumpuhkan lawan dengan intrik, kamuflase dengan sedikit efek kejut. Strategi Kuda Troya ini kiranya tepat untuk menggambarkan pola tingkah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dalam menyebarluaskan ideologi khilafah mereka di bumi Indonesia.
Dalam proses mengemban misinya untuk menegakkan khilafah, HTI memahami bahwa bangunan bangsa ini sangat kokoh dan sulit untuk dihancurkan. Maka dari itu, mereka dengan licin menyusup ke segala lini kehidupan politik, sosial, pendidikan, dan keagamaan masyarakat.
Politik kamuflase para pengusung ideologi khilafah ini, terlihat dari upaya mereka yang selalu menyebut aktivitasnya sebagai gerakan dakwah. Padahal pola gerak dan misinya nyata menunjukkan bahwa mereka adalah gerakan ideologis-politis berjubah agama yang bertujuan merebut kekuasaan. HTI bermanuver lincah dengan merongrong eksistensi bangsa dan negara. Masyarakat didoktrin untuk membenci dan mempertanyakan aspek paling mendasar dari bangunan bangsa ini. Sebagaimana kita tahu, bahwa oleh HTI, Pancasila dihina, pemerintah dikafirkan, demokrasi dicap sebagai thaghut (berhala).
Para eksponen HTI ini gencar menebar provokasi, kebohongan, dan adu domba untuk melemahkan bangunan kebangsaan dari dalam. Ketika pemerintah dan masyarakat berhasil dilumpuhkan oleh hasutan, saat itulah mereka akan menyerang dan mengambil-alih kekuasaan.
Yang masih hangat dalam ingatan, polemik RUU HIP beberapa waktu lalu, mereka jadikan tunggangan untuk keuntungan pragmatis. Isu tersebut mereka mainkan untuk membentuk opini publik bahwa pemerintah ingin melemahkan Pancasila dan berupaya membangkitkan komunisme melalui RUU tersebut.
Menjadi aneh, HTI yang getol mencela Pancasila kemudian seolah-olah pasang badan untuk membelanya. Tabiat oportunis HTI muncul. Mereka memanfaatkan momen untuk membalikkan persepsi masyarakat, seolah-olah mereka berada di garis terdepan membela Pancasila.
Dalam konteks berbangsa, sebagai penghuni negeri ini, sudah seharusnya kita memahami siapa jati diri kita. Dengan demikian, kita juga akan mengetahui dengan penuh kesadaran siapa lawan yang akan kita hadapi.
Mengenai hal ini, mengenali musuh secara baik, Sun Tzu dalam The Art of War pernah menyampaikan. Dikatakan bahwa, ia yang mengenali musuh dan dirinya sendiri, tak akan terkalahkan dalam seratus pertempuran. Ia yang tidak mengenali pihak musuh dan mengenali dirinya, memiliki peluang seimbang untuk menang atau kalah. Dan sesiapa yang tak mengenal musuh dan dirinya sendiri, cenderung akan kalah dalam setiap pertempuran.
Kisah Kuda Troya menjelaskan kepada kita banyak hal. Pertempuran atau konfrontasi tidak melulu berupa pertarungan fisik head to head dengan lawan. Kita juga harus mengenal perang manuver dan siasat, yang di antaranya dengan cara mengaburkan posisi keberhadapan, sehingga pihak lawan tak merasa sedang terancam. Kemudian, suatu serangan tak kasat mata yang muncul dari dalam sebenarnya jauh lebih berbahaya daripada pertarungan jujur, seperti ketika pedang bertemu pedang. Hal tersebut akibat dari peluang yang terbuka bagi penyusupan.
Pelajaran selanjutnya yang harus dicatat, ialah bagaimana propaganda dan hoaks dapat meluruhkan kewaspadaan yang berujung pada nestapa. Serangan senyap terbukti lebih mematikan daripada invasi terbuka.
Bukan lagi perang fisik dengan musuh berwujud yang mengancam keutuhan bangsa, layaknya masa kolonial dulu. Saat ini kita dihadapkan dengan perang opini dan ideologi yang jauh lebih sulit untuk diredam dan dideteksi. Baik pemerintah maupun masyarakat harus dibekali dengan alutsista yang kuat dan mumpuni untuk bertahan. Bung Karno pernah berujar, bahwa tantangan kita jauh lebih sulit, karena yang dihadapi adalah anak bangsa sendiri, seperti HTI.
Strategi Kuda Troya dengan segala nuansa tipu daya, intrik, dan kamuflase telah terlihat pada HTI dengan segala manuver politiknya untuk mendirikan khilafah ala mereka. Atas dasar ini, kita harus jeli dalam membaca gerak langkah mereka agar tidak lengah dan terkelabui. Bercengkerama dengan HTI memang butuh seni agar anak bangsa dan bangunan NKRI tetap terlindungi. Wallahu a’lam.