Manuver Amin Rais, Jaga Eksistensi?

0
1292
WhatsApp
Twitter

Amien Rais resmi keluar dari Partai Amanat Nasional (PAN). Hengkangnya mantan ketua MPR itu diakibatkan perbedaan prinsip dan sikap politik. Setelah tak lagi bersanding kasih dengan PAN, Amien Rais berkomitmen membentuk partai baru, yakni Partai Ummat.

Lewat akun media sosialnya Amien Rais menuturkan, mukaddimah Partai Ummat yaitu kitab suci Al-Quran. Mendorong umat beriman agar dalam mengarungi kehidupan di dunia mereka, senantiasa melaksanakan dua perintah Allah SWT secara serentak. Hanya negara yang dapat menegakkan keadilan secara menyeluruh. Begitu pun sebaliknya, dengan memiliki sarana dan aparat yang lengkap serta kekuasaan yang besar, negara juga dapat melancarkan pelbagai kezaliman terhadap rakyat. “Negara dapat melancarkan kezaliman politik, kezaliman ekonomim, sosial, bahkan kezaliman kemanusiaan. Namun hanya negara pula yang dapat menegakkan keadilan bagi semua rakyatnya,’’ katanya.

Kata Amien Rais, hal itu semua sepenuhnya bergantung pada pemerintah yang berkuasa. Mantan ketua Umum PP Muhammadiyah itu menegaskan komitmennya untuk membela perjuangan umat dalam menegakkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. “Partai Ummat Insya Allah bertekad akan bekerja dan berjuang bersama anak bangsa lainnya melawan kezaliman dan menegakkan keadilan. Partai Ummat akan bekerja dan memegang teguh Pancasila, UUD 1945 dan semua aturan demokrasi universal.”

Partai Ummat adalah partai kedua yang dibentuk oleh Amien Rais. Sebelumya, Amien Rais menjadi motor lahirnya Partai Amanat Nasional (PAN) bersama Goenawan Muhammad cs pada tahun 1998. Setelah melewati konflik panjang dengan petinggi PAN serta kekalahan calon yang diusung saat kongres V dan pemilihan ketua umum PAN periode 2020-2025 di Kendari, Sulawesi Tenggara, 20 Februari 2020. Akhirnya Amien Rais memutuskan untuk keluar dari Partai yang membesarkan namanya tersebut.

Dilansir Kompas TV dalam acara diskusi virtual bertajuk “Bahaya Komunisme di dunia Islam,” Kamis (23/7/2024), Amien Rais mengatakan, dirinya tak lagi di PAN sama sekali, ia mengaku telah dikeluarkan oleh anak buahnya karena perbedaan prinsip. Menurut Amien Rais, PAN di bawah Ketua Umum Zulkifli Hasan berencana bergabung dengan pemerintahan Jokowi-Ma’ruf. Namun, ia menilai langkah itu keliru. Amien Rais meminta kader PAN untuk mepertimbangkan keputusan tersebut. “Kalau anda tetap ingin dukung rezim ini, itu jelas sesuatu yang keliru bin salah. Jadi tidak ada rasionya, tidak ada rasionalisasinya.” ujar dia.

Amien Rais memang sudah vokal sejak dekade 90-an, menurut Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB), Prof. Yusril Ihza Mahendra. Ia juga dikenal sebagai sosok yang berhasil melengserkan Soeharto setelah menjabat selama 32 tahun menjadi Presiden. Selain dikenal dengan hal itu, Amien Rais juga dikenal karena ucapannya yang sangat tajam dan kontroversi.

Ketika masih menjabat sebagai Ketua Pembina PAN dan menjadi dewan pemenangan Prabowo Subianto pada pilperes 2019 lalu. Banyak pernyataan kontroversi yang dilontarkan. Di antaranya, menyebut pembagian sertifikat oleh Jokowi sebagian dari pengibulan. Dia juga menantang Jokowi untuk tak mendiskreditkan ummat Islam. Selain itu dia juga menyerukan gerakan ganti presiden, hingga dikotomi partai setan melawan partai Allah.

Seorang tokoh masyarakat, elite politik dan pejabat publik harus dapat menjadi contoh yang baik dalam berpolitik. Tidak semestinya sebutan partai setan terucap dari elite politik. Seluruh elemen bangsa dan negara harus menjaga dan menciptakan kondusivitas iklim demokrasi Indonesia. Tujuan kemerdekaan negeri ini bukan untuk berkuasa atas sesamanya. Tetapi mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia dan kesemuannya dapat dicapai dengan pembangunan yang maju, kebudayaan yang santun terlestarikan serta kemandirian ekonomi, bukan pertikaian elite politik demi kekuasaan.

Amien Rais pernah menyebut Jokowi menjadi pemimpin yang dilengserkan Allah SWT. Pernyataan tersebut disampaikan Amien Rais ketika memberi sambutan dalam acara Rakornas PA 212 di Aula Sarbini, Taman Wiladatikam, Cibubur Jakarta Timur. Ia mengancam akan mengerakan massa jika pemilu 2019 dicurangi, dengan istilah people power.

Sebagai politikus senior, Amien Rais tak menunjukan sikap kepedulian sama sekali terhadap negara ini. Alih-alih meringankan dan memberi solusi kepada bangsa yang sedang susah payah mengatasi pandemi Covid-19 dan ancaman resesi, malah membentuk sebuah partai politik yang notabene terbentuknya sebuah partai adalah untuk kekuasaan. Meski dalihnya, pembentukan Partai Islam adalah untuk menegakkan Islam rahmatan lil ‘Alamiin, melawan kezaliman dan menegakkan keadilan. Manuver Amien Rais ini seolah sebuah ketakutan, eksistensinya bakal tergerus.

Plato dalam bukunya; Republik, menjelaskan, kelompok partai politik cenderung mengutamakan kepentingannya sendiri terlebih dahulu sebelum kepentingan publik. Dan untuk mendapatkan dukungan, mereka meyakinkan khalayak ramai bahwa kepentingannya adalah kepentingan bersama.

Kita dibawa kembali ke suatu masa di mana agama dijadikan alat politik untuk berkuasa. Kontroversi yang diciptakan Amien Rais menduplikasi pemikiran dirinya yang dangkal, bahwa ia tak lagi produktif dan menghadirkan ide brilian, gagasan perubahan yang menyegarkan bagi bangsa.

Membangun reputasi partai dalam dunia politik tidak seharusnya memperalat keimanan dengan cara memperdagangkan. Semestinya, berpolitik harus berbasis logika dan fakta. Argumentasi yang dibangun meliputi visi dan misi, ideologi atau program-program dan capaian prestasi lainnya kepada khalayak umum. Cara yang rasional ini dapat ditempuh dengan penyampaian platform dan program partai yang seluruhnya faktual.

Amien Rais tidak lagi memberi contoh yang pantas dalam dunia politik. Manuver politiknya tidak lagi memuat gagasan-gagasan besar dalam pembangunan bangsa dan negara. Tidak seperti masa lalu, ia dalam petualangannya menambal dan menyulam kerusakan yang terjadi di negeri ini. Ia kukuh bersama barisan intelektual lainnya menegakkan demokrasi yang mapan berikut hukum yang adil.

Namun saat ini, Amien Rais seringkali hadir dengan polemik kontroversi demi mendulang popularitas dirinya yang kian pudar. Untuk mendapat tempat di mata publik, Amien Rais kian suka ikut membakar dirinya ke dalam isu strategis dunia politik.

Sejak kemerdekaan, kita tidak pernah menolak keikutsertaan Islam dalam politik, hanya saja keegoisan oknum keagamaan atau lebih tepatnya yang menasbihkan dirinya sebagai utusan Tuhan merasa paling pantas dari agamanya yang tidak dapat kita halangi.

Akhirnya, sebagai pengamat, kita hanya bisa menunggu, apakah Partai Ummat, benar-benar akan memberantas kezaliman dan menegakkan keadilan. Ataukah pembentukan Partai Ummat hanya manuver politik Amien Rais sebagai langkah menjaga eksistensinya? Layak dinanti.[]