Tiga tahun yang lalu, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) pembawa ideologi khilafah telah dibubarkan pemerintah dengan alasan mengancam ketertiban masyarakat dan membahayakan keutuhan negara. Meski HTI telah lama dibubarkan, nyatanya ideologi khilafahnya masih marak dibincangkan di media sosial.
Laku HTI mencari kesempatan dalam setiap momen adalah hal kreatif. Tren gaya media sosial penyeru khilafah terkini yakni mem-bold (menebalkan) kata “Khilafah”. Sebab itu, pertarungan ideologi di media sosial sekarang memang lebih terasa. Pasalnya, mempengaruhi seseorang untuk mengikuti ideologi khilafah zaman digital kini, tak harus turun ke jalan pun sudah banyak yang terbumbui ideologi baru tersebut.
Santernya isu media sosial perihal ketakutan PKI akan bangkit, menenggelamkan juga khilafah bisa bangkit. Walaupun sebenarnya, bayangan isu ketakutan PKI ini hanya terjadi setahun sekali. Sedangkan kampanye khilafah isunya bermunculan setiap hari. Hal ini menunjukkan, apa pun wujudnya PKI tidak memiliki celah untuk berpijak dan sudah pasti tertolak pemerintah dan masyarakat Indonesia. Beda kisah dengan khilafah yang terus disiarkan media sosial tanpa henti dan sembari terperangkap oleh imajinasi sejarah khilafah zaman dahulu.
Sejarah khilafah awal di Timur Tengah yang ada sejak zaman Khulafaurrasyidin oleh Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, sudah barang tentu tidak bisa ditenggelamkan. Para sahabat yang dianggap meneruskan jejak kepemimpinan Nabi SAW adalah orang-orang kepercayaan yang setiap harinya tak pernah jauh dari beliau. Wajar bila mereka bisa mengemban amanah secara adil hingga melukiskan sejarah kejayaan Islam yang kini dibangga-banggakan umat Islam.
Memang benar adanya para sahabat adalah kebanggan umat Islam. Namun pertanyaanya sekarang, Apakah seluruh negara di Timur Tengah adalah negara Islam, yang saat ini menerapkan sistem Islam atau khilafah? Tentu tidak. Berdasarkan alasan dan pertimbangan tertentu masing-masing negara tidak menerapkan sistem tersebut, demikian juga Indonesia. Sebagaimana para Walisongo yang pertama kali membawakan ajaran Islam, tidak mengajarkan penduduk Nusantara untuk menjadi khilafah, meski mereka mengetahui betul sejarah keislaman itu seperti apa.
Menilik penuturan Gus Mus, kita adalah Indonesia yang Islam. Patutnya, kita jangan mengada-ada dengan membalikkan fakta bahwa Islam adalah Indonesia. Sedari dulu hingga kini, konon penduduk Indonesia yang mayoritas Muslim, tetapi tak sedikit yang beragama selain Islam, sebab dahulu penduduk asli di Jawa pemilik kepulauan terbesar di Indonesia beragama kapitayan, bukan Islam.
Para ideolog pendiri bangsa sadar betul ketika merancang Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Nilai-nilai dalam butir pancasila merupakan gagasan yang paling bisa merangkul seluruh rakyat Indonesia. Sepanjang Indonesia bersama Pancasila, yakni ideologi kesepakatan sejak berdirinya Indonesia oleh Bung Karno, Mohammad Yamin, Dr. Soepomo dan para pejuangnya, berupaya menegakkan keadilan dan ideologinya memberikan harapan hidup penuh peradaban.
Kehadiran sistem Khilafah yang ingin menggeser Pancasila harus diwaspadai. Ini tidak lain hanya wacana dan permainan kekuasaan atas nama negara dan agama. Mereka, para pengusung khilafah HTI sebenarnya tidak peduli pada masa depan negeri ini. Mereka dengan mengganti Pancasila hakikatnya ingin menghancurkan negeri ini.
Kepada bangsa Indonesia, mestinya tidak ada yang lebih baik dari Pancasila sebagai ideologi negara kita. Jika saat ini kita masih berselisih tentang ideologi negara, padahal sudah ada Pancasila yang bisa menjamin, maka kita akan sulit menjadi bangsa yang besar dan negara yang maju. Hendaknya setiap momen kita abadikan untuk melanjutkan lagi semangat para pahlawan yang telah berjasa untuk menyejahterakan negeri.
Mewarnai media sosial dengan kampanye khilafah, apalagi menggubrisnya terlalu serius hanya akan memperlambat, bahkan membuang-buang waktu yang berkualitas untuk merajut mimpi dan cita-cita kehidupan.