Isu Keagamaan Menghegemoni Medsos

0
16
WhatsApp
Twitter

Sensasi isu-isu keagamaan yang tak pernah surut, bersaing dengan isu wabah Covid-19 menggenangi Tanah Air. Media sosial sebagai pengemban informasi teknologi paling mutakhir, keberadaannya kerap kali dihegemoni oleh kelompok Islam formal sebagai solusi setiap permasalahan. Meski kehadiran Islam bisa menyelesaikan masalah, ini hanyalah alasan normatif yang tidak seharusnya menjadi sensasi isu keagamaan yang menghegemoni media sosial saat ini.

Isu-isu populer Islam yang marak di media sosial saat ini, menciptakan pelbagai dinamika sosial dan budaya pada masyarakat. Misalnya cuitan dalam Twitter dari Muslimah news, ditengarai sebagai salah satu pegiat informasi terkini yang acap kali menghubungkannya isu terkini dengan keagamaan atau sistem Islam. Dalam media sosial, mereka dan para pengikutnya menawarkan wacana keislaman secara paksa agar mendominasi sebagai paham yang paling absolut.

Bagi mereka, wabah Covid-19 yang masih meningkat diakibatkan tak ada tindakan yang tepat bila tak menerapkan sistem Islam. Pernyataan tersebut, bagaimana bisa mereka berkata tanpa solusi yang ilmiah seperti kekuatan medis yang kini dibutuhkan, hanya berkoar sistem Islam. Lebih lanjut, berdasarkan sistem Islam, bisakah mereka membuat vaksin agar wabah Covid-19 cepat teratasi? Hingar-bingarnya media sosial seperti ini, sengaja tampil untuk menghegemoni agama yang dinilai urusan publik.

Sosiolog dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Amika Whardana melihat perbedaan dalam kacamata masyarakat Barat dan Asia dalam memandang agama. Masyarakat Eropa dan Amerika Serikat cenderung memandang agama sebagai urusan privat. Lain halnya di Indonesia, mafhumnya agama adalah urusan publik. Itu sebabnya, isu-isu keagamaan apapun kerap menjadi sensasi media sosial di Tanah Air.

Hidup di era kelimpahan komunikatif, seperti yang diistilahkan John Keane dalam Democracy and Media Decadence (2013), media sosial merupakan sarana efisien sebagai wadah isu keagamaan yang terus bergeming. Kendati tak sedikit peran agama Islam dianggap penting, karena bisa melerai atau mengentaskan konflik yang ada, dengan melihat bayang-bayang sejarah kegemilangan Islam, seperti di masa Rasulullah dan para sahabat. Bukan berarti, sistem Islam mutlak dapat merespons semua isu yang terjadi, apalagi menghegemoninya.

Hegemoni isu keagamaan di media sosial memicu agama Islam sebagai hal yang absolut. Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan IMM UIN Jakarta Muhammad Bukhari Muslim, turut mengungkapkan, mereka yang bergumul di media sosial menjadi memiliki hasrat yang besar untuk mendirikan negara Islam. Mereka terpukau dengan segala yang terkait dengan Islam, walaupun sebetulnya Islam tidak menghendaki demikian (15/07).

Ranah keislaman sejatinya tidak digunakan untuk menghegemoni atau mendominasi ruang publik. Konsep hegemoni di mata Antonio Gramsci adalah bagi kelas yang merasa mendominasi tidak seharusnya ia merasa memiliki, mengklaim, menghakimi, menguasai atau berhak memutuskansuatu perkara. Sehingga bisa sesuka hati menginternalisasi nilai-nilai norma penguasa, melainkan ia harus bermusyawarah atau saling memberi persetujuan dari pihak lain.

Oleh karena itu, mereka yang terobsesi agar isu keagamaan menhegemoni media sosial, hendaknya menganggap keyakinan dalam beragama bersifat tentatif seperti yang dikatakan Haidar Bagir dalam buku Islam Tuhan Islam Manusia (2017). Yakni, senantiasa siap bila dievaluasi dan direvisi lagi sesuai dengan wawasan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Sayangnya, realitas media sosial terhadap respons isu keagamaan masih menghegemoni isu-isu keagamaan dengan mengadopsi isu-isu masa lampau yang sebenarnya kurang mencerahkan dan tidak relevan dengan masa kini .