Siapa tak kenal Felix Siauw? Ustadz gaul berdarah Tionghoa-Indonesia yang berasal dari Palembang. Ia dikenal dengan ‘ustadz seleb’ yang banyak digandrungi kaum muda urban. Namun selayaknya seleb, ia juga banyak menuai kritik dari publik.
Salah satu kritik tajam datang dari Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Ahmad Ishomuddin. Melalui laman facebooknya (30/06/2024), Kiai Ishom mengkritik dakwah Felix Siauw saat membaca al-Quran yang dinilainya keliru. Bahkan, dalam tulisan tersebut, ia menyentil dengan keras lewat judul “Belajar Dulu Baca al-Quran dengan Benar Kepada Para Ahlinya Sebelum Menjadi Ustadz (Sebuah Catatan Untuk Felix Siauw).”
Hal itu tak terlepas dari video ceramah Felix Siauw yang banyak beredar di media sosial. Dalam video tersebut, Felix mengutip salah satu ayat al-Quran, yaitu Surat al-Jumu’ah ayat 1. Fatalnya, ia beberapa kali salah dalam membaca dan menafsirkan ayat tersebut. Akibat kesalahan fatal itulah, ia mendapat kritik pedas dari Kiai Ishom.
Menurut Kiai Ishom, di antara kesalahan Felix yaitu mengubah pelafalan kata “yusabbihu” menjadi “sabbaha”. Kemudian, Felix juga kedapatan mengurangi kata dalam ayat tersebut. Bacaan yang harusnya berbunyi “wa ma fil-ardli”, justru hanya dilafalkan dengan “wal-ardli”. Kesalahan lain yang dibuat Felix yaitu pengucapan kata “azizul hakim”, padahal seharusnya ia lafalkan “azizil hakim”. Di sisi lain, ia juga salah menafsirkan kata “hakim” yang ia artikan sebagai “orang yang memiliki hikmah.”
Kalau ditilik kembali video ceramahnya, memang benar kesalahan-kesalahan itu terjadi. Karenanya tidak salah pula, jika banyak orang yang mengkritiknya. Tak hanya Kiai Ishom saja, tetapi di media sosial twitter misalnya, kritikan nyeleneh dan menggelitik juga datang bertubi-tubi. Yang mengherankan, kok bisa orang seperti Felix Siauw disebut ustadz dan diikuti banyak orang, padahal baca satu ayat saja belepotan? Sebenarnya, siapa Felix Siauw itu?
Nama lengkapnya ialah Felix Yanwar Siauw. Lahir pada 31 Januari 1984 di Palembang, Sumatera Selatan dari keluarga Katolik berdarah Tionghoa-Indonesia. Ia merupakan tamatan sekolah di SMA Katolik Xaverius 1 di Palembang. Kemudian, ia melanjutkan kuliah pada Program Studi Hortikultura, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB).
Di sinilah ia mulai mengenal Islam. Ia menjadi mualaf ketika ia masuk kampus IPB pada tahun 2002. Setelah menjadi mualaf, ia bergabung dengan salah satu organisasi yang sudah dibubarkan pemerintah, yaitu Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), yang kemudian dikenal sebagai pendakwah khilafahnya HTI.
Felix Siauw mulai menuai kepopuleran setelah menulis buku terkait cerita mualaf dirinya. Felix populer dan sukses lewat penjualan buku-bukunya di kalangan masyarakat Indonesia, terutama kalangan muda. Berkat bukunya juga, Felix diundang ke berbagai daerah untuk mengisi motivasi keagamaan, bahkan sampai ke luar negeri. Belakangan, ia dikenal sebagai ustadz, atau lebih tepatnya ‘ustadz seleb’.
Kalau melihat profil dan sejarah perjalanan hidup Felix Siauw di atas, maka tidak ditemukan sama sekali jejak keilmuan atau sanad keilmuan, kepada siapa ia belajar ilmu agama. Sejak kecil, ia lahir dan besar di kalangan non-Muslim, tidak pernah belajar agama Islam pun mengenyam pendidikan Islam. Lalu, ia masuk Islam dan menjadi mualaf. Tiba-tiba ia menjadi ustadz. Tiba-tiba menjadi pendakwah agama.
Padahal, untuk menjadi ustadz dan penceramah agama, ia harus terlebih dahulu belajar ilmu agama pada ahlinya. Yang dipelajarinya pun tak hanya membaca al-Quran dan terjemahannya. Lebih dari itu, perlu belajar ilmu tauhid dan kalam, fikih dan ushul fikih, akhlak dan tasawuf, ulumul Quran, ulumul hadis, belum lagi ilmu qowa’idul lughah al-arabiyah, nahwu, sharaf, balaghah, dan masih banyak lagi. Seperti halnya para santri yang belajar ilmu agama di pondok pesantren, butuh waktu lama dan ketekunan dalam menyerap ilmu-ilmu agama yang diberikan kiainya.
Karenanya, lumrah saja jika dalam ceramahnya, Felix Siauw kerap keliru dalam menyampaikan ayat ataupun menafsirkannya. Sebab, ia tidak memiliki basis pendidikan ilmu agama yang mengakar kuat. Bisa jadi, ia hanya belajar agama Islam secara otodidak melalui buku-buku terjemahan, bukan pada sumber aslinya, termasuk belajar al-Quran dari terjemahannya. Itulah kenapa disebut bahaya, belajar agama dari Felix Siauw. Bahkan, ia menjadi pendakwah utama Hizbut Tahrir Indonesia, yang jelas sudah dilarang pemerintah, karena ingin mengganti Pancasila.
Maka dari itu, alangkah baiknya jika para kaum muda yang haus akan agama pandai-pandai memilih guru sebagai rujukannya, apabila tak ingin masuk golongan apa yang disebut Imam Ghazali sebagai “Jahil Murakab”. Belajar agama dengan Felix Siauw sama artinya belajar dengan orang yang mencari-cari jalan di tengah kegelapan. Semuanya tampak gelap, hitam, dan tak jelas ke mana ujungnya.
Seharusnya, para milenial bisa belajar agama dengan para ahlinya. Gus Baha misalnya, ia adalah seorang ahli tafsir yang memiliki pengetahuan mendalam tentang al-Quran wa ‘ulumuhu. Di samping itu, ia juga seorang penghafal al-Quran sejak muda. Tak hanya itu saja, Gus Baha juga seorang ahli ilmu hadis dan fikih. Bahkan, Habib Quraish Shihab pada satu kesempatan pernah menyatakan, “Sulit ditemukan orang yang sangat memahami dan hafal detail-detail al-Quran hingga detail-detail fikih yang tersirat dalam ayat-ayat al-Quran seperti Pak Baha.”
Hal itu memang tak berlebihan. Sebab, Gus Baha merupakan santri tulen yang sudah mondok dan mendalami ilmu agama sejak usia remaja. Ia berguru langsung dengan KH. Maimoen Zubair di Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang. Gus Baha merupakan ulama ahli tafsir, hadis, dan fikih yang jelas sanad keilmuannya.
Dengan demikian, sudah semestinya para kaum muda milenial sadar, kepada siapa ia belajar ilmu agama. Felix Siauw bukanlah sumber belajar agama yang kredibel dan terpecaya untuk dijadikan rujukan. Karenanya, bahaya bagi siapapun yang menjadikan Felix Siauw sebagai guru. Selain akan salah dan keliru dalam memahami agama dan menafsirkan ayat-ayat suci agama, pada akhirnya ia juga akan menyebabkan orang lain salah memahami agama yang belajar darinya. Sudahkah kita menyadari hal ini?