Tidak penting apa suku dan agamamu, kalau bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah bertanya apa agamamu. Pesan Gus Dur sebagai tokoh toleransi bangsa Indonesia terus terngiang. Ketika non Muslim ditengarai sebagai musuh umat Islam, bahkan kepada sesama Muslim yang lain paham. Pantaskah seseorang berani bersuara lantang menyatakan kebenciannya karena perbedaan tanpa alasan yang etis?
Sejatinya musuh tidak tercipta dari wujud orang yang bersuku dan beragama, karena perilaku terpuji dan tercela itu relatif bisa dimiliki manusia siapapun. Perbedaan agama tak dipermasalahkan oleh Abu Thalib, yang tetap menjalin ikatan erat untuk senantiasa melindungi keponakannya Nabi Muhammad SAW dari serangan kaum kafir. Padahal saat itu Nabi Muhammad SAW tengah menyerukan dakwah Islam.
Lain dengan Abu Jahal pemilik nama asli Amr bin Hisyam yang berwatak keras kepala lagi kasar, ia sangat memusuhi dan mengingkari Nabi Muhammad SAW demi memperebutkan kehormatan kesukuannya. Walau sebenarnya Abu Jahal pernah memberi kesaksian kebenaran dan kejujuran Nabi sebagaimana dalam catatan buku Rasulullah Teladan untuk Alam Semesta (Raghib as-Sirjani, 2011). Hal ini mencerminkan, permusuhan bukan terjadi karena perbedaan melainkan perilaku tercela yang mendekam pada diri seseorang sebagai pemantiknya.
Jauh sebelum Rasulullah SAW di utus, hidup beliau dikelilingi orang non Muslim dan tetap berbuat baik serta adil kepada siapa pun hingga diberi gelar Al-Amin (yang dapat dipercaya). Bahkan mendoakan mereka sekalipun berbuat dzolim agar kelak anak cucunya ada yang memeluk Islam. Rasulullah SAW tak henti-hentinya memberikan teladan dan menginspirasi seluruh manusia di sepanjang zaman. Sebaik-sebaik kalian adalah orang yang (paling bisa) diharapkan kebaikannya dan (paling sedikit) keburukannya hingga orang lain merasa aman. (H.R At-Tirmidzi).
Terlalu fanatik terhadap non Muslim karena beda agama hingga menganggapnya musuh bukanlah alasan yang etis. Sebab sifat baik dan buruk manusia itu individual. Jika musuh dari ketekunan adalah malas, musuh dari kedermawanan adalah pelit, musuh dari rendah hati adalah kesombongan, dan begitu seterusnya. Maka jelaslah yang dimusuhi adalah sifat atau karakternya bukan orangnya, kendati ia melekat pada diri seseorang tetap harus bisa menilai secara tepat.
Alasan Rasulullah SAW memusuhi dan memerangi orang-orang kafir di zamannya, yakni akibat mereka berbuat aniaya atau berkhianat. Orang-orang kafir sesuka hati memuaskan hawa nafsunya untuk bertindak menyerang, menghukumi sesuatu dengan tidak adil dan bengis. Misalnya, pengkhianatan orang kafir terhadap Rasulullah SAW saat peristiwa Fathu Makkah yang mengingkari janji tentang perdamaian yang telah ditandatangai dalam nota kesepakatan Hudaibiyah pada 06 Hijriyah.
Oleh karena itu, cobalah bersikap adil seperti Rasulullah SAW yang tidak pernah ngasal menghakimi sesuatu karena beda haluan agama dan paham, selagi mereka tidak melakukan pemaksaan dan mengancam keadaan.
Kisah Rasulullah SAW dalam buku Sirrah Nabawiyah, karya Abdul Hasan ‘Ali al Hasani an-Nadwi, atas kelapangan dadanya menerima segala hinaan dan fitnah dari pengemis buta yang setiap hari disuapi makanan oleh Rasulullah SAW. Sifat tercela pengemis buta ini, tak menghentikan Rasulullah SAW berbuat baik. Sampai pengemis buta itu menyadari kemudian menyatakan keislamannya saat ia mengetahui kalau satu-satunya orang yang berbuat baik kepadanya adalah Orang yang selama ini difitnah dan cacinya.
Manusia dititipkan hati nurani untuk melakukan kebenaran. Tak ada yang lebih penting dari kemanusiaan itu sendiri, cetus Gus dur. Dengannya, siapa pun manusia itu termasuk non Muslim berhak mendapat perlindungan dan hidup berdampingan secara damai. Jadi jelasnya non Muslim berhak untuk tidak dimusuhi.