Mewaspadai Ideologi dan Isu Gorengan PKS

0
63
WhatsApp
Twitter

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) adalah salah satu partai politik di Tanah Air. Partai ini didentikkan dengan Ikhwanul Muslimin (IM) di Mesir. IM sering dilihat sebagai organisasi yang ingin mengubah dunia Islam secara radikal dan sering berbenturan secara frontal dengan pemerintah di mana ia berada. Dalam bentuk yang ekstrem, ideologi IM dipakai oleh berbagai kelompok garis keras untuk mendasari aksi-aksi kekerasan, pembunuhan dan pemberontakan senjata.

Ikhwanul Muslimin adalah sebuah organisasi pergerakan Islam kontemporer yang terbesar pada zaman ini. Seruannya adalah untuk kembali kepada al-Quran dan as-Sunnah, serta mengajak kepada penerapan syari’at Islam dalam kehidupan nyata. Gerakan ini mengklaim dan berdalih ingin membendung alur sekularisasi di dunia Arab dan Islam.

Muhammad Iqbal dalam Pemikiran Politik Islam (2015) menulis bahwa kunci dari pemikiran politik Hassan al-Banna adalah Islam sebagai solusi. Solusi dari segala permasalahan yang dikandung negara yang masih menganut sistem sekuler. Dalam kasus Mesir, yang juga masih tertindas oleh kekuatan besar yang tidak Islami. Negara yang ideal menurut Hassan al-Banna adalah yang menerapkan al-Quran dan Sunah Nabi sebagai panduan utamanya.

Lahirnya IM sebagai gerakan reformis Islam, tidak dapat dilepaskan dari peran tokoh kuncinya yaitu Hassan al-Banna. Nama lengkapnya adalah Hasan Ahmad Abdurrahman Al-Banna al-Sa’ati. Dia lahir pada tanggal 14 Oktober 1906 M bertepatan dengan 1324 H di kota Mahmudiah, Provinsi Buhairah Mesir. Hasan al-Banna tumbuh dalam lingkungan keluarga yang taat beragama, yang menerapkan syari’at Islam secara nyata dalam aspek kehidupannya.

IM dengan kekuatan besarnya, mampu mendarah daging di daerah Mesir. Bisa dikatakan IM sudah menguasai leading sektor di negara tersebut. Dalam perjalanan panjangnya, memang IM ini tidak bisa beradaptasi dengan negara tertentu. Jika mampu beradaptasi dengan negara tertentu, mungkin akan semakin mampu tumbuh subur di negara-negara yang ingin dikuasainya.

IM bertransformasi menjadi sebuah partai politik Islam di negara ini yaitu Partai Keadilan Sejahtera (PKS). PKS mengalami dinamika politik di Indonesia yang tujuannya ingin menguasai negara ini dengan pemahaman Ikhwanul Muslimin. Namun, hal itu belum mampu mereka wujudkan, karen ide-idenya kerap berbenturan dengan realitas mayoritas umat Islam, seperti NU dan Muhammadiyah.

Partai Keadilan didirikan pada tanggal 20 April 1998, dan dideklarasikan pada tanggal 9 Agustus 1998 di lapangan Masjid al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Dengan jumlah massa yang hadir pada saat itu lebih dari 50.000 orang.Kehadiran Partai Keadilan dalam pentas perpolitikan Indonesia pasca jatuhnya Soeharto menjadi sebuah fenomena yang menakjubkan banyak pihak. Betapa tidak, dari seluruh partai besar yang ada pada era reformasi. PKS masih konsisten dalam memperjuangkan cita-cita melegalkan syari’at Islam.

Bayang-bayang Ikhwanul Muslimin dalam diri partai ini, membuat banyak pengamat Islam dan politik menganggap PKS tidak ada bedanya dengan kelompok-kelompok fundamentalis saat ini. Karena mengingat Ikhwanul Muslimin dalam persepsi mereka adalah organisasi fundamentalis terlarang di Mesir yang dianggap sebagai ancaman bagi kelangsungan pemerintah yang berkuasa apabila dilihat dari sisi politik.

Dalam ulasan M. Imdadun Rahmat dalam buku Ideologi Politik PKS: Dari Masjid Kampus ke Gedung Parlemen (2008), Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menjadikan IM sebagai acuan utama dalam gerakan politiknya. PKS mengadopsi pemikiran para pendiri termasuk Hassan al-Banna dan Sayyed Qutb, manhaj dakwahnya, hingga strategi meraih dukungan atau pengikutnya. Singkat kata, PKS adalah “anak ideologis” IM. Ada juga yang menyebut bahwa PKS adalah IM-nya Indonesia.

IM amat mempengaruhi proses berkembangnya Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dan Gerakan Tarbiyah yang menjadi embrio PKS. Mereka mengembangkan pandangan tentang Islam kaffah alias menyeluruh, sehingga meliputi dimensi politik untuk memajukan Islam itu sendiri. Dalam sebuah risalahnya al-Banna mengatakan bahwa syarat kesempurnaan Islam seseorang adalah keterlibatannya dalam aktivitas politik.

Hingga kini PKS masih menuai hasil gerakan yang dibangun dengan meneladani IM sejak 1980-an. Meski Banna telah tiada, demikian juga Qutb yang dihukum gantung oleh rezim Gamal Abdul Nasir, pemikirannya masih hidup di tengah-tengah diskursus maupun pergerakan Islam-politik. Buku-buku yang memuat buah pemikiran keduanya masih menjadi bahan bacaan babon bagi para simpatisan PKS juga organisasi pengemban semangat “Islam adalah solusi” di Indonesia maupun di negara-negara lainnya.

Hari ini, kita melihat PKS adalah sebuah partai politik yang sangat berbahaya dalam ideologinya. Karena PKS ini adalah anak ideologis dari IM, yang mana IM adalah organisasi yang siap memberontak dan melawan pemerintah. Jika di Indonesia jumlah mereka sudah banyak, maka bisa jadi mereka melakukan hal yang sama, sebagaimana dilakukan IM di Mesir.

Selain itu, PKS mengaku sebagai partai Islam selalu memberikan teladan yang kurang baik. Bisa dilihat dari para kader-kader yang dimiliki yang selalu terjerat skandal memalukan. Belum lagi kebiasaan mereka suka menggoreng isu dan meciptakan kegaduhan di masyarakat, seperti dalam kasus tuduhan terhadap Universitas Indonesia yang sangat melukai para civitas akademika dan keluarga kesar UI.

Maka dari itu, kita harus selalu memahami dan waspada dengan manuver PKS. Kita tidak bisa membiarkan PKS memecahbelah negeri ini dengan ideologi dan kebiasaannya yang buruk. Kita harus bersatupadu meredam dan merespons berbagai paham dan fitnah yang kerap dilontarkan oleh sejumlah kader dan politisi PKS, sehingga kita semua tetap pada kewarasan dalam berpolitik dan berbangsa.