Kolom

Revolusi Mental Generasi Milenial

2 Mins read

Revolusi mental merupakan suatu gerakan seluruh masyarakat, baik pemerintah maupun rakyat dengan cara yang cepat untuk mengangkat kembali nilai-nilai strategis yang diperlukan oleh bangsa dan negara, sehingga dapat memenangkan persaingan di era globalisasi. Mengubah cara pandang, pola pikir, sikap dan perilaku yang menentukan pada kemajuan dan kemoderenan, sehingga menjadi bangsa besar dan mampu berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain.

Mendengar kata revolusi mental, bukan hal yang baru bagi bangsa ini, karena revolusi mental dicetuskan oleh Bung Karno, saat pidato kenegaraan mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia “revolusi Indonesia menjalin kepada revolusi umat manusia”. Tidak hanya Bung Karno, presiden Jokowi pun menyerukan revolusi mental, dimana adanya sebuah Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM), yang dimaksudkan untuk mengubah kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru untuk mewujudkan negara Indonesia yang berdaulat dan berkarakter. Belakangan ini kata revolusi mental sangat diperlukan bagi generasi milenial. Mengapa demikian?

Melihat kondisi sekarang, moralitas pada generasi milenial menjadi melonggar. Sesuatu yang dulu dianggap tabu, sekarang menjadi biasa-biasa saja. Seperti, cara berpakaian, berinteraksi dengan lawan jenis, menikmati hiburan malam dan mengonsumsi narkoba menjadi tren dunia moderen yang sulit ditanggulagi. Globalisasi menyediakan seluruh fasilitas sesuai dengan kebutuhan, akibatnya generasi milenial terlena dengan menuruti semua keinginanya.

Dalam kasus narkoba cukup menghawatirkan generasi milenial. Menurut survey dari Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menunjukan 2,3 juta pelajar atau mahasiswa di Indonesia pernah mengonsumsi narkoba. Angka itu setara dengan 3,2 persen dari populasi kelompok tersebut.

Akhirnya, karakter generasi milenial berubah menjadi rapuh, mudah diterjang ombak, sehingga terjerumus dalam tren budaya yang kebarat-baratan. Prinsip-prinsip moral, budaya bangsa, dan perjuangan hilang dari karakteristik mereka. Ketika karakter suatu bangsa rapuh, maka semangat berkreasi dan berinovasi dalam kompentensi akan mengendur, dan mudah dikalahkan oleh semangat hedonisme dan lainnya.

Jadi, perlunya revolusi mental adalah karena penyakit seperti emosi, mental, dan jiwa akan berdampak pada individu berupa malasnya generasi milenial dan tidak mempunyai karakter. Kemudian dampaknya akan menular kepada masyarakat yang ditandai dengan gangguan ketertiban, keamanan, kenyamanan dan ketimpangan sosial. Lebih jauh lagi, akan berdampak negatif pada tanah air. Bangsa kita akan lemah dan menjadi tidak bermartabat. Kemudian produktivitas dan daya saing kita menjadi rendah.

Oleh sebab itu, revolusi sangat penting bagi generasi milenial. Diperlukan untuk merubah tabiat buruk menjadi ke hal yang positif. Pembentukan mental dan karakter dimulai dari pendidikan. Ki Hajar Dewantara berpendapat bahwa, “pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran dan tubuh. Bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan pemuda”. Pesan yang didapatkan dalam pernyataan tersebut menunjukan bahwa pendidikan memiliki peranan yang besar dalam membangun karakter bangsa ini.

Sejatinya pendidikan membutuhkan komitmen dan integritas para generasi milenial untuk menerapkan nilai-nilai kehidupan di setiap pembelajaran. Pendidikan seharusnya tidak sekadar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, tetapi juga menanamkan kebiasaan menjadi hobi tentang hal baik.

Dengan alasan itu, generasi milenial menjadi paham dan mengerti tentang mana yang baik dan buruk, serta mampu menumbuhkan kepekaan, perilaku baik dan biasa melakukanya dalam kehidupan sehari-hari. Najwa Shihab menyatakan “Tidak ada yang sia-sia dalam pendidikan. Percayalah bahwa pendidikan dapat membawa seseorang menjadi pribadi yang lebih baik”. Mari wujudkan revolusi mental generasi milenial agar menjadi generasi masa depan yang berkarakter.

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Puasa dan Spirit Toleransi

Menjelang bulan suci Ramadhan, seringkali teror dan bom bunuh diri terjadi. Terakhir, terjadi bom bunuh diri di Gereja Katedral, Kota Makassar dan…
KolomNasihat

Sunnah Sahur

Sahur merupakan elemen penting dari puasa. Sahur merupakan waktu yang tepat mempersiapkan asupan yang cukup agar dapat berpuasa sepanjang hari. Namun, tidak…
Kolom

Indahnya Puasa Sambil Bertoleransi

Dalam kehidupan, saling menghargai antar sesama manusia sangat diperlukan, apalagi di saat bulan puasa. Bulan Ramadhan menjadi momen yang tepat untuk menebar virus toleransi antar manusia. Karena toleransi atau kerukunan antar umat beragama menjadi salah satu kunci penting dalam keberhasilan membangun perdamaian. Ketika berpuasa, kita diberi ujian untuk selalu bersabar dalam segala hal. Dengan adanya toleransi, kita dapat memperindah ibadah puasa yang akan kita jalani.