Kolom

Inovatif dan Kreatif, Jihad Kaum Milenial

2 Mins read

Tanah Air tengah memasuki era bonus demografi, yang pada dasarnya tidak terlepas dari generasi milenial. Mereka banyak menyumbang dalam membentuk struktur jumlah penduduk usia produktif. Namun, di tengah hiruk pikuk dunia digital, sudahkah milenial fungsional?

Menurut Badan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Tanah Air akan mengalami bonus demografi pada rentang waktu 2020-2030. Pada saat itu, usia Angkatan kerja (15-64 tahun) mencapai sekitar 70 persen, sedangkan 30 persennya merupakan penduduk yang tidak produktif. Presentase ini kian ideal saat memasuki masa puncak antara 2028-2030.

Sumber daya manusia sangat berperan dalam pembangunan ekonomi suatu negara, khususnya Indonesia sebagai negara berkembang. Sedangkan modal pokok pembangunan adalah sumber daya manusia yang berkualitas. Kuantitas yang baik, tanpa diiringi kualitas yang baik pula, dapat menyebabkan ketidakseimbangan, yang merugikan masyarakat dan negara.

Dominasi milenial pada bonus demografi terlihat dari besarnya sumbangan milenial dari segi jumlah penduduk usia produktif. Di dalam buku Statistik Gender Tematik: Profil Generasi Milenial Indonesia (2018) disebutkan, Sekitar 50,36 persen dari jumlah penduduk usia produktif pada dasarnya merupakan generasi milenial, yang menurut Howe dan Strauss (2000), adalah generasi yang lahir antara tahun 1982-2000.

Sudah menjadi rahasia publik, bahwa milenial lahir dan dibesarkan seiring berkembangnya teknologi digital. Ponsel yang kini menjadi sahabat karib milenial, dapat berpengaruh baik sekaligus buruk. Ia menjadi baik, saat digunakan untuk mengembangkan karakter dan potensi diri. Dan menjadi buruk saat digunakan hanya untuk memenuhi nafsu atau keinginan yang berlebihan.

Ketergantungan milenial akan ponsel tidak dapat dipungkiri. Meski demikian, kondisi tersebut dimanfaatkan untuk menghasilkan produk-produk lokal yang bermanfaat bagi bangsa negara. Sebut saja aplikasi ruang guru, sebuah perusahaan startup teknologi yang berfokus pada pendidikan, didirikan oleh Adamas Belva dan Muhammad Iman, dua orang milenial fungsional, pada April 2017, serta telah memiliki 15 juta pengguna hingga tahun 2019.

Sangat mungkin bagi generasi milenial menempuh peluang-peluang yang ada untuk mengembangkan potensi sekaligus membuka lapangan kerja. Bagi sebagian milenial, kemajuan teknologi menjadi tantangan tersendiri bahkan kesulitan untuk menunjukkan kemampuan, sebab ketatnya persaingan. Namun, bagi sebagian lain, kemajuan teknologi adalah kesempatan emas untuk memajukan masyarakat dan negara.

Ditambah, pandemi Covid-19 yang kian mewabah, menjadikan kaum milenial sebagai penggerak perubahan dengan cara menerapkan protokol kesehatan dan membangkitkan perekonomian masyarakat yang terhambat. Jika tidak dapat berkontribusi tindakan, berkontrubusilah dalam bentuk kreativitas, karena tiap-tiap manusia diberikan akal sebagai anugrah Tuhan, untuk dapat dimanfaatkan dengan sebaik mungkin.

Maka dari itu, menjadi milenial fungsional dapat dijalin dengan cara memproduksi inovasi dan kreativitas. Di dalam al-Quran terdapat lebih dari 640 ayat yang mendorong manusia untuk berpikir. Syari’at memerintahkan manusia untuk menggunakan akal pikiran, karena akal merupakan keistimewaan manusia yang membedakannya dengan makhluk lain.

“…Kemudian Kami jadikan dia (manusia) makhluk yang unik. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (al-Mu’min (23): 12-14)

Pada ayat di atas, Quraish Shihab menafsirkan khalqan akhar sebagai makhluk unik. Hal tersebut lantaran manusia dikaruniai akal pikiran yang memicu lahirnya manusia inovatif dan kreatif. Seseorang yang dibiasakan berpikir dapat memungkinkannya untuk berpikir secara sistematis dan memecahkan persoalan publik.

Walhasil, milenial fungsional merupakan dambaan setiap bangsa negara. Berproses menjadi salah satunya adalah tujuan mulia atau dapat pula disebut sebagai salah satu bentuk jihad. Jihad kepada Tuhan sebab memanfaatkan karuniaNya dengan baik, sekaligus meningkatkan kualitas peradaban manusia.

Related posts
Kolom

SBY, Sebaiknya Bantu Negara Atasi Bencana

Pernyataan mantan Presiden Republik Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali menjadi perbincangan jagat maya. Dalam sebuah acara “Doa untuk Indonesia” yang…
Kolom

Kritik Santun Dalam Demokrasi Digital

Belakangan, pernyataan Presiden Joko Widodo yang meminta masyarakat aktif mengkritik pemerintah menuai berbagai komentar publik. Pasalnya, Jokowi pernah mengatakan, pemerintah perlu mendapat…
Kolom

Dakwah Setan Dai Provokatif

Banyak mimbar atau podium, dimanfaatkan untuk memprovokasi, mencaci-maki, menghina, mengadu domba, ujaran kebencian, dan menggunjing orang-orang yang tidak satu paham, tidak satu…