Merajut Kembali Toleransi Yang Hilang

0
11
WhatsApp
Twitter

Negeri ini mempunyai kemajemukan adat, suku, budaya, bahasa, dan agama yang membuat kita harus menghargai semua perbedaan demi terciptanya kerukunan masyarakat. Namun, toleransi di sini mulai tergerus terbawa arus peradaban yang tak terurus. Di beberapa wilayah, toleransi beragama mulai hilang, dikarenakan sekelompok orang yang tak menghargai perbedaan.

Beberapa waktu yang lalu, di Bekasi telah terjadi tindakan intoleransi yang dilakukan oleh sekelompok orang. Beredar viralnya vidio yang memperlihatkan beberapa umat HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) sedang beribadah di sebuah rumah, tetapi beberapa orang lain mendekati, mereka malah bernyanyi dan menyetel lagu lewat speaker dengan volume kencang, sehingga mengganggu kegiatan peribadatan yang telah dilaksanakan. Hal seperti itu merupakan salah satu bentuk hilangnya toleransi pada diri seseorang.

Maraknya pelanggaran toleransi beragama membuat para pelaku lupa akan adanya kebebasan beragama dan kebebasan untuk hidup, sebagaimana diatur dalam UUD 1945 dan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

Menurut data yang dihimpun Setara Institute, dari tahun 2014 sampai 2019, peristiwa pelanggaran kebebasan beragama di Indonesia cenderung tinggi. Jawa Barat ada 154 kasus dan menjadi Provinsi tertinggi pelanggaran kebebasan beragama. Dilanjutkan DKI Jakarta dengan 114 peristiwa, lalu Jawa Timur 92 peristiwa, Aceh 69 peristiwa, Jawa Tengah 59 peristiwa, Yogyakarta 38 peristiwa, Banten 36 peristiwa, Sulawesi Selatan 31 peristiwa, Sumatra Utara 28 peristiwa, dan Sumatra Barat 19 peristiwa. Semua itu membuat kita khawatir serta harus selalu berhati-hati.

Hilangnya moral pada setiap individu menimbulkan tindakan intoleran terjadi. Mereka melupakan para pahlawan yang berjuang untuk kemerdekaan bangsa. Para pendiri bangsa tidak hanya dari kalangan satu agama saja, tetapi mempunyai latar belakang yang berbeda-beda. Dulu, para pendiri bermusyawarah untuk membangun bersama negeri ini. Karena banyaknya perbedaan, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika menjadikan titik temu untuk kemajuan bangsa.

Sebagaimana Bung Karno berkata, “Apa salahnya ada perbedaan-perbedaan asal ada persatuan dalam cita-cita”. Artinya, Bung Karno tidak pernah mempermasalahkan perbedaan yang sudah terjalin. Karena negeri ini kaya perbedaan, maka para pendiri bangsa berusaha untuk menjaganya dan merawat perbedaan yang ada. Kemajemukan itupun bertahan sampai saat ini.

Banyak tokoh agama dan nasionalis terus-menerus mengampanyekan toleransi. Mereka selalu mengingatkan kita agar peduli terhadap macam-macam perbedaan serta menghindari perbuatan intoleran. Presiden Joko Widodo, ketika berpidato dia kerap berbicara tentang toleransi di hadapan pendengarnya.

Salah satu tokoh pejuang toleransi adalah Gus Dur, dan dia pernah berucap, “memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya, merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan penciptanya”. Menurut Gus Dur, menghormati dan menghargai semua manusia hukumnya wajib, walau mempunyai latar belakang yang berbeda-beda.

Sebagai anak bangsa yang dilahirkan di negeri pertiwi, kita mempunyai kewajiban untuk mentaati hukum dan peratutan yang telah dibuat. Apa yang kita perbuat harus sesuai dengan aturan yang berlaku. Jangan seperti oknum yang sudah dijelaskan di atas tadi, mereka menuruti keegoisan tanpa memandang adanya perbedaan, sampai-sampai membuat keresahan dan merugikan orang lain.

Suatu peristiwa yang merujuk perbuatan intoleran akan menimbulkan kecemburuan sosial dan dapat melahirkan tindakan radikal. Hal itu akan berdampak bagi kehidupan bermasyarakat. Yang ditakutkan ketika adanya perbuatan pelanggaran kebebasan beragama adalah saling balas dendam dan pasti akan menambah data kasus baru, serta akan menjadi catatan buruk bagi negeri ini.

Di sisi lain, bangsa ini mempunyai organisasi yang selalu mendukung berkembangnya toleransi. Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah adalah dua organisasi terbesar yang mempunyai cita-cita untuk merajut keaneka ragaman demi melahirkan toleransi.

Sebagai orang yang hidup dan tinggal di Indonesia, kita dilarang untuk berbuat intoleran yang menimbulkan keresahan. Sudah seharusnya kita merajut kembali toleransi yang hilang, lalu dengan cara apa kita melakukannya? Pertama, harus mempunyai kesadaran bersama, karena kita perlu melihat sekitar, bahwa kita itu hidup di tengah masyarakat yang mempunyai latar belakang berbeda, karena esensi dari toleransi adalah menerima semua perbedaan.

Kedua, mempunyai semangat bersatu tanpa mengedepankan ego sendiri. Artinya persatuan dan kesatuan harus kita miliki, agar melahirkan sebuah kesadaran untuk kembali pada tujuan bangsa, yaitu menjaga kerukunan masyarakat yang telah hidup di tengah perbedaan.

Ketiga, terus-menerus dan jangan bosan untuk selalu mengingat perjuangan para pendiri bangsa yang telah berusaha mengkokohkan negeri ini dari ancaman intoleransi. Mereka turut merawat perbedaan dan awet sampai saat ini. Selain itu, kita harus sering bersilaturahmi dengan orang-orang yang berbeda keyakinan.

Keempat, berani dan tanggung jawab untuk menegur atau melaporkan seseorang jika hendak melakukan tindakan kriminal yang meresahkan masyarakat. Namun, tidak serta-merta kita juga ikutan dalam tindakan intoleran, dalam hal saling balas dendam.

Kelima, menanamkan jiwa Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika ke hati kita, menabur nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika di lingkungan sekitar, serta memanifestasikannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, karena apa yang kita kerjakan saat ini, akan dipertanggung jawabkan dikemudian hari.

Dengan demikian, jika kita melakukan kebaikan, toleransi akan tumbuh dengan sendirinya kepada hati kita. Sebagai anak bangsa yang taat akan hukum, kita harus saling menjaga dan menghormati antar sesama, karena itu adalah kewajiban yang harus kita lakukan. Maka dari itu, sebagai bentuk kecintaan kita terhadap ibu pertiwi, kita harus berjuang demi mewujudkan kemajuan dan cita-cita bangsa.