Memang tak salah, jika kalangan milenial menjadi sasaran mapan bagi radikalisme di dunia siber. Pasalnya, milenial dianggap identik sebagai aktivis siber karena gairah mereka dalam merespons teknologi digital lebih ulung. Keidentikkan tersebut menimbulkan tendensi terhadap siber kian mencolok, khususnya keagamaan. Sebab itu, tendensi keagamaan di siber kini menjadi polemik yang mengarah pada radikalisme bagi milenial.
Milenial masuk dominasi teratas pengguna siber di Indonesia. Dijelaskan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2018, kategori usia milenial, yaitu usia 20 sampai 24 tahun dengan penetrasi 88,5 persen. Hal ini cukup menunjukkan, bahwa milenial boleh disebut sebagai aktivis siber. Sebagai aktivis siber, tak sedikit dari mereka yang memburu tentang konten keagamaan tanpa pilah-pilih.
Pada sajian konten keagamaan di siber, ada banyak pilihan syiar dakwah dari berbagai paham. Paham keagamaan ini memiliki ragam karakter, mulai dari yang moderat, ekstrem dan radikal. Karena itu, beruntung bagi milenial yang selektif dan tak sengaja hatinya dimantapkan pada dakwah yang memiliki paham moderat, bukan paham radikal.
Implikasi keragaman dari paham keagamaan, menerbitkan golongan pembawa corak Islam yang berbeda-beda. Rasulullah SAW sudah memprediksikan hal demikian sejak limabelas abad yang lalu dalam sabdanya, Ketahuilah! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahlu kitab berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Tujuh puluh dua golongan masuk neraka dan satu golongan masuk surga, yaitu al-jama’ah. (H.R Abu Dawud 4597).
Salah satu aliran di Indonesia yang memiliki ideologi radikal adalah Wahabisme. Wahabisme adalah paham yang didirikan oleh Muhammad bin ‘abd al-Wahhab (1702). Corak Wahabisme yang teramat mencolok, yaitu menengarai dirinya paling salafi diantara kelompok lainnya. Begitupun aktivitas dan pemikiran di luar kelompoknya, dilabelkan perbuatan kafir, murtad, politeis, dan bid’ah.
Dalam jejak perjalanannya, secara paradigmatik Wahabisme masih menjamah dan semarak di jagat siber hingga kini. Bahkan bermetamorfosa pada ideologi salafi-jihadi, yaitu ideologi yang menggabungkan antara Wahabisme, Salafisme dan Jihad, atau yang disebut Neo-Wahabisme sebagaimana yang diistilahkan oleh Ahmad Mousalli (2009).
Fakta semarak Wahabisme atau Neo-Wahabisme yang berwajah salafisme di siber, yaitu kerap ditemuk]annya syiar dakwah yang berisikan pemahaman yang tidak moderat. Misalnya, selain ajakan menegakan khilafah dan membantah Pancasila sebagai ideologi negara, dan berjihad dengan cara berperang. Mereka juga menggaungkan, penafsiran ayat Al-Quran dan hadis secara tekstual, padahal penafsiran yang diyakininya belum tentu relevan, bahkan bisa memperkeruh situasi yang ada karena tidak sesuai zamannya.
Sudah maklum, Wahabi menyasar kaum milenial. Mereka yang tidak mempunyai latar keagamaan rentan disusupi tipu daya mereka. Milenial rentan terkena radikalisme hanya melalui siber. Salah satu kasus yang pernah ditemui secara langsung adalah teman saya yang sesama mahasiswa. Mulanya, ia gemar menonton ceramah di youtube dan dengan sendirinya terdoktrin. Doktrin Neo-Wahabisme yang sudah melebur dalam dirinya adalah takfir dan dosa besar. Mudahnya, ia mengatakan pemerintah termasuk jajarannya itu kafir sebab politik yang dinilai tidak sepahamannya.
Sampai ketika korona-19 Mei lalu, ia melarang seorang temannya untuk pulang ke halamannya dengan iming-iming dosa, karena ada dalam hadisnya. Satu lagi, ia mengutip seorang tokoh yang dianggapnya ustadzah, bahwa perempuan hanya bekerja di dalam rumah saja.
Singkatnya, paham radikal sebagaimana Wahabisme atau Neo-Wahabisme, tidak dibenarkan untuk diikuti. Bukan semata karena ideologinya yang mengkhawatirkan, tetapi implementasi ideologi tersebut yang dapat melahirkan percerai-beraian, baik antarwarga, antarumat dan kesukaran dalam beragama.
Oleh karena itu penting menyemarakkan toleransi anti radikalisme dan memahami Islam secara moderat pada kaum milenial. Upaya tersebut agar mereka tidak mudah terpapar dan sebelum terlanjur fatal akibat doktrin-doktrin radikal lainnya, seperti teman saya tersebut. Kaum milenial mesti waspada dan hati-hati dalam memilih ustadz, karena sekali salah memilih ustadz bisa terjebak pada kubangan radikalisme.
Memang benar, kaum salafi-wahabi-takfiri lebih sering menghiasi Google & YouTube, jadilah mereka belajarnya secara instan. Alih2 ke pesantren, madrasah, dll.