Dakwah Kultural Sunan Kalijaga

0
21
WhatsApp
Twitter

Tembang lir-ilir merupakan tembang dolanan berbahasa Jawa. Ternyata, tembangan lagu tersebut merupakan salah satu tembang keagamaan. Itulah tembang dakwah yang digubah oleh penyiar Islam di Jawa, yang menggunakan pendekatan kebudayaan dalam menyebarkan Islam.

Islamisasi di Jawa tidak lepas dari jasa-jasa para mubalig. Para mubalig ini lebih dikenal dengan sebutan Wali Songo. Masa Wali Songo khususnya masyarakat Jawa pada umumnya beragama Hindu dan Budha. Berkembangnya Islam di Jawa pada rentang waktu antara abad 15 hingga 17 M. Hal ini dibuktikan dengan berdirinya kerajaan Islam pertama di Jawa, yaitu kerajaan Demak pada tahun 1481 M. Peranan Wali Songo cukup sangat besar dalam kerajaan Islam, serta pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas. Di antara tokoh Wali Songo yang cukup populer di kalangan masyarakat Jawa adalah Sunan Kalijaga atau Raden Syahid.

Sunan Kalijaga adalah anak dari Bupati Tuban. Selama hidupnya melewati empat pemerintahan, yakni Majapahit (sebelum 1478), Kesultanan Demak (1481-1546), Kesultanan Pajang (1546-1568), dan Kesultanan Mataram (1580). Sunan kalijaga adalah tokoh sentral tersebarnya Islam di Jawa. Keadaan masyarakat Jawa waktu itu, di mana masyarakatnya masih kental dengan tradisi Hindu-Budha. Maka tidak heran penerapan dakwah yang dipakai Sunan Kalijaga dalam proses Islamisasi menyesuaikan pendekatan budaya (culture) yang ada.

Cara berdakwah Sunan Kalijaga yang sangat luwes kepada masyarakat Jawa, yang waktu itu masih sangat banyak menganut kepercayaan lama tidak ditentang adat istiadat. Pendiriannya adalah membuat rakyat senang dulu, sesudah itu direbut simpatinya hingga mau menerima agama Islam. Selain itu, Sunan Kalijaga menggunakan metode dakwah dengan pendekatan budaya, dengan media dakwah yang sudah ada pada masyarakat Jawa, seperti Grabeg, wayang kulit, gamelan, suluk, dan upacara-upacara tradisional, seperti selametan dan kenduri.

Sunan Kalijaga menggunakan wayang kulit sebagai media dakwah. Kemudian ia memasukkan syahadat dalam dunia pewayangan. Mantera dan jampi-jampi yang biasa menggunakan Bahasa Jawa, ditutupnya menggunakan dua kalimat syahadat. Dengan ini, Sunan Kalijaga berhasil mengubah lakon Wayang yang terkenal, seperti Jimat Kalimasada dan Dewa Suci. Jimat kalimasada tak lain adalah perlambangan dari dua kalimat syahadat itu sendiri.

Menurut Hazim Amir di dalam bukunya Nilai-Nilai Etis Dalam Wayang, setelah agama Islam masuk di Jawa, lakon wayang mengalami perubahan. Islam tidak mengenal istilah Trimurti dan sistem dewa-dewa pantheis. Para Wali Songo pun mengubah suatu sistem hierarki kedewaan sebagai pelaksana perintah Tuhan, bukan sebagai Tuhan. Untuk ini, cerita-cerita kedewaan pun menjadi lebih Islami.

Saifuddin Zuhri menambahkan, bahwa Sunan Kalijaga telah mengubah Wayang Kulit sebagai media Pendidikan rohani. Ia menampilkan tokoh-tokoh pewayangan, yang menjadi favorit rakyat ke dalam dialog dan cerita tentang tashawwuf dan akhlakul karimah. Hal inilah yang ingin dicapai oleh Sunan Kalijaga dalam dakwahnya untuk tingkatan permulaan.

Dakwah yang ditempuh para Wali Songo pun sangat efektif dalam mengubah masyarakat. Cara pendekatan Sunan Kalijaga dengan kebudayaan lokal mampu mendapatkan hati dan tempat terbaik di kalangan pengikutnya. Ini membuktikan, bahwa dakwah berkebudayaan yang dipraktikkan oleh Sunan Kalijaga dipilih warga Nusantara secara luas pada periode Wali Songo.

Akhirnya, dakwah Sunan Kalijaga dengan menggunakan strategi kebudayaan sangat efektif dan diterima masyarakat ketika itu. Cara dakwah ini pun harus dipraktikkan oleh para mubalig zaman sekarang. Islam pun dikenal sebagai agama penuh damai. Ajaran Islam pun dapat diserap masyarakat tanpa menumbangkan tradisi-tradisi masyarakat.