Trend Hijrah masih berlanjut sampai sekarang, Istilah Hijrah dimaknai sebagai suatu perpindahan seseorang menuju budaya yang dianggap Islami. Di tengah arus informasi saat ini, ajaran Hijrah kian massif, tidak hanya menyasar kelompok masyarakat yang sedang baru-barunya mengenal agama.
Sayangnya, fenomena Hijrah identik pada perubahan simbolis, ia lebih dekat dengan tujuan komersil, seperti jualan label Syar’i. Deretan opini ganjil seperti ‘kelepon tidak islami’ atau ’50 pekerjaan tidak halal’ yang belakangan viral adalah aroma tidak sedap dari tren yang tergila-gila pada simbol-simbol keagamaan dan mengabaikan substansi ajaran Islam yang sesungguhnya.
Hijrah sebagai suatu tren, dianggap berkembang dari sebuah kesadaran untuk meninggalkan perbuatan yang tidak disukai Allah SWT untuk melakukan apa yang disukai-Nya. dibanding mengakomodir substansi ajaran Islam yang bersifat universal dan inklusif untuk kepentingan kehidupan umat manusia, sebagai sesuatu yang diridhoi Allah SWT. Kaum Hijrah masih beranggapan bahwa Tuhan menyukai ekslusivitas gamis, jilbab panjang, jenggot, jubah, cadar, kurma dan khilafah. Transformasi yang tejadi lagi-lagi hanya pengidentifikasian diri pada budaya Arab. Jika begitu, Hijrah hanyalah daur ulang dari masalah yang selama ini dikenal sebagai Arabisasi.
Padahal, tren Hijrah kerap diakui pula terinspirasi dari peristiwa hijrah Rasulullah SAW dan para pengikutnya, dari Mekah ke Yastrib pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun pertama hijriah, bertepatan dengan abad ke-7 masehi. Hijrah tersebut membawa misi utama berupa pembebasan dari ketertindasan, serta reformasi kehidupan umat kearah yang lebih terbuka dan dinamis.
Hal tersebut tercermin pada dakwah Rasulullah SAW periode Madinah atau pasca hijrah yang banyak membahas materi-materi sosial kemasyarakatan, sehingga terbentuklah sebuah peradaban. Inilah substansi hijrah yang seharusnya menjadi prioritas, lebih dari simbol-simbol parsialnya.
Sangat disayangkan jika antusiasme masyarakat atas trend hijrah bukan berujung pada tumbuhnya kekuatan-kekuatan kreatif islam dari spirit hijrah ala para nabi. Melainkan malah menguatnya islam politik beserta agenda-agendanya, yang justru mempersempit misi Islam sebagai agama yang membawa ajaran universal.
Menurut Amer Al-Roubai, Islam bukanlah hasil dari produk budaya Akan tetapi Islam justru membangun sebuah budaya, sebuah peradaban. Dalam Islam sendiri dikenal zona-zona kebudayaan, di antaranya Afrika Utara, Afrika Tengah, Timur Tengah, Turki, Iran, India, Timur Jauh, dan zona Asia Tenggara. Masing-masing zona mempunyai ciri sendiri-sendiri, tidak selalu dan bahkan berbeda dari budaya di Arab yang kerap diglorifikasi sebagai satu-satunya budaya Islami. Maka sesungguhnya, Islam di Indonesia, India, Arab atau di manapun sama sah-nya, sama ajarannya, yang berbeda hanyalah budayanya saja, sebagai hasil proses dialektis antara teks agama dan konteks masyarakatnya.
Dengan begitu, spirit hijrah umat Islam harus mampu mengantarkan pada pembaharuan, yang lebih menyegarkan dan kontekstual dengan perkembangan zaman. Mari hijrah untuk kepentingan kehidupan umat manusia!