Rasio kasus positif Covid-19 di Indonesia kian meningkat. Selain karena kurangnya jangkauan tes, mobilitas warga yang tinggi juga menjadi penyebab tingginya angka penularan. Namun, di tengah situasi pandemi, masih ada saja kelompok radikal yang membenturkan upaya penanganan Covid-19 dengan agama.
Penerapan protokol kesehatan, larangan berkerumun, sampai pembatasan shalat berjamaah di masjid oleh pemerintah, dianggap upaya pelarangan menjalankan ibadah bagi umat Muslim. Para radikalis juga mengangap negara ini kafir, sehingga penyebaran virus mematikan tersebut makin meluas. Bahkan, mereka menyebut khilafah adalah solusi atas permasalahan pandemi ini. Benarkah demikian?
Semua agama tentu sangat penduli dengan kesehatan umatnya. Protokol kesehatan yang diterapkan di rumah ibadah, termasuk pelarangan Shalat Jum’at di masjid, jangan dipahani sebagai larangan yang melanggar agama. Oleh karena itu, ketika benturan penerapan protokol kesehatan dan pelaksanaan ibadah di tengah pandemi ini jadi aksi radikal, maka narasi-narasi moderat perlu dimunculkan. Pertanyaannya, kenapa narasi moderat tersebut sangat penting dimunculkan di tengah situasi pandemi ini?
Moderat secara etimologi berasal dari kata moderation, yang mempunyai kesamaan arti dengan standard, average (rerata), core (inti), dan non-aligned (non-blok, tidak memihak). Dalam Bahasa Arab istilah moderat disebut wasathiyah yang diartikan posisi di tengah, adil. Sedangkan dalam KBBI disebutkan, moderat adalah kecenderungan ke arah dimensi atau jalan tengah, selalu menghindarkan perilaku atau pengungkapan yang ekstrem.
Sementara itu, Quraish Shihab menuturkan, moderat adalah berarti sesuatu yang baik dan berada dalam posisi di antara dua ekstrem. Moderat itu mengandung prinsip keseimbangan dan keadilan dengan tujuan agar tidak terjerumus pada ekstrimitas. Dengan demikian, moderat berarti ditengah-tengah, tidak memihak, dan tidak ekstrem, baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri, baik secara perilaku maupun tutur kata.
Pandemi Covid-19 adalah sebuah musibah, bencana, ujian. Quraish Shihab mengatakan bahwa, ujian adalah keniscayaan hidup. Dalam QS. Al-Hadid ayat 22 juga disebutkan, “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.”
Berdasarkan ayat di atas, pandemi Covid-19 bisa disebut sebagai bencana. Tidak hanya bencana nasional, tapi juga global. Hampir semua negara tak luput dari serangan virus tersebut. Akibatnya, semua sendi kehidupan terkena dampaknya. Tentu, hal ini seharusnya bisa dipahami oleh semua, untuk dijadikan bahan refleksi dan berupaya menanganinya bersama-sama. Bukan sebaliknya, malah memrovokasi umat dengan membenturkan agama dengan upaya penanganan Covid-19 yang tengah berlangsung.
Dalam kondisi pandemi seperti inilah, sikap-sikap moderat sangat penting dimunculkan. Kenapa demikian? Ada dua alasan kuat yang mendasarinya. Pertama, agar terhindar dari sikap ekstrem, baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri. Sebab, jika terlalu ekstrem, ia akan pilih-pilih dalam menolong orang. Padahal, tolong menolong haruslah ikhlas tanpa dibatasi suku, agama dan status sosial. Ini merupakan perwujudan dalam memperkokoh ukhuwah Islamiyah, Basyariyah, dan Wathaniyah.
Kedua, agar pemahaman beragama tidak menjadi ancaman terhadap kesehatan dirinya juga masyarakat. Artinya, mengikuti anjuran pemerintah, pakar, dan pihak berwenang untuk tidak berkerumun, social distancing, juga menerapkan protokol kesehatan. Sebab, mengutamakan kesehatan dan keselamatan orang banyak lebih baik dibanding mendahulukan ego keagamaan. Hal ini sesuai dengan kaidah fikih, dar’ul mafasid aula min jalbil mashalih, yaitu menghilangkan kemudharatan itu harus didahulukan daripada mengambil manfaat.
Dengan demikian, adanya pandemi ini pasti ada hikmah di baliknya. Salah satu hikmah pandemi ini yaitu bumi memiliki waktu untuk istirahat dan mengembalikan keseimbangannya. Alangkah baiknya jika seluruh elemen masyarakat menurunkan ego masing-masing dengan mengedepankan sikap-sikap moderat dibanding tindakan radikal dan ekstrem. Tolong-menolong, mengutamakan keselamatan orang banyak, mengikuti anjuran pemerintah, dan yang paling penting menerapkan protokol kesehatan guna mencegah penyebaran Covid-19.