Melawan Janji Manis Kaum Radikal

0
1
WhatsApp
Twitter

Salah satu daya tarik dari kelompok radikal, adalah iming-iming masa depan yang lebih baik. Masyarakat yang sering mengalami persoalan kemiskinan, ketidakadilan, dan kekecewaan terhadap pemerintah, kerap kali dimanfaatkan oleh kelompok tersebut untuk dipengaruhi, dengan diberikan janji-janji manis akan kehidupan yang lebih sejahtera. Padahal, itu semua hanya utopia belaka.

Beberapa tahun lalu, kita mendengar sosok perempuan bernama Nurshadrina Khaira Dhania, perempuan milenial asal Indonesia yang mengajak keluarganya ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Ia menceritakan pengalamannya bagaimana ia bisa tertarik untuk bergabung dengan ISIS, kemudian ketika ia berada di Suriah, sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke Tanah Air.

Sedikit kita mengingat kembali bagaimana perjalanan sosok Dhania, ketika menjadi bagian dalam kelompok radikal. Awalnya, ia mengenal ISIS dari pamannya, kemudian mencari tahu lebih jauh melalui internet dan media sosial. Melalui facebook, ia mendapatkan informasi tentang apa yang dianggap sebagai pengalaman indah oleh sejumlah orang yang hidup di bawah kekhilafahan ISIS, yang membuatnya mulai tertarik. Dhania mengaku bahwa sebenarnya ia tidak tergoda dengan bujukan jihad, melainkan tergoda oleh janji kehidupan utopis belaka. Diceritakan bahwa ISIS menawarkan pendidikan, kesehatan gratis, pekerjaan untuk semua orang yang bergabung dalam perjuangan, hingga janji untuk membayar hutang keluarga. Akhirnya, ia pun meyakinkan keluarganya tentang manfaat meninggalkan Indonesia dan pergi ke Suriah.

Kemudian, ayah Dhania membuat pilihan yang menakjubkan, yakni meninggalkan pekerjaannya, lalu menjual rumah utama keluarga di Jakarta untuk membiayai perjalanan ke Suriah. Beberapa bulan kemudian, 26 anggota keluarga melakukan perjalanan ke Timur Tengah. Tujuh di antaranya ditahan di Turki dan dideportasi. Tetapi 19 anggota keluarga lainnya, termasuk Dhania dan orangtuanya berhasil mencapai Raqqa.

Sesampainya di sana, mereka dipaksa untuk hidup terpisah. Perempuan dan anak perempuan ditempatkan di asrama yang kotor bersama perempuan lain yang mereka tidak kenal. Kenyataannya, para perempuan hanya dijadikan sebagai budak seks. Sedangkan laki-laki diperintahkan untuk berperang. Perkelahian fisik dan perselisihan rumah tangga, menjadi hal yang lumrah.

Janji manis yang selalu dipropagandakan, ternyata tak kunjung ditepati. Kemudian, di sana mereka hanya merasakan penderitaan, neneknya meninggal karena penyakit, dan seorang pamannya terbunuh dalam serangan udara. Akhirnya mereka mencari jalan keluar dari Suriah untuk kembali ke Tanah Air.

Berdasarkan cerita tersebut, kita mengetahui bahwa gambaran kehidupan di Suriah dalam propaganda ISIS, memang sangat jauh berbeda dengan kenyataan. Harapan mendapatkan kehidupan yang sejahtera, pada akhirnya malah menjadi sesuatu yang menyedihkan dan menyakitkan. Pengorbanan yang dilakukan, malah berujung penderitaan.

Maka, kita semua harus lebih berpikir kritis dalam melawan propaganda-propaganda kelompok radikal, terutama yang bertebaran di media sosial yang tidak pernah ada habisnya. Jangan terlalu mudah percaya dan tergiur oleh tawaran janji manis yang ditawarkan. Belajarlah untuk mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu. Jika di media sosial kita isinya hanya propaganda kaum radikal, coba kita mulai beralih ke buku bacaan, dan lebih kritis untuk bertanya kepada guru ngaji atau keluarga.

Selain itu, dengan cara memperdalam ilmu agama, juga dapat membentengi diri kita dari hembusan angin surga yang ditiupkan oleh kelompok radikal. Kita pahami bersama bahwa beragama harus dibarengi dengan ilmu. Jangan sampai kita beragama dengan nafsu.

KH. Mustofa Bisri atau yang lebih kita kenal dengan sebutan Gus Mus menjelaskan perbedaan antara ghirah (semangat) keagamaan dengan nafsu. Menurut dia, semangat beragama mendorong seseorang untuk terus memperdalam pemahaman agama dan memperkuat keimanan. Sedangkan, nafsu hanya melahirkan fanatisme buta yang justru menjauhkan akal sehat yang diperlukan untuk beragama dengan baik.

Maka dari itu, setiap individu harus terus membentengi diri dari ancaman kelompok radikal. Melawan semua janji manisnya, dengan pemikiran kritis dan pemahaman agama yang mendalam. Karena pada kenyataannya memang benar, bahwa yang ditawarkan oleh kelompok radikal, seperti ISIS hanya sekadar utopia belaka.