Berita

Anak Muda Kok Mudah Terkena Hoaks

2 Mins read

Sudah tidak asing lagi, jika kita berbicara tentang berita hoaks di Indonesia yang menyebar di dunia maya. Terutama media sosial, yang membawa pengaruh tersendiri bagi setiap kalangan. Bagi kalangan remaja atau pemuda, maraknya berita hoaks perlu mendapatkan perhatian tersendiri. Sebab, yang kita tahu berita hoaks banyak disebarkan di media sosial, sedangkan pengguna media sosial banyak dari kalangan anak muda.

Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tingkat pengguna internet pada tahun 2020 mencapai 132 juta jiwa, sedangkan 100 juta di antaranya menggunakan telepon pintar dalam gengaman yang bisa diakses kapan saja. Sedangkan, merujuk pada data Kominfo, 30 juta anak-anak dan remaja di Indonesia merupakan pengguna internet. Di samping itu, data juga menyebutkan bahwa media digital saat ini menjadi pilihan utama saluran komunikasi yang digunakan anak muda.

Bagi kalangan anak muda, sebagian besar informasi yang mereka dapatkan di media sosial, kesadaran untuk melakukan konfirmasi terhadap setiap informasi yang didapat cenderung rendah. Studi yang dilakukan Stanford University pada 7.804 pelajar dari tingkat SMP hingga Perguruan Tinggi menemukan, bahwa mereka tak mampu mengevaluasi suatu informasi dengan detail. Sebab, mereka hanya fokus pada hal-hal yang nampak dalam berita seperti judul dan gambar, tanpa meneliti lebih jauh pada sumbernya.

Jadi melihat hasil data di atas, sangat besar potensi dikalangan anak muda yang terkena dampak hoaks. Apalagi, masa remaja merupakan masa yang mengalami gejolak psikologi dengan karakter yang masih labil, emosional tinggi yang tidak bisa dikontrol dan sangat mudah untuk terpengaruh. Sangat miris bukan, lalu apa yang bisa kita lakukan untuk menghindarkan anak muda dari berita hoaks ini?

Menyadari hal tersebut, membentengi anak muda dari berita hoaks itu hal yang paling strategis untuk mengedukasi masyarakat secara luas, agar lebih cerdas mengkonsumsi informasi di media sosial. Anak muda adalah generasi penerus bangsa yang menentukan kondisi bangsa di masa depan. Menjadi sangat penting mengedukasi para anak muda, agar bisa menjadi generasi cerdas yang bisa mencerna informasi dengan baik, sehingga tidak dapat terpengaruhi kabar-kabar yang menyesatkan.

Hal paling mendasar, yang harus dilakukan dengan cara orang tua mendidik anaknya agar lebih terbuka dalam bermedia, mencakup kemampuan mengakses, menganalisis, dan mengomunikasikan isi pesan dari sebuah berita atau konten dalam setiap informasi. Hal ini, bisa dilakukan oleh sekolah dengan melakukan berbagai pelatihan atau segala bentuk kegiatan yang bisa mengedukasi untuk melatih anak muda dalam mengakses, menilai, dan memanfaatkan informasi. Di samping itu, budaya literasi membaca dan menulis, harus terus ditumbuhkan dan dikembangkan di kalangan remaja dan anak-anak muda.

Meski informasi menyedihkan, tentang minimnya minat baca masyarakat kita, namun kita tetap harus memelihara optimisme, terlebih untuk anak muda. Ketika sebuah masyarakat memiliki budaya literasi yang baik, mereka tidak akan mudah terpengaruh oleh informasi sesat yang disebarkan media-media tidak bertanggung jawab. Sebab, budaya literasi yang kuat membuat orang terlatih untuk berfikir atau manalar dengan baik. Seperti kemampuan mencerna, menilai dan mengolah informasi yang didapatkan. Ini merupakan modal dasar yang harus ada dalam diri seseorang agar bisa terhindar dari bahaya berita hoaks.

Dengan demikian, mendidik remaja agar terbuka untuk bermedia berarti membentengi mereka dari bahaya informasi menyesatkan di media sosial. Di saat bersamaan, dalam konteks yang lebih luas, hal tersebut juga menjadi bagian penting dalam upaya membangun persatuan dan kesatuan bangsa di masa depan. Sebab, remaja yang sejak dini sudah dilatih untuk berfikir terbuka, akan tumbuh menjadi orang-orang yang bijak dalam menggunakan media dan berkomunikasi, sehingga tidak gegabah menerima berita hoaks yang bisa memantik pertikaian dan perpecahan dengan saudaranya sendiri.

Related posts
Berita

Amal Baik Tidak Menggugurkan Kewajiban Shalat

Shalat lima waktu adalah ibadah wajib bagi setiap Muslim. Printah ini mutlak sebagai bukti pengabdian hamba kepada Tuhannya, tak bisa digugurkan dengan…
BeritaKolomNasihat

Mencermati Warisan Kolonial di Masa Kini

Kolonialisme bukan sekadar menjadi persoalan masa lalu. Kemerdekaan secara de facto dan de jure yang telah disandang bangsa ini nyatanya bukan jaminan…
BeritaKolom

Wacana Kehadiran Massa PA 212 Harus Dibatalkan

Jelang sidang vonis Muhammad Rizieq Shihab (MRS), Kamis (26/06/21), Wakil Sekretaris Jendral PA 212, Novel Bamukmin mengklaim pihaknya tak memiliki wewenang untuk…

×
Kolom

Viralkan Ulama Moderat