Milenial Rentan Terpapar Radikalisme?

0
1
WhatsApp
Twitter

Belakangan ini, aksi teror di Indonesia mulai mengkhawatirkan. Hal ini diakibatkan karena keterlibatan para milenial dalam berbagai aksi teror, baik itu sebagai penyebar paham radikal melalui media sosial, maupun sebagai pelaku aksi bom bunuh diri. Salah satunya yang terjadi pada November tahun lalu, seorang laki-laki berusia 24 tahun melakukan aksi bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Lalu, benarkah milenial rentan terpapar radikalisme?

Radikalisme merupakan pemikiran dan gerakan yang menginginkan perubahan secara total dengan merubah nilai-nilai yang ada secara drastis melalui tindakan-timdakan ekstrem dan aksi kekerasan.

Sementara itu, milenial atau sering disebut generasi Y adalah sekelompok orang yang lahir pada kisaran tahun 1980 sampai 2000-an. Menurut riset yang dilakukan oleh lembaga Alvara Research Center mengatakan, bahwa pada 2020, generasi milenial akan mendominasi populasi di Indonesia dengan porsi sekitar 34%, diikuti oleh generasi X sebanyak 20%, dan generasi baby boomers sebanyak 13%.

Berdasarkan data riset tersebut, kita melihat bahwa milenial merupakan populasi yang mendominasi. Generasi milenial merupakan generasi emas yang menjadi aset bangsa Indonesia saat ini. Hal ini menjadi tantangan besar bagi Indonesia, jika generasi milenial rentan terpapar paham-paham radikal.

Hasil studi yang dilakukan oleh Boston Consulting Group (BCG) bersama University of Berkley tahun 2011 di Amerika Serikat tentang generasi milenial USA, yakni yang pertama, minat membaca secara konvensional kini sudah menurun, karena milenial lebih memilih membaca melalui smartphone. Kedua, milenial wajib memiliki akun sosial media sebagai alat komunikasi dan pusat informasi. Ketiga, milenial pasti lebih memiliki ponsel daripada tv. Terakhir, milenial menjadikan keluarga sebagai pusat pertimbangan dan pengambilan keputusan bagi mereka.

Menurut penulis yang juga termasuk dalam generasi milenial, hasil riset tersebut juga sesuai dengan kebiasaan para milenial yang ada di Indonesia. Generasi milenial merupakan generasi yang sangat akrab dengan berbagai teknologi. Arus informasi di media sosial yang sangat cepat, membuat kita sebagai generasi milenial, sering kesulitan dalam memilah informasi yang bermuatan paham radikal.

Kemudian, menurut psikolog sekaligus peneliti radikalisme, Arijani Lasmawati mengatakan, bahwa salah satu penyebab kaum milenial terpapar radikalisme ialah akibat penggunaan teknologi. Selain itu, tidak adanya pengaruh positif dari keluarga, juga menjadi penyebab. Adanya kelompok radikal yang menaungi kehidupan sehari-hari milenial, hadirnya berbagai doktrin dan bacaan bernafaskan radikalisme, keterbatasan akses politik, serta faktor ekonomi, semuanya bisa menjadi penyebab kaum milenial terpapar radikalisme.

Generasi milenial yang masih dalam proses mencari jati diri, memiliki semangat untuk megikuti dan masuk ke berbagai ruang lingkup. Apalagi, ketika baru menjadi seorang mahasiswa. Mereka pasti mencari kesibukan dengan cara mengikuti organisasi, baik itu organisasi yang ada di dalam kampus, maupun di luar kampus. Hal itulah yang kemudian menjadi momentum bagi kelompok-kelompok radikal untuk menjadikan mereka sebagai sasaran paling strategis untuk memperkuat gerakan radikalisme.

Dengan demikian, radikalisme dan milenial merupakan sesuatu yang sangat berdekatan. Milenial rentan terpapar paham-paham radikal, kapanpun dan di manapun itu. Bayangkan saja, smartphone yang digenggamnya setiap saat, ternyata di dalamnya banyak berisikan doktrin radikalisme. Bagaimana tidak, media sosialnya saja, semua isinya konten-konten yang menakutkan yang dikirim dari akun-akun kaum radikal. Kemudian, bacaan di media sosialnya, diperkuat karena mengikuti kajian yang dilakukan oleh kaum radikal di kampus. Maka dari itu, milenial memang rentan sekali terpapar radikalisme. Jadi, apakah kamu juga termasuk salah satu dari mereka?