Pengeboman di Surabaya pada tahun 2018 sangat menyanyat hati. Meledaknya bom tersebut terjadi di tiga tempat. Diantara, Gereja Santa Maria Tak Bercela, GKI Dipenogoro, Gereja Pantekosta. Ledakan bom terjadi dalam waktu berdekatan. Ironisnya, bom di gereja dilakukan oleh satu keluarga. Kekejian ini menyetak publik bahkan dunia. Sebabnya, menyertai anak-anak dalam melakukan hal bom bunuh diri tersebut.
Dalam dua dekade terakhir, Indonesia menjadi berita utama dalam pemberitaan serangan teroris. Jaringan teroris tersebut diduga terafiliasi dengan organisasi fundamentalis, seperti Al-Qaeda, ISIS. Hal ini menunjukkan, keberadaan kelompok muslim radikal yang berada di Indonesia. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Badan Nasional Penanggulan Terorisme (BNPT), sekitar 700 orang Indonesia melakukan perjalanan ke Suriah dan Irak untuk bergabung dalam perang.
Survei yang dilakukan oleh Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), pada tahun 2010 hingga 2011, mengungkapkan 50% pelajar setuju dengan tindakan radikal. Data tersebut menyebutkan bahwa 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak relevan lagi. Sementara 84,4% siswa dan 76,2% guru setuju dengan penerapan syariat Islam di Indonesia. Celakanya lagi, jumlah yang mengamini bahwa kekerasan atas nama agama mencapai 52,3% dan membenarkan serangan bom 14,2%. Dari ini kita harus waspada. Anak muda bangsa ini telah banyak terdoktrin untuk menjadi kader muslim radikal hingga menyuburkan kelompok fundamentalis untuk tetap eksis di Indonesia.
Sejarah Islam mencatat, dikenal adanya firqah yang bernama Khawarij. Kelompok ini muncul karena tidak sepakat terhadap tindakan tahkim (arbitrase) yang dipilih oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib dalam perang shiffin. Sayyidina Ali RA pun dibunuh oleh salah satu tokoh khawarij yang bernama Abdullah bin Muljam. Ia berdalih dengan menggunakan ayat Al-Quran bahwa Ali RA telah kafir dan darahnya halal dibunuh.
Ini adalah suatu bentuk melakukan pembunuhan mengatasnamakan agama dan dalil ayat Al-Quran. Di sisi lain, pemikirannya bermetamorfosis dalam bentuk firqoh. Sampai saat ini pun masih banyak ditemukan pemikiran fanatik, tekstual, dan fundamental sama sepertinya, kelompok ISIS, Al-Qaeda. Di Indonesia seperti, Jaringan Ashorut Daulah (JAD) yang dipimpin Aman Abdurrahman.
Wajah Islam yang moderat pun terus tergerus, terutama elemen bangsa Indonesia yang belum tertular virus membahayakan dari radikalisme atas nama agama. Konsep Islam Nusantara akan diuji dan diterapkan. Islam sebagai agama tidak pernah apalagi sepakat bahwa membunuh adalah suatu pembenaran. Oleh karena itu, tokoh-tokoh muslim Indonesia mengajak berbegai kalangan untuk mengedepankan sikap moderat (Washatiyyah), yakni cenderung bersikap inklusif, berpikiran terbuka, dan lebih mengutamakan isi dan substansi, serta mengobarkan kemajuan Islam hingga mewujudkan tatanan kehidupan yang harmonis dan rukung antar umat beragama, suku, dan ras.
Islam ramah dan santun harus selalu ditonjolkan di negeri ini. Karakter, model atau corak di Indonesia masih tetap menjadi dominan di mata dunia. Banyak kalangan mengakui, NU dan Muhammadiyah contohnya, telah menjadi refresentasi wajah moderasi Islam di Indonesia. NU memiliki doktrin moderatisme (tawasuth) dan toleransi (tasamuh).
Sedangkan Muhammdiyah mempunyai doktrin tauhid sosial dan amar maruf. Sejarah Wali Songo pun dapat diambil pelajaran yang menunjukan Islam ramah dalam berdakwah. Sebagai pendakwah yang mencerminkan Muslim Moderat pada masa penyebaran Islam abad ke-13 hingga abad 16. Oleh karena itu, sebagai umat Islam senantiasa mendepankan sikap moderatisme dalam kehidupan sehari-hari agar terhindar dari radikalisme yang dapat merusak kerukunan beragama, berbangsa, dan bernegara demi mewujudkankan perdamaian dunia.