Kita rindu sosok Bung Hatta, yang selama hidupnya hanya memikirkan dan menghibahkan dirinya untuk bangsa dan negara. Bung Hatta merupakan seorang yang mempunyai peran sentral bersama Bung Karno dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan, sekaligus sebagai proklamator pada 17 Agustus 1945 silam. Saat ini banyak orang yang menyimpang kehidupannya, sehingga tidak sesuai dengan keinginan dan tujuan cita-cita bernegara. Kita butuh sosok, seperti Bung Hatta.
Bung Hatta lahir di Bukittinggi 12 Agustus 1902 dari pasangan Muhammad Djamil dan Siti Saleha. Ia adalah Wakil Presiden pertama yang mendampingi Presiden Soekarno. Bung hatta merupakan sosok paling berjasa bagi Negeri ini, dia seorang negarawan dan nasionalis yang cerdas, dibuktikan dengan jasa-jasanya selama ini untuk Indonesia.
Bung Hatta juga tokoh Islam. Ia memahami Islam dengan melaksanakan syariat yang baik. Pedoman hidupnya selalu disandarkan pada ajaran Islam, baik pribadi maupun dalam kehidupan keluarga. Ia adalah seorang muslim sejati. Ia tidak radikal dalam membela Islam. Ia berjuang dalam mencapai cita-cita politik, ekonomi, sosial, dan diselaraskan dengan tuntutan Islam.
Ia juga mempunyai sifat negarawan yaitu selalu melakukan tugasnya dengan menjaga betul amanah yang diberikaan oleh rakyat, dan Ia selalu memisahkan kepentingan pribadi dengan kepentingan negara. Contohnya, Ketika Ia hendak menunaikan ibadah haji, tidak ada satu fasilitas negara yang dia gunakan untuk kepentingannya, semua fasilitas dia bayar sendiri.
Ada lagi yang harus kita contoh dari sosok Bung Hatta, yaitu dia selalu memisahkan kertas yang akan ditulis untuk pribadinya dengan kertas yang khusus digunakan untuk keperluan surat-menyurat Wakil Presiden. Selama hidupnya, Bung Hatta bahkan tidak bisa memenuhi keinginannya dalam membeli sepatu idamannya, bukan karena tidak mampu. Ia mempunyai uang, tapi uangnya selalu digunakan untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu orang-orang yang datang kepadanya karena meminta pertolongan.
Salah satu kalimat yang terkenal dari Bung Hatta yaitu “dia tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka”. Dia seorang yang mempunyai konsistensi tinggi, sehingga dia pun menikah setelah tiga bulan Indonesia merdeka dengan Ibu Rahmi, pada 18 November 1945. Bung Hatta memberi mas kawin sebuah buku, hal ini membuat Ia di juluki sebagai seorang yang mencintai ilmu dan istri.
Dalam buku Keteladanan Bung Hatta yang ditulis M. Sayuti Dt. Rajo Pangulu, menyebutkan, “Bung Hatta sosok yang patut diteladani. Sikap dan perilaku kehidupan keseharian dalam kata dan perbuatan selaras dengan ucapannya. Ia merupakan teladan berbangsa dan bernegara, taat beribadah, demokratis, pandai berorganisasi, penuh etika dan etiket, ilmuwan, ahli ekonomi, bapak koperasi, tertib, disiplin, tepat waktu, rapi, bersahaja, jujur, bersih, cerdas, pemikir, tenang, konsekuen, dan santun.”
Bung Hatta merupakan contoh teladan bagi generasi muda Indonesia. Pahlawan yang dicintai rakyatnya, dan sangat berjasa untuk negara ini, sehingga jasanya tidak dapat dilupakan. Generasi muda harus belajar tentang sifat-sifat yang dimiliki Bung Hatta. Dia lah yang membuat negara ini menjadi contoh-contoh negara lain. Sosok Bung Hatta mempunya sifat yang mulia dan harus kita contoh.