Kolom

Kesantunan Bermedia Sosial yang Kian Langka

2 Mins read

Riuhnya ruang media sosial telah menawarkan beragam informasi, yang tidak dipungkiri telah memosisikannya sebagai salah satu media komunikasi yang efektif. Dalam penyampaiannya, terlepas dari informasi yang sarat dengan manfaat, media sosial juga bisa menjadi nada-nada miring dan nyanyian usil dari para penggunannya. Di media sosial, twitter misalnya, baru-baru ini, ustadz Yusuf Mansur mengunggah foto dirinya yang sedang terbaring di tempat tidur salah satu rumah sakit dengan tulisan caption, “mohon doa buat saya”. Alih-alih meminta doa pada para pengguna di twitter, Ustadz Yusuf Mansur justru mendapati komentar negatif, sinis, dan tidak sedikit yang menghujat dirinya.

Kasus Ustadz Yusuf Mansur merupakan satu diantara banyak contoh para pengguna media sosial yang senang berkomentar dengan ujaran kebencian. Budaya komentar memang lebih popular di masyarakat saat ini. Selain ujaran kebencian, Persoalan lain menyangkut ruang media sosial yang tak kalah besar adalah perilaku bullying, saling nyinyir, saling fitnah, hingga hoaks bernuansa SARA yang merobek-robek persatuan anak bangsa.

Dalam fenomena tersebut, Saya jadi teringat dengan tulisan cendekiawan Muslim, abi Quraish Shihab dalam bukunya, Akhlak; yang Hilang Dari Kita. Menurut pengantarnya, ulama sepuh Nusantara itu menjelaskan bahwa moral yang diajarkan dan dipraktikkan oleh leluhur bangsa, demikian juga yang diajarkan oleh agama tidak lagi terlihat dalam kehidupan kita, termasuk kesantunan bermedia sosial.

Kritik yang dialamatkan pada setiap pengguna sosial media benar-benar terasa menusuk dan seharusnya menjadikan penyadaran bahwa etika, akhlak, dan sejenisnya telah lama kita abaikan. Ruang media sosial sekalipun sungguh sudah dipenuhi oleh hasrat buas, ujaran kebencian, hoaks, dan mematikan karakter orang lain. itulah kata yang tepat untuk mengungkapkan realitas kekinian kita.

Betapapun media sosial yang seharusnya dijadikan wahana untuk mempererat tali silaturahim, berbagi pengalaman, dan berita yang mencerahkan serta menyejukkan, justru digunakan secara ‘barbar’ oleh pihak yang tak bertanggung jawab. Dalam kondisi seperti itu, kesantunan dalam komunikasi melalui sosial media sangatlah dibutuhkan.

Di lain sisi, Islam mengajarkan dan membimbing pemeluknya untuk tidak berbuat buruk bagi sesama. Sebagaimana ditegaskan oleh Nabi Muhammad SAW, seorang Muslim adalah mereka yang tidak merugikan orang lain, baik melalui perkataan maupun perbuatannya. Dalam sebuah hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (194-256 H) ditegaskan bahwa ukuran kualitas keislaman seseorang dapat di lihat dari sikap dan perilakunya, yakni apakah ia mudah menyakiti sesama Muslim dengan lisan dan tangannya atau tidak.

Kesantunan bermedia sosial merupakan proses komunikasi. Dalam konteks ini, setiap individu sebetulnya mempunyai hak untuk menyampaikan keinginan, ide, dan gagasannya. Menurut Jurgen Habermas dalam bukunya, Theory of Communicative Action (1984) menyebut, proses ini sebagai laku diskursus dalam ruang publik (public sphere). Di mana setiap individu dimungkinkan untuk saling menawar apa yang diyakininya dalam mencari kebaikan bersama. Tetapi dengan catatan, proses ini berlangsung dengan nalar sehat dan bersandar pada etika.

Selain itu, dalam ayat lain juga ditegaskan pentingnya etika dalam bermedia sosial. Dengan tegas, Islam melarang umatnya untuk saling mengejek dan merendahkan orang lain, apalagi merasa paling benar. Kebiasaan untuk saling mengejek dan mengolok-olok orang lain, tidak lain akan memicu kebencian dan keterpecah-belahan umat. Meskipun berbeda cara pandang, penafsiran, dan pengamalan beribadah, selama itu tidak menyinggung masalah-masalah dasar agama, maka, sudah seharusnya kita bisa berhati-hati dan menahan diri.

Dari titik ini, kesantunan di media sosial terkhusus dalam memberikan komentar merupakan bagian dari etika bermedia sosial. Dengan berpegang pada sebuah prinsip kesantunan merupakan sebuah keniscayaan. Lantas, dengan merujuk pada apa yang diajarkan Islam dan Nabi Muhammad SAW siapkah kita membersihkan media sosial dari berbagai cacian dan makian serta santun terhadap sesama di media sosial?

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2024)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…

×
Kolom

Menangkal Hoaks di Media Sosial