Beberapa hari lagi, Negara Indonesia akan merayakan hari kemerdekaan-nya. Tepatnya 17 Agustus 2020, 75 tahun sudah Indonesia merdeka. Kemerdekaan yang kita raih dan kita rasakan saat ini bukanlah semata-mata tanpa perjuangan dan pengorbanan. Banyak pahlawan yang telah berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, dan kemerdekaan juga tidak terlepas dari peran para milenial pada masanya.
Sejarah mencatat dalam perjalanan bangsa Indonesia yang sangat panjang, serta penuh dengan tekanan dan himpitan yang beraneka ragam. Selama berabad-abad dijajah dan ditindas oleh kaum kolonial. Muncul peran pemuda, baik pada masa kebangkitan nasional hingga menjelang detik–detik proklamasi. Berbagai bendera kepemudaan lahir dan bergulir, bahkan mengusir para penjajah dengan berbagai organisasi, seperti persatuan pelajar STOVIA, Tri Koro Dharmo, Jong Islamiten Bond, Budi Utomo dan masih banyak yang lainya sampai tercetuslah Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.
Para pemuda pun turut andil dalam memerdekakan negara ini. Mereka semua menjadi “The Grand Old Man”, istilah Bung Karno “The Founding Father”, pendiri dan penggerak yang mampu merebut kemerdekaan. Tanpa pemuda, mustahil negeri ini merdeka. Demikian ungkapan kekaguman Bung karno terhadap generasi muda yang diabadikan oleh sejarah perjuangan bangsa.
Lalu, bagaimana dengan generasi milenial saat ini? Mereka seharusnya paham betul dengan kemerdekaan Indonesia. Karena mereka mempunyai peran aktif dalam melanjutkan perjuangan bangsa. Lantas, bagaimana pandangan mereka tentang kemerdekaan Indonesia?
Menurut peneliti, Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI Ibnu Nadzir Daraini, generasi sekarang mendefinisikan Kemerdekaan lebih pada hal-hal yang bebas, serta hal-hal kecil yang bisa dilakukan tanpa ada rasa takut. “Artinya, merdeka itu didefinisikan pada suatu kebebasan untuk berfikir dan bertindak tanpa memikirkan rasa takut. Kita bisa melakukan hal-hal yang kita inginkan”. Kata Ibnu Nadzir dalam diskusi di kantor Populi Center jalan Letjen S. Parman, Slipi, Jakarta Barat, Rabu (20/09). Hanya sayangnya, banyak remaja yang sekarang ini salah kaprah dan tidak memahami amanah yang berat ini, karena lemahnya pemahaman mereka terhadap Islam.
Dalam hal ini, Islam menganggap bahwa para pemuda-pemudi yang mereka miliki merupakan potensi yang ikut menentukan arah masa depan. Mudahnya, bila ingin melihat masa depan suatu bangsa, maka lihatlah kepada arah milenialnya. Pada masa Khulafaur Rasyidin, di luar konflik yang terjadi di antara mereka, para pemuda Islam saat ini benar-benar membuktikan bahwa mereka merupakan pemuda yang luar biasa, hingga Islam terus memimpin dunia selama 14 abad lamanya. Pemuda saat itu sadar betul akan beban yang mereka pikul.
Upaya memaknai kemerdekaan sepatutnya dilakukan generasi milenial dengan mengimitasi hasrat kaum muda dalam menggerakkan sejarah. Mereka bisa menunjukkan dengan membudayakan perangkat virtual secara bertanggung jawab. Generasi muda masa kini seyogianya memanfaatkan akun digital untuk menyatukan komunitas, menautkan emosi, mendewasakan mental, serta meredam problematika sosial. Instrumen virtual menjadi sarana membumikan pluralisme dan toleransi.
Dengan demikian, di samping sebagai ekspresi kebanggaan warga negara, media sosial juga diberdayakan sebagai instrumen pembangkit solidaritas nasional (national solidarity). Dalam konteks inilah, generasi milenial masa kini bisa ambil bagian, terutama dalam menebalkan budaya Indonesia menghadapi kultur global karena negara ini sudah merdeka.