Berita

Merdeka dari Terorisme

2 Mins read

Aksi terorisme yang terjadi di Indonesia pasca kemerdekaan, mulai dari pengeboman Bursa Efek Jakarta 2000, pengeboman di 38 gereja malam tahun baru 2000, Bom Bali I 2002, hingga Bom Polrestabes Medan 2019 lalu, adalah tindakan yang kejam dan tidak berperikemanusiaan. Lantas, bagaimana cara kita merdeka dari aksi terorisme?

Cikal bakal lahirnya aksi terorisme bersumber dari paham radikalisme, yang dipupuk oleh seorang dalang, yaitu orang berkepentingan yang ingin mengubah sistem sosial politik dengan memprovokasi wayang-wayangnya.

Dijabarkan di dalam revisi UU Nomor 15 Tahun 2003, terorisme didefinisikan sebagai perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas, menimbulkan korban yang bersifat massal, dan/atau menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek vital yang strategis, lingkungan hidup, fasilitas publik, atau fasilitas internasional dengan motif ideologi, politik, atau gangguan keamanan.

Lain organisasi lain strategi, penyebaran kelompok teroris Jamaah Ansharud Daulah (JAD) lebih masif dibandingkan Jamaah Islamiyah (JI). JAD meluncurkan strateginya secara struktural lewat media sosial, lain halnya JI yang lebih banyak bertindak di lapangan. Siapa pun secara tidak sadar kian mudah mengakses, bahkan terpengaruh pemahaman radikal tersebut.

Pelarangan aksi terorisme disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda “tidak halal bagi seorang Muslim menakut-nakuti Muslim lain” (HR Abu Daud dan Ahmad). Maka, perkataan Imam Samudra, dalang di balik Bom Bali yang menengarai pengeboman itu perintah Allah dan RasulNya adalah keliru. Menakut-nakuti saja tidak boleh, apalagi sampai membunuh.

Dengan demikian, tindak terorisme yang meresahkan banyak pihak harus ditiadakan. Orang-orang yang kesehariannya bersifat intoleran, fanatik, dan revolusioner wajib diluruskan.

Pertama, dengan mengenali dan memahami ilmu dengan benar. Hal ini berlaku bagi siapa saja, baik ilmu umum maupun ilmu agama, khususnya ilmu agama yang menjadi pondasi hidup bagi para pemeluknya.

Alangkah baiknya, apabila menguasai kedua ilmu tersebut agar memiliki kerangka berpikir yang seimbang, Terutama bagi kaum muda yang memiliki semangat belajar yang membara.

Bukan hanya mengenali ilmu yang dipelajari, memahami dan mendalaminya secara baik dan benar juga penting supaya terbentuk pemikiran yang teguh, kokoh dan kuat, serta tidak mudah digoyahkan.

Kedua, menjaga persatuan Indonesia. Kemajemukan yang pastinya kita temui di masyarakat Indonesia, seharusnya menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk bersikap toleran. Menjunjung tinggi kesatuan bangsa dengan cara saling tolong menolong dan merealisasikan semboyan negara, Bhinneka Tunggal Ika.

Ketiga, aktif melaporkan fenomena radikalisme dan aksi terorisme yang terjadi di lingkungan sekitar. Peran kita sebagai warga negara Indonesia sangat penting dalam menjaga keutuhan negara. Jika menjumpai paham radikalisme atau aksi terorisme, baik sedikit maupun banyak, baik kecil maupun besar, agar segera melapor dan berkonsultasi kepada yang berwenang atau tokoh masyarakat sekitar.

Merdeka dari terorisme, merdeka dari radikalisme, merdeka dari penjajahan. Sudah 75 tahun sejak Indonesia merdeka, jangan lagi ada penjajahan di antara kita, penjajahan pemikiran, pemahaman, bahkan ajaran, Sudah waktunya kita bangkit dari keterpurukan, memerdekakan Indonesia dari terorisme.

Related posts
BeritaDunia IslamKolom

Puasa Ibadah Istimewa

Tiba sudah kita di penghujung Sya’ban, umat Muslim pun akan menyambut gempita bulan Ramadhan yang di dalamnya puasa disyariatkan. Jika bulan Sya’ban…
Berita

MUI Kok Bela Ustadz Intoleran?

Dua petinggi Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengkritik keras keputusan PT Pelayaran Nasional Indonesia atau PT Pelni (Persero) terkait polemik daftar penceramah kegiatan…
Berita

Bela Rizieq Bukan Mati Syahid Tapi Mati Konyol

Penangkapan tersangka tindak pidana terorisme di dua tempat berbeda, yakni Bekasi dan Tangerang Selatan mengungkapkan fakta terbaru. Selain akan melakukan aksi teror di Sarana Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dan beberapa toko milik orang Tionghoa di wilayah DKI Jakarta. Kelompok teroris yang berisikan anggota FPI tersebut memiliki misi untuk membebaskan Rizieq dan ingin mati syahid.