Bulan Augustus, bangsa Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan ke-75 yang jatuh pada 17 Augustus 2020. Walaupun, tahun ini berbagai kegiatan dan perlombaan ditiadakan karena masih tingginya kasus wabah pandemi. Namun, upaya merawat dan mengokohkan rasa persatuan dan kesatuan antar anak bangsa harus terus kita jaga.
Di era perjuangan kemerdekaan, bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai ras, suku, agama, dan kepercayaan sadar untuk menanggalkan perbedaan. Keragaman bangsa Indonesia harus dijadikan sebagai titik tolak untuk bergandeng tangan saling bekerjasama. Hal ini tidak lain karena kemerdekaan berhasil diraih sebab didasari rasa persatuan.
Dalam konteks kekinian, semangat persatuan dan kesatuan ini perlu kita perteguh kembali. Tantangan pemerataan pembangunan, pendidikan, ekonomi, kesehatan dan keamanan harus dihadapi dengan mengokohkan persatuan bangsa. Jangan sampai bercerai-berai atupun saling jegal untuk meraih kekuasaan.
Terlebih, beberapa bulan ke depan kita akan menghadapi masa pemulihan (recovery) diakibatkan dampak wabah pandemi. Momentum inilah, seharusnya bangsa Indonesia Saling menopang, bergotong royong mengelola ukhuwah dan persatuan dalam kebhinekaan.
Dalam Islam, Allah swt menjadikan umat manusia beragam. Mulai dari jenis kelamin, suku, warna kulit, bahasa, status ekonomi, juga posisi di tengah masyarakat. Keberagaman ini adalah realita umat manusia. Karenanya, Perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya bertujuan untuk saling mengenal.
Dengan sangat indahnya, Nabi Muhammad saw mengumpamakan umatnya laksanana satu jasad. Jika ada salah satu bagian yang mengalami sakit, maka seluruh badan ikut merasakannya. Hal ini sebagaimana hadis shahih riwayat Imam Muslim (204-261 H) dalam kitab Shahih Muslim menerangkan, Perumpamaan orang-orang mukmin dalam jalinan cinta, kasih-sayang, dan persaudaraan mereka laksana satu tubuh, jika salah satu bagian tubuh itu merasa sakit, maka sekujur tubuh akan merasa sakit pula.
Hadis tersebut menegaskan, bahwa persatuan dan kesatuan antar sesama Muslim adalah sebuah keniscayaan. Antar sesama Muslim harus saling mencintai dan mengasihi. Ibarat satu jasad yang saling menopang. Di balik perbedaan bentuk dan fungsinya, setiap bagian tubuh sangatlah berguna bagi bagian yang lain. Demikian pula sesama saudara Muslim, kita juga harus mengejawantahkan nilai-nilai persatuan.
Dalam Islam, keteladanan Rasulullah Saw menekankan urgensi hubungan kasih sayang dengan sesama manusia. Karena itu, ukhuwah merupakan salah satu ajaran sentral dalam Islam. Secara garis besar, persaudaraan terbagi ke dalam tiga cakupan. Ketiganya ialah persaudaraan sesama Muslim (ukhuwwah islamiyyah), persaudaran sesama warga bangsa (ukhuwah wathaniyyah), dan persaudaraan (ukhuwwah basyariyyah). Istilah ukhuwwah islamiyyah menunjukkan makna persaudaraan antar sesama Muslim, tanpa melihat perbedaan warna kulit, bahasa, suku, bangsa dan kewarganegaraan. Pengikat persaudaraan ini adalah kesamaan keyakinan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Sedangkan ukhuwwah wathaniyyah dapat terlihat dari cara atau upaya yang dilakukan Rasulullah Saw ketika menyatukan karakteristik masyarakat Madinah yang heterogen. Rasulullah Saw membuat konstitusi berdasarkan konsensus dari berbagai kelompok dan suku. Konsensus yang disusun oleh Rasulullah saw itu dikenal dengan Piagam Madinah. Yakni undang-undang dasar yang mengikat anggota masyarakat Madinah. Perbedaan suku, golongan, agama dan kepercayaan tidak menjadi penghalang untuk bekerja sama menjaga keamanan bersama.
Mengenai ukhuwwah basyariyyah, al-Qur’an menyatakan bahwa semua manusia berasal dari satu keturunan, yaitu Adam dan Hawa. Dengan demikian, semua manusia adalah bersaudara, karena mereka memiliki asal-usul yang sama. Hingga kini, meskipun manusia mendiami lima benua yang berbeda, tetapi hakikatnya mereka adalah saudara. Sama-sama sebagai keturunan Adam dan Hawa. Karena faktor lingkungan hidup yang berbeda, mereka memiliki warna kulit, bahasa, dan budaya yang berbeda.
Dari titik ini, dapat kita pahami bahwa tiga bentuk persaudaran yang telah disinggung di atas, harus kita perkokoh lagi dalam momen peringatan kemerdekaan RI ke-75 ini. Bangsa Indonesia yang multi suku, ras, agama, dan antar golongan (SARA) harus dibingkai secara kokoh. Baik dalam bingkai ukhuwwah islamiyyah, ukhuwwah wathaniyyah, ataupun ukhuwah basyariyyah. Dengan ikatan ini, diharapkan segenap anak bangsa mampu menghadapi sejumlah tantangan guna mewujudkan kesejahteraan bersama.