Umat Islam menjadi mayoritas di Indonesia, tidak terlepas dari peran dakwah Wali Songo. Wali Songo adalah Sembilan wali tokoh penyebar Islam yang dakwahnya dapat diterima dengan baik dan mampu memikat hati masyarakat. Sejarawan KH. Agus Sunyoto dalam bukunya yang berjudul “ATLAS WALI SONGO”, telah mengungkapkan fakta secara ilmiah dan akademis bahwa: Wali Songo itu benar adanya dan bukan kisah fiktif atau mitos dalam perjalanan sejarah Islam di Nusantara.
Dalam menyebarkan agama Islam, Wali Songo menggunakan cara damai, memberikan kasih sayang dan bersikap lemah lembut, serta tanpa ada unsur paksaan. Akan tetapi, dengan cara merangkul semua kalangan.
Strategi dakwah para wali yaitu dalam dunia pesantren, diterapkan fiqhul ahkam untuk mengenal dan menerapkan norma-norma keislaman secara ketat dan mendalam, agar menjadi muslim yang taat dan konsekuen. Kemudian, dalam ranah masyarakat, diterapkan fiqhul dakwah yaituajaran agama diterapkan secara lentur, sesuai dengan kondisi masyarakat dan tingkat pendidikan mereka. Dan, yang tertinggi adalah fiqhul hikmah, di mana ajaran Islam bisa diterima oleh semua kalangan, dari mulai kalangan awam sampai kalangan bangsawan, termasuk diterima oleh kalangan rohaniawan Hindu dan Buddha serta kepercayaan lainnya.
Selain itu, ada beberapa strategi dakwah yang dilakukan oleh Wali Songo. Pertama yaitu, “Pengaruh Sufisme”. Sebuah karakter sufisme nusantara yang dikenalkan oleh para Wali Songo melalui pendekatan dakwah yang mampu memadukan Islam dengan lokalitas kebudayaan. Ajaran sufisme mendudukan Islam tidak sebagai elemen yang melakukan perubahan, tetapi kelanjutan kepercayaan lokal yang dihidupi dengan sinar Islam. Pendekatan inilah yang mampu menyedot perhatian masyarakat lokal untuk memeluk Islam dengan tanpa khawatir bisa menghilangkan identitas lokal.
Kedua yaitu, “Dakwah Lewat Asimilasi Pendidikan”. Sebuah usaha mengembangkan Pendidikan model dukuh, asrama, dan padepokan dalam bentuk pesantren-pesantren, pesulukan-pesulukan, peguron-peguron, juga model pendidikan masyarakat yang terbuka lewat langgar, tajuk, masjid-masjid, dan permainan anak-anak. Salah satu proses Islamisasi yang dilakukan Wali Songo melalui pendidikan adalah usaha memadukan lembaga pendidikan Syiwa Buddha yang disebut asrama atau dukuh yang diformat ulang sesuai ajaran Islam menjadi lembaga pendidikan Pondok Pesantren.
Ketiga yaitu, “Dakwah Lewat Seni dan Budaya”. Misalnya, pertunjukan wayang. Pertunjukan wayang merupakan pertunjukan ritual keagamaan masyarakat Jawa sebelum datangnya agama Islam. Karena pertunjukan wayang ini bersifat keagamaan, maka Wali Songo mengadakan pertunjukan wayang sebagai metode atau cara untuk menyebarkan agama Islam. Seiring berjalannya waktu, Wali Songo berdakwah tidak hanya melalui pertunjukan wayang, akan tetapi berkembang menjadi seni lukis, seni suara, seni musik, dan lain sebagainya. Wali Songo melakukan aktivitas dakwah melalui seni dan budaya karena masyarakat pada saat itu mayoritas menganut agama Hindu yang masih kental dengan adat dan budaya nenek moyangnya.
Habib Luthfi pernah menyampaikan bahwa: kondisi umat Muslim di Indonesia, kini tengah diuji karena adanya kelompok tertentu yang mengajarkan dan berdakwah dengan cara tidak baik, serta jauh dari kesan damai. Hal ini bertolak belakang dengan jalan dakwah yang dicontohkan Wali Songo.
Maka dari itu, dakwah yang dilakukan oleh Wali Songo, harus kita teruskan ditengah masyarakat saat ini. Baik di masjid-masjid maupun di dunia media sosial. Yaitu dakwah Islam yang lebih toleran, berakhlak, mendamaikan dan peduli terhadap sesama. Kita sebagai umat Islam, seyogyanya juga mengamalkan ajaran-ajaran Wali Songo yang bersadar kepada ajaran mulia Nabi Muhammad SAW untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.