Dakwah Mualaf Mencoreng Wajah Islam Rahmatan Lil’Alamin

0
1
WhatsApp
Twitter
Mualaf

Mendengar kabar bahwa sesorang telah memeluk agama Islam, menjadi kabar yang menggembirakan bagi kaum muslimin. Kegembiraan ini banyak diliput oleh media, hingga di media social, serentak mengucap syukur kerena bertambahnya saudara baru bagi kaum muslimin.

Sebagai mualaf, mereka diajarkan mengenal Allah SWT dan menyatakan sebagai Tuhan yang Esa. Tidak lupa mereka diajarkan berbagai sifat Nabi Muhammad SAW. Serta meneladani dari berbagai aspek.

Namun yang terjadi sekarang ini, banyak mualaf yang memberikan ceramah tanpa melalui pendidikan pesantren, sejatinya sebagai seorang pendakwah, setidaknya harus memiliki latar belakang keilmuan yang agama yang kuat, agar apa yang disampaikan kepada umat bisa dipertangung jawabkan.

Kita mengenal banyak mualaf yang menggeluti pada bidang dakwah, seperti Felix Siauw, Yahya Waloni, Irene Handono. Mereka memberikan ceramah dengan materi penuh semangat, sehingga membuat pendengar dakwah mereka terlena akan perjalanan menuju mualafnya.

Secara ensensi, mereka tidak layak disebut ustadz ataupun penceramah, pada umumnya mereka tidak memiliki rekam jejak sebagai akademisi pesantren, dimana diajarkan etika berdakwah dan juga menjaga tutur bahasa dalam berdakwah.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa Felix Siauw dan Yahya Waloni, sudah berdakwah hingga bertahun-tahun, mereka selalu menceritakan latar belakangnya sebelum pindah dan apa yang membuat mereka merasa nyaman dalam agama baru mereka.

Dari setiap dakwah mereka, terdengar sedikit tidak nyaman, karena selalu menjelek-jelekan agama yang dahulu mereka anut dan percayai. Apa yang mereka sampaikan membuat orang awam dalam beragama lebih memilih mengikuti pendapatnya, mempercayai dan merasa antusias terhadap cara dakwahnya yang seperti itu. Padahal, Islam melarang kita menjelek-jelekkan apa yang orang lain sembah.

Hal tersebut menimbulkan pandangan buruk dalam pandangan agama lain dalam menilai Islam, dimana Islam merupakan agama yang Rahamatan Lil Alamin, mengajak mereka dalam kebaikan tanpa harus menjelek-jelekan agama lain.

Seperti tertulis dalam piagam Madinah, Nabi Muhammad SAW menjamin keselamatan dan kedamaian setiap perbedaan kepercayaan yang dianut oleh kaum berada di Yatsrib (Madinah).

Para mualaf ini lebih mementingkan hawa nafsu mereka untuk menyampaikan sesuatu dalam dakwahnya, walaupun mereka tidak memikirkan apakah yang disampaikan membuat rugi sebuah kepercayaan dan membuat perpecahan dalam beragama.

Dakwah yang seperti ini tentu saja membuat umat Islam dipandang negatif oleh yang lain, seharusnya mereka lebih baik mendalami disiplin ilmu agama, seperti ilmu fiqih, nahwu shorof, tafsir dan lainnya. Karena masih banyak orang yang lebih pantas disebut Ustadz, yang selama hidupnya belajar agama, seperti Gus Miftah, Gus Nadirsyah Hosen dan lainnya.

Sebagai upaya merealisasikan Islam yang Rahmatan Lil Alamin, mualaf setidaknya harus memiliki latar belakang pendidikan agama Islam yang baik terlebih dulu, sebelum akhirnya terjun berdakwah, agar tidak mencoreng agama Islam yang cinta damai.