Sebagai penduduk negeri yang beriklim tropis dengan alam yang subur, tidak pernah terpikir sebelumnya tentang Kadal yang hidup bersembunyi di gurun. Namun, belakangan ini ramai dibicarakan perihal aksi dan reaksi mencolok sekelompok orang dengan ciri khas tertentu yang dilabeli sebagai kadrun, alias kadal gurun, sehingga fauna yang habitatnya jauh dari republik ini pun kini menjadi sensasi di negeri ini.
Kadrun atau kadal gurun yang sekarang tenar rupanya bukan hewan, dipakai sebagai istilah saja. Sempat viral karena sebuah cuplikan video seorang bapak bersorban yang mengatakan istilah Kadrun itu buatan PKI, seolah-olah kadrun itu telah lama eksis. Namun, seperti kabar ganjil lainnya, ternyata itu hoaks. Yang benar adalah istilah Kadrun memang baru muncul setelah Pilkada DKI 2012 dan mulai populer pasca Pilpres 2019.
Sebutan Kadrun berkonotasi negatif, berguna untuk menyebut mentalitas bercorak fanatik, emosional, dan merasa paling benar sendiri dalam beragama. Kaum ini biasanya mendukung dan mempromosikan ideologi transnasional, mengidentikkan agama Islam dengan budaya kearab-araban, sering unjuk diri dengan penampilan religius dalam aksi politis membawa sentimen agama. Secara khusus, Istilah Kadrun dilabelkan pada barisan orang bersampul agamis yang terlihat dikendalikan oleh kelompok politik untuk menarik simpati massa.
Meskipun penggunaan istilah-istilah kekinian seperti kadrun, cebong, dan kampret yang kerap dipakai untuk mengelompokan kawan dan lawan, dikhawatirkan mengarah pada polarisasi yang berkelanjutan. Namun, Denny Siregar, sosok pioneer dalam pendefinisian istilah Kadrun, mengatakan bahwa stigmatisasi dengan Istilah Kadrun diperlukan untuk memisahkan antara agama Islam dengan orang yang hanya memanfaatkan agama Islam untuk kepentingan kelompoknya supaya tidak ada kelompok apapun yang bisa mengatasnamakan agama untuk kepentingan sepihak.
Disebut kadrun atau tidak, individu dan gerombolan orang dengan ciri-ciri kadrun tersebut makin kesini makin jelas terlihat massanya, paling tidak melalui media, karena sering mengatasnamakan umat Islam, seolah-olah selalu mewakili agama Islam.
Padahal, sebagia besar Muslim di Indonesia tidak pernah sepaham dengan barisan ini, misalnya saja, klaim mewakili umat untuk memperjuangkan Khilafah. Sedangkan, berdasarkan hasil survey Persepsi NKRI vs Khilafah Bagi Millennial yang dilakukan IDN Research Institute tahun 2018, didapati 81,5% responden millenial tetap mendukung dan berpihak pada NKRI daripada Negara Khilafah.
Dibanding sebagai gejala keagamaan, Kadrun merupakan fenomena sosial-politik yang melibatkan sekelompok individu Muslim yang aktif melakukan gerakan yang sarat dengan muatan ideologis, seiring dengan wacana menguatnya gerakan Islam politik di Indonesia.
Kehadiran Kadrun di tengah masyarakat bukan hal remeh, karena selain cenderung mencoreng citra Islam, mereka aktif mempropagandakan Islamisme dan khilafah di negri ini. Berdasarkan hasil survei yang sama, sebanyak 19,5% kaum milennial menyatakan pro-khilafah. Angka ini terlihat kecil, tetapi potensinya untuk menjadi besar di tahun-tahun mendatang besar sekali.
Tipologi masyarakat yang kita hadapi sebagai Kadrun saat ini, tidak jauh berbeda dengan ‘Masyarakat Onta’ yang pernah ditulis Soekarno tahun 1940, yaitu Masyarakat muslim kurang maju yang mengidentikkan Islam sebatas pada benda-benda luar seperti wewangian, celak mata, sorban, jubah panjang dan tasbih. Gemar sekali dengan perkataan kafir. Mengkafirkan pengetahuan dan kecerdasan, mengkafirkan kemoderenan dan ke-uptodate-an pada zaman itu. Masyarakat jumud yang mau tetap kuno saja dan terbelakang.
Mendekati setengah abad setelahnya, yaitu pada tahun 1983, dikenal juga ‘Masyarakat Arabisme’ melalui gagasan Gus Dur tentang ‘Pribumsasi Islam’. Pada masa itu, tampak gejala masyarakat telah dilanda Arabisasi, yaitu proses mengidentifikasi diri dengan budaya Timur Tengah dalam kehidupan beragama umat Islam di Indonesia, yang menandakan ketercerabutan bangsa Indonesia dari akar budaya lokalnya.
Tipe masyarakat ala kadrun selalu menjadi perhatian para negarawan. Namun, seperti wacana dalam Judul tulisan ini, “Defisit Negarawan”, orang-orang yang mengelola masalah negara dengan kebijaksanaan dan kewibawaan, mengedepankan kepentingan bangsa Indonesia di atas kepentingan identitas kelompok, serta mengingatkan betapa pentingnya menjaga rasa kebangsaan, persatuan, dan kesatuan bangsa Indonesia, terasa semakin berkurang saja. Apalagi Saat beberapa tokoh yang diharapkan punya andil dalam menjaga kebangsaan layaknya negarawan malah ikut terlibat dalan aksi politis, serta nampak satu panggung bersama para tokoh anti NKRI.
Namun demikian, nalar Kadrun harus segera diputus. Umat Islam Indonesia, seperti yang sudah-sudah, harus terus berjalan bersama seluruh komponan Indonesia, menjaga keutuhan bangsa, dan memiliki wawasan kebangsaan yang sama. Para pendiri bangsa telah mewariskan berbagai kesepakatan yang dapat menjadi pengikat rasa kebangsaan kita, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Agar bangsa Indonesia dapat berbangga atas kemajemukan yang telah berlangsung sejak awal terbentuknya Negara ini. Mari berjuang ala Negarawan!
1 Comment