Nasihat

Bung Karno Panutan Kita

4 Mins read

Bung Karno seperti yang kita ketahui, ia adalah Pendiri Bangsa (founding father). Ia mendedikasikan seluruh hidupnya untuk rakyat, negara, dan agamanya. Hidupnya mesti menjadi inspirasi generasi milenial seperti kita. Kita bisa belajar dari perjuangan dan kesederhanaannya. Ia mesti menjadi teladan semua bangsa yang hidup di era digital saat ini. John F. Kennedy dalam pertemuannya dengan Bung Karno memuji, “President Sukarno. I admire you greatly. Like myself you have a searching, inquiring mind. You’ve read everything. You’re very well informed.”

Belakangan ini, gejolak pertikaian, cekcok, acap kali terjadi, baik secara verbal atau cuitan di sosmed. Dari berbagai kalangan: politisi, akademisi, petani, dan bahkan juga pedagang kecil-kecilan. Disebabkan, hanya karena berbeda, dalam pandangan suatu pilihan politik. Miris sekali.

Disisi lain, kelompok Islam ekstrem mulai massif, menggenjot perlawanan terhadap pemerintahan yang sah. Mengkampanyekan dan ingin mengubah Pancasila yang dianggapnya “thogut” menjadi “Khilafah” solusinya.

Menyaksikan hal demikian, kita mesti berseluncur pada beberapa dekade belakang. Bung Karno, presiden pertama Indonesia, pemimpin yang besar dan terkenal dengan kesederhanaannya itu pernah mengatakan dalam pidato terakhir kepresidenannya saat memperingati HUT RI tahun 1966, “Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sedjarah!” (Jas Merah).

Bung Karno adalah bapak besar revolusi. Siapa yang tidak mengenal sosok beliau? Dunia mengenalnya sebagai pemimpin yang diperhitungkan. Kita bisa menyaksikan bersama kebesarannya. Pemimpin suatu negara dunia ketiga yang keberadaannya tidak pernah dilirik, tapi sosok Bung Karno diperhitungkan.

Kedekatan Bung Karno dengan pemimpin-pemimpin besar, seperti John F. Kennedy, Nikita Khruschev, Mao Zedong, Kliment E. Voroshilov, dan lain sebagainya menjadi sejarah nyata, bahwa Bung Karno adalah pemimpin besar dan menjadi panutan tokoh-tokoh revolusi negara-negara dunia ketiga.

Namun, sayangnya dewasa ini, masyarakat Indonesia seperti lupa, atau bahkan tidak tahu sejarah, tentang bagaimana kejayaan Indonesia dan kebesaran pemimpin dan tokoh-tokoh revolusinya dulu dalam meraih kemerdekaan dari penjajah dan memepersatukan beberapa suku, ras, agama dan Bahasa menjadi satu kesatuan.

Pada tahun 2018, di Sampang Jawa Timur terjadi perkelahian antar dua orang, karena perbedaan pandangan tentang Pilpres dan berakhir kematian dari salah satunya. Jelas, tindakan demikian, bukanlah tindakan yang diharapkan Bung Karno, sebagai founding father terhadap keberlangsungan hidup masyarakatnya. Apalagi, perseteruan itu disebabkan permasalah perbedaan pandangan politik.

Hal serupa, dalam perbedaan politik, Bung Karno sendiri, pernah mengalaminya dengan Bung Hatta. Dua tokoh besar proklamasi ini yang orang-orang anggap sebagai pasangan sehati “dwi tunggal” pun, sejarah mencatat pernah terjadi dualisme diantara mereka. Namun, bagi mereka, perbedaan politik adalah bukan alasan untuk tidak saling menghormati dan menghargai lagi satu sama lain. Sifat kesatria demikianlah yang seharusnya kita dapat ambil dari Bung Karno, sebagai panutan dalam bersikap.

Dikesempatan lain, maraknya kelompok Islam ekstrem yang kerap memainkan isu menggulingkan pemerintahan yang sah dan menggantikannya dengan khalifah, dan mendirikan imperium khilafah sangat memprihatinkan. Mereka menganggap Pancasila “thogut” tidak sesuai dengan anjuran syari’at Islam yang sesuai Al-Quran dan Hadis.

Seperti yang terjadi pad, Ijtima’ Ulama tahun 2019 di Bogor. Yang menghasilkan beberapa poin, yang salah satunya: “Mewujudkan NKRI syariah yang berdasarkan Pancasila, sebagaimana termaktub dalam pembukaan dan batang tubuh UUD 1945 dengan prinsip ayat suci di atas ayat konstitusi agar diimplementasikan dalam kehidupan beragama berbangsa dan bernegara”.

Poin ini jelas bisa menimbulkan sentimental terhadap agama-agama lain yang ada di Indonesia. Sedangkan kita tahu, dalam sejarahnya, tidak hanya dari kalangan Muslim saja yang terlibat dalam memperjuangankan kemerdekaan Indonesia, tetapi juga dari kalangan agama-agama lain. Dan Pancasila sendiri, seperti Gus Dur dan Kiai-kiai NU sepakati, “Pancasila sudah islami”.

Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia sudah final. Pancasila dan UUD 45 juga, sudah menegaskan bahwa, “negara dan bangsa Indonesia bukan negara yang berdasarkan agama tertentu”. Lagi-lagi, kita mesti ingat, Kembali, pada Bung Karno dalam pidato kepresidenannya yang terakhir; “Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sedjarah!” (Jas Merah).

Dalam diri Bung Karno, seharusnya kita bisa menyelisik, betapa ia patut dijadikan sebagai pionir Indonesia. Walau, dalam pengakuannya Bung Karno tidak mau disebut sebagai pencetus Pancasila, namun harus kita sepakati bersama, Bung Karno adalah orang pertama yang melahirkan dan mengusulkan Pancasila sebagai dasar falsafah negara Indonesia yang merdeka dan berdaulat, pada pidatonya dalam sidang BPUPKI 1 Juni 1945.

Keliru besar, jika menganggap Pancasila tidak islami. Bung Karno sendiri, kita tidak bisa anggap, ia tidak mengerti Islam. Ia paham Islam, ia pun paham betul masyarakat Indonesia yang plural. Bung Karno dididik langsung oleh Guru Bangsa Hos Tjokrominoto. Yang notabenya adalah ketua Syarikat Islam (SI), organisasi Islam tertua. Ia pun menulis tentang isu-isu keislaman, sekumpulan surat-suratnya dengan A. Hassan berdiskusi tentang Islam selama dalam pengasingan di Ende.

Bisa saja, Bung Karno dulu, dengan kebesaran dan ketenarannya di mata masyarakat yang mencintainya, Indonesia dijadikan negara Islam. Tapi, Bung Karno bukan itu. Bung Karno dengan kehebatan dan kebesarannya tidak melihat dan mengedepankan satu golongan tertentu, ia melihat semuanya sama, “Indonesia”, yang mesti hidup rukun, gotong royong, dan merdeka. “Bhineka Tunggal Ika”.

Bukan dalam dua hal ini saja, Bung Karno dalam hidupnya dapat dijadikan sebagai panutan kita. Ada dan banyak hal-hal lain yang dapat kita teladani dari sosok Bung Besar ini. Seperti dalam kehidupannya saat menjadi Presiden yang tidak bergelimang harta, berjiwa sosial tinggi, dan juga dekat dengan rakyat. Diceritakan Muallif Nasution, sekretaris pribadinya, pada awal-awal penetapannya sebagai orang nomer satu di negara ini, “Di sela kesibukannya sehari-hari, Bung Karno tidak lupa untuk membaca surat-surat dari rakyat yang ditunjukan untuknya.”

Oleh sebabnya, menurut saya, kita sebagai masyarakat yang cinta bangsa dan negara. Sudah saatnya, kita Kembali mengkaji, menggali, melestarikan, dan menyebarluaskan sejarah dan nilai-nilai kebangsaan yang sudah Bung Karno dan tokoh-tokoh revolusi lainnya sepakati. Kita mesti, bisa berlaku seperti halnya Bung Karno, dalam berbangsa dan bernegara. Tidak melihat perbedaan pandangan politik, status, ras, budaya, agama, dan bahasa. Bung Karno berpesan kepada kita, “Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan.”

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Media Sosial, Sarana Dakwah Untuk Milenial

Seiring berkembangnya sains dan teknologi, perilaku manusia pun ikut berubah. Masyarakat kini lebih sering menghabiskan waktu berinteraksi dengan orang lain secara daring…
Nasihat

Apakah Potensi Kesalihan Perempuan Lebih Rendah dari Laki-laki?

Ada riwayat hadis yang sekilas menyatakan bahwa hanya sedikit perempuan yang mencapai ‘kesempurnaan’. Ada banyak pria yang mencapai kesempurnaan, dan tidak ada yang sempurna di antara wanita kecuali Asiyah, istri Firaun, dan Maryam, putri ‘Imran (HR. Bukhari, no. 3230). Pemahaman yang salah kaprah mengklaim bahwa, menurut Islam kemampuan ‘agama’ wanita lebih rendah daripada pria. Sebab, hanya ada empat dari sekian banyak wanita yang mencapai status moral sempurna. Hal demikian merupakan kesalahpahaman yang tragis, sekaligus penyalahgunaan perkataan Nabi SAW.
Dunia IslamKolomNasihat

Ajaran Toleransi Melalui Masjid

Masjid merupakan bagian sentral Muslim dalam melakukan peribadatan sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Akan tetapi, masjid tidak hanya difungsikan sebagai…