Jika saja ada kesempatan menjawab pertanyaan, siapa ulama Indonesia yang ingin Anda belajar Islam kepadanya? Maka akan saya jawab, Prof. Dr. M. Quraish shihab, atau lebih akrab dipanggil ‘Abi’, mufassir terkemuka, pemilik tafsir Al-Misbah. Membuat saya bangga dan beruntung bisa hidup semasa dengannya.
Mungkin tidak hanya saya, pastinya Anda punya ulama idola juga, yang Anda sendiri berharap bisa belajar Islam kepadanya langsung. Belajar memahami Islam secara mendalam agar tak salah jalan. Atau sekadar hanya ingin dekat dengannya agar ikut tertular kecerdasan dan akhlak baiknya.
Abi dikenal sebagai sosok ulama yang produktif. Di sela-sela kesibukannya sebagai Duta Besar Indonesia untuk Mesir, saat itu dibuat olehnya sebuah karya fenomenal yaitu Tafsir Al-Misabah. Tak sampai di situ, kecintaannya pada ilmu terus membuatnya berkarya, hingga berjibun lembaran dihiasai oleh pemikirannya. Saat ini, Abi juga cukup aktif mengisi konten di Youtube chanelnya “Quraish Shihab”.
Berorientasi pada kajian Islam, khususnya dalam bidang tafsir. Persembahan kata yang ada dalam karyanya, merupakan hasil ijtihad. Sebagai bukti kepeduliannya terhadap kompleksnya permasalahaan yang dihadapi umat, khususnya di Indonesia. Melalui kacamata Al-Qur’an.
Sebenarnya, jawaban yang ditawarkan sebagai solusi sudah ditata, berdasarkan multi sudut pandang keilmuan, dan disesuaikan atas keragaman situasi masyarakat menuju kemaslahatan. Mestinya ini cukup menjadi alternatif menemukan solusi, setidaknya dalam persoalan agama.
Namun, nihil rasanya ketika ingin memuaskan anggapan publik, karena tak akan ada habisnya. Sebabnya tidak heran, jika masih banyak masyarakat memilih tokoh atau ustadz yang menggampangkan hal-hal yang menjadi kepuasan publik. Begitupun, AbI Quraish tidak menganggap semua pendapatnya adalah benar. Baginya tidak masalah, jika ada perbedaan sudut pandang, selagi masih sejalan dengan syariat dan sama-sama membawa kemaslahatan.
Pada dasarnya setiap ulama mempunyai keunggulannya masing-masing dalam memberikan teladan, dan patut dijadikan contoh agar bisa menginspirasi dan mengambil kebaikan darinya. Dan salah satu ulama tersebut adalah Abi Quraish.
Jalan terbaik, dari banyak jalan adalah jalan yang paling dekat dengan kemaslahatan. Apa yang dikenalkan Islam wasathiyah atau Islam moderat.
Menurut Abi, ada tiga hal yang perlu diperhatikan supaya menjadi Islam wasathiyah. Pertama, memiliki pengetahua. Seseorang harus memiliki pengetahuan agar mampu bersikap wasathiyah atau moderat. Karena untuk bisa memahami situasi dan mempertimbangkan hal-hal yang akan menjadi keputusan, butuh pengetahuan yang mendukung, baik lewat pengalaman pribadi, pengetahuan teori maupun lain sebagainya. Itu sebabnya seseorang harus mau belajar.
Memang, pengetahuan adalah bekal manusia yang tak akan pernah ada habisnya menjalani kehidupan. Oleh karenanya, mengetahui, bukan berarti kita bisa lepas dari nasib yang buruk. Tapi setidaknya, dengan pengetahuan seseorang mampu berpikir utuk mencegah keadaan tersebut dan menemukan jalan terang.
Kedua, mengganti emosi keagamaan dengan cinta agama. Misalnya, mereka yang menggebu-gebu dalam beragama akan mudah memandang sebelah mata terhadap yang lalai atau biasa-biasa saja ibadahnya. Atau masih beranggapan, bahwa dengan sering bolak-balik pergi haji ke Tanah Suci, pasti mulia dan pantas masuk surga, sebagaimana dijelaskan hadis-hadis sahih.
Lain halnya mereka yang beribadah karena cinta agama. Kendatipun diberi kemampuan untuk pergi sesering mungkin, ia lebih memilih membagikan rezekinya kepada yang lebih membutuhkan. Karena hal itu lebih bermanfaat dan dapat meringankan beban saudara.
Benar adanya dalam hadis, hanya saja yang perlu dicatat, kita hidup di dunia yang penuh fatamorgana, kita tidak pernah tau amal sekecil apa yang mampu mendatangkan rahmat Tuhan. Inilah bedanya emosi agama dan cinta agama. Ia mengetahui prioritas, dan memilih jalan yang lebih dekat dengan banyak kemaslahatan. Begitupun tingkat ketakwaan seseorang hanya Allah Swt. yang mengetahui.
Ketiga, selalu berhati-hati. Langkah anak cucu Adam selalu diikuti oleh setan, walaupun sedang berkegiatan positif tak ada yang kuasa menghentikan setan menggoda manusia. Karenanya jangan ceroboh dan mintalah untuk selalu dalam lindungan Allah SWT.
Pandangan di atas merupakan tips dari Abi Quraish supaya kita bersikap moderat. Mereka yang masih berat sebelah, pemahaman Islamnya terlalu ke kanan dan ke kiri, sebetulnya belum bisa utuh melihat multi-sudut pandang. Karenanya, akan kesulitan untuk toleran terhadap perbedaan.
Sebagai sosok yang masuk dalam keturunan Nabi dan Arab, alih-alih tidak menjadikannya, seperti orang yang ingin Islam dengan gaya kearab-araban seperti tren paham Islam masa kini. Kecintaan agama dan keilmuan yang ditanamkan oleh orang tua Abi Quraish menumbuhkannya sebagai tokoh Islam yang nasionalis. Pakaiannya sederhana, baju batik dan koko, seperti ustadz pada umunya, dan senang memakai peci hitam ala santri Nusantara.
Baginya, perbedaan adalah rahmat Tuhan. Dan Indonesia, mempunyai ciri khas tersendiri dalam mengeskpresikan keagamaan dan sikap nasionalismenya, terkecuali ada syariat tertentu yang harus sesuai tuntunannya.
Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamain, bukan lil ‘arab. Yaitu agama rahmat bagi seluruh alam, bukan saja rahmat bagi orang-orang Arab. Jadi sudah cukup sampai di sini saja, Islam ala kearab-arabannya. Masyarakat Indonesia, berbanggalah dengan pakaian kebayanya, sarung cap gajah duduk, dan mudik saat menjelang lebaran.
Meski, tidak melulu serasi antara agama dengan nasionalisme. Kiranya, lagi-lagi kita harus melirik kemaslahatan masyarakat supaya tak terlalu jauh melangkah, sehingga mengabaikan ajaran agama Islam. Sikap demikian, lebih toleran dan terkendali. Bebas, tapi tak melampaui batas.
Dalam Al-Qur’an disebutkan ”Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka.” Surat Ar-Rad ayat 11. Dengan kata lain, mari menjadi Muslim yang produktif, moderat dan nasionalis.
1 Comment