Soekarno seorang proklamator ulung yang namanya banyak tertulis di dalam buku-buku sejarah. Selalu ada hal yang menarik untuk dibahas dari Presiden pertama Indonesia ini. Salah satunya adalah pandangannya terhadap Islam. Karena ia adalah seorang Muslim, Bung Karno memiliki beberapa pandangan Islam yang menarik untuk dibahas dan dipelajari.
Sejak muda, Bung Karno senantiasa mengikutsertakan tentang pemikiran Islam. Pada tahun 1927, Soekarno sudah menulis buku yang berjudul Di bawah Bendera Revolusi Jilid I. Soekarno berpandangan, bahwa tiada halangan bahwa Umat Islam dapat bekerja sama dengan kaum Nasionalisme dan Marxis untuk menghadapai musuh bersama, yakni kolonialisme dan imperialisme.
Gagasan keislaman Soekarno banyak dipengaruhi oleh gurunya HOS Tjokroaminoto yang saat itu ternama sebagai orator ulung dan pemimpin Sarekat Islam (SI). Ketika di Surabaya, Soekarno mulai ikut dalam pergerakan Islam dan lebih banyak mengenal Islam dari ceramah KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah.
Pemikiran Islam Bung Karno berorientasi pada kemajuan. Hal ini dapat dilihat bagaimana ia dapat mempertemukan antara ajaran Islam yang berupa ritual keagamaan dengan keilmuan modern hingga Islam menjadi maju dengan cara bersinergi dengan pemikiran modern yang berkembang.
Umat Islam telah mengalami ketertinggalan yang amat jauh dengan tradisi pemikiran Barat. Oleh karena itulah, seorang Muslim wajib untuk mengejar ketertinggalan dan membangun keilmuan dan masa depan menjadi lebih baik lagi. Inilah gagasan pemikiran Soekarno yang progresif dan menginginkan kemajuan umat Islam hingga tidak kalah dengan kemajuan yang telah dilakukan dunia Barat.
Ketika Bung Karno berada di Endeh, ia saling mengirim surat kepada A.Hasan, Guru “Persatuan Islam” yang berada di Bandung. Dalam suratnya, ia banyak mendiskusikan tentang kegundahanya melihat pemikiran umat Islam ketika itu, yang selalu bertaklid atau mengikuti pendapat-pendapat yang telah ada. Seorang Muslim hendaknya ia memiliki pendapat sendiri dengan tidak perlu bertaklid yang mematikan kreativitas dan akal budi manusia hingga mengakibatkan kemunduran umat Islam. Dan kalangan Islam yang gemar sekali melontarkan kata-kata “kafir” sebagai refleksi ketidaksukaan kepada kaum non-Islam. Padahal pada realitasnya hal itu justru menampakkan sikap yang keterbelakangan dan anti-kemajuan. Dari proses surat-menyuratnya inilah dikumpulkan menjadi buku yang berjudul “Islam Sontoloyo”.
Dari sinilah kita dapat menilai bahwa Soekarno seorang tokoh Nasionalis-Regilius, pemikirannya yang sangat progresif pada kemajuan umat Islam dalam segi pemikiran agar tidak terbelenggu pada pemikiran taklid yang mengakibatkan kemunduran umat Islam. Maka dari itulah, kita dapat mempelajari Islam dari Bung Karno sebagai tokoh Revolusi yang memiliki pemikiran berkemajuan hingga meninggalkan doktrin-doktrin agama yang membuat kita menjadi umat yang keterbelakang.